Cahaya

Hakikat Rida Allah sebagai Pelabuhan Akhir

Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, sering kali kita terjebak pada keinginan untuk diakui dan dipuji oleh sesama. Namun, Aa Gym dalam kajiannya mengingatkan bahwa pujian manusia hanyalah fatamorgana yang tidak akan memberikan ketenangan hakiki. Bagi Sahabat MQ, fokus utama dalam setiap tarikan napas dan amal perbuatan seharusnya hanyalah rida Allah. Jika Sang Khalik sudah rida, maka tidak akan ada ruginya bagi kita meskipun seluruh dunia tidak mengenal atau bahkan memandang sebelah mata.

Mengejar rida Allah berarti kita belajar untuk ikhlas, yakni memurnikan niat hanya karena-Nya semata. Allah Swt. menegaskan pentingnya keikhlasan ini dalam Al-Qur’an Surah Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.

Ketika Sahabat MQ menjadikan rida Allah sebagai standar kebahagiaan, maka kita akan merasa merdeka dari tekanan sosial. Kita tidak lagi merasa terbebani untuk tampil sempurna di mata manusia atau merasa sedih saat kebaikan kita tidak dihargai. Hati akan merasa cukup dengan pengetahuan bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala niat tulus yang kita sembunyikan di balik setiap amal saleh.

Bahaya Tersembunyi di Balik Pujian Manusia

Pujian manusia sering kali menjadi ujian yang lebih berat daripada cacian, karena ia dapat menimbulkan penyakit hati seperti riya (pamer) dan sum’ah (ingin didengar). Aa Gym sering menganalogikan pujian seperti “angin” yang bisa membuat kita melayang namun juga bisa menjatuhkan jika kita terbuai. Sahabat MQ perlu menyadari bahwa pujian orang lain sebenarnya hanyalah tanda bahwa Allah masih menutupi aib dan kekurangan kita dari pandangan mereka.

Rasulullah saw. sangat mewanti-wanti umatnya agar tidak terjebak dalam riya, yang beliau sebut sebagai syirik kecil. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ

Artinya: “Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya (pamer).” (HR. Ahmad).

Oleh karena itu, saat ada orang yang memuji, Sahabat MQ diajak untuk segera mengembalikan pujian tersebut kepada Allah. Jangan sampai kita merasa memiliki kehebatan tersebut, karena pada hakikatnya semua kecemerlangan ide atau kebaikan perilaku adalah titipan-Nya. Dengan tetap rendah hati, kita akan terjaga dari sifat sombong yang bisa menghapuskan pahala amal yang telah kita bangun dengan susah payah.

Strategi Menjaga Istikamah dalam Mengabdi

Menjaga niat agar tetap lurus hanya kepada Allah memerlukan latihan yang istikamah dan terus-menerus. Sahabat MQ bisa melatihnya dengan memperbanyak amal-amal rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah Swt. Misalnya, bersedekah secara sembunyi-sembunyi atau bangun di sepertiga malam untuk bermunajat. Amal-amal sunyi inilah yang akan menjadi “akar” kuat yang menjaga pohon keimanan kita agar tidak tumbang saat diterpa badai pujian maupun cercaan.

Jika kita melakukan segala sesuatu demi Allah, maka hasil akhirnya tidak akan pernah mengecewakan. Hal ini sejalan dengan kaidah yang disampaikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Lail ayat 19-21 mengenai orang yang bertakwa:

وَمَا لِاَحَدٍ عِنْدَهٗ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزٰىٓۙ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْاَعْلٰىۚ وَلَسَوْفَ يَرْضٰى

Artinya: Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas, tetapi (ia memberikan itu semata-mata) karena mencari rida Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan (rida).

Mari kita jadikan setiap aktivitas harian sebagai sarana untuk mengetuk pintu rida-Nya. Tidak perlu risau dengan komentar manusia, karena mereka tidak memegang kunci surga maupun neraka. Dengan memfokuskan pandangan hanya kepada rida Ilahi, Sahabat MQ akan dapati hidup menjadi jauh lebih ringan, tenang, dan penuh dengan keberkahan yang tak terduga.