Hati sebagai Pusat Kendali
Sahabat MQ Kualitas lahiriah manusia sangat bergantung pada kondisi batiniahnya, ibarat sebuah pohon, hati adalah akarnya sedangkan perbuatan adalah buahnya. Jika hati dipenuhi oleh penyakit seperti sombong, dengki, dan riya, maka perilaku yang muncul pun akan jauh dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, menjaga kesehatan ruhani menjadi hal yang jauh lebih krusial dibandingkan sekadar memoles penampilan fisik.
Rasulullah SAW telah memberikan peringatan tentang pentingnya menjaga hati:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh itu. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ingatlah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim).
Sahabat MQ Dalam perjalanan spiritual manusia, memahami hubungan antara pikiran, akal, nafsu, hati, dan ruh adalah kunci untuk mencapai kesadaran hakiki. Pikiran merupakan sumber ilmu pengetahuan yang dapat mencerahkan hati, sementara akal menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya. Nafsu hadir sebagai tantangan yang harus dikendalikan, sedangkan hati menjadi pusat keputusan moral dan spiritual. Ruh, sebagai esensi kehidupan, berfungsi menghidupkan hati agar selalu berada dalam kebenaran.
Bahaya Kesombongan dalam Beramal
Penyakit hati yang paling halus namun sangat mematikan adalah kesombongan. Sahabat MQ, merasa diri lebih baik dari orang lain bisa menghapus pahala amal yang telah kita kumpulkan dengan susah payah. Kesombongan sering kali muncul ketika seseorang merasa memiliki kelebihan, baik itu berupa harta, ilmu, maupun kedudukan. Padahal, semua yang ada pada diri kita hanyalah titipan yang bisa diambil kembali oleh Sang Pemilik kapan saja.
Allah SWT sangat membenci hamba-Nya yang bersikap angkuh, sebagaimana firman-Nya:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18). Sahabat MQ, rendah hati adalah jalan menuju kemuliaan yang sesungguhnya.
Sahabat MQ Sombong merupakan watak dan sifat manusia yang merasa agung atau mengagungkan dirinya sendiri serta menganggap rendah dan kurang yang lainnya. Meski sifat sombong merupakan fitrah yang sudah muncul sejak manusia lahir, akan tetapi ada baiknya seorang manusia diajarkan tentang adab dan tata krama, seperti bersikap tawadhu (rendah diri), saling menerima dan memaafkan. Sifat sombong juga biasanya disertai dengan sifat riya (pamer), karena merasa dirinya lebih dari segalanya. Padahal dalam Islam, riya masuk dalam musyrik kecil. Kenapa bisa musyrik, karena setiap kelebihan yang sejatinya dari Allah, akan tetapi malah diakuisisi secara sepihak oleh manusia itu sendiri. Jika ia mengingat Tuhannya sebagai pemilik segalanya, maka ia tidak akan sombong dan riya.
Allah swt berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. ” (QS Luqman : 18).
Rasulullah saw juga pernah bersabda yang artinya, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim).
Zikir sebagai Peredam Nafsu
Untuk melawan dorongan nafsu yang buruk, kita memerlukan benteng yang kuat, dan zikir adalah solusinya. Sahabat MQ, dengan senantiasa membasahi lisan dengan asma Allah, hati akan menjadi lebih tenang dan waspada terhadap bisikan-bisikan setan. Zikir yang dilakukan dengan penuh penghayatan mampu menahan diri kita dari keinginan untuk berkata kasar atau berbuat zalim kepada orang lain.
Sebuah wasiat indah dari Rasulullah SAW berbunyi:
لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
Artinya: “Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi). Marilah kita rutinkan zikir di setiap waktu agar Allah senantiasa membimbing setiap langkah dan perkataan kita menjadi lebih baik.