MQFMNETWORK.COM | Berbagai indikator ekonomi nasional menunjukkan tren yang relatif positif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen, inflasi disebut terkendali, dan aktivitas ekonomi terus bergerak di tengah tekanan global.
Namun dibalik angka-angka tersebut, suara masyarakat justru menunjukkan situasi yang berbeda. Keluhan soal mahalnya kebutuhan pokok, sulitnya mencari pekerjaan layak, hingga penghasilan yang terasa semakin tidak cukup terus bermunculan.
Fenomena inilah yang mulai disebut banyak pihak sebagai “anomali ekonomi negeri”, ketika statistik ekonomi terlihat tumbuh, tetapi masyarakat justru merasa tekanan hidup semakin nyata.
Ketimpangan antara Data dan Realitas
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance, Eko Listiyanto, menilai kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara capaian makroekonomi dan kondisi ekonomi masyarakat sehari-hari.
Dalam pembahasan pada program Segmen Sudut Pandang, ia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga. Namun ketika daya beli masyarakat melemah, pertumbuhan tersebut menjadi tidak sepenuhnya terasa.
Menurutnya, masyarakat saat ini menghadapi tekanan biaya hidup yang terus meningkat, sementara kenaikan pendapatan berjalan lebih lambat. Situasi ini membuat banyak rumah tangga merasa kondisi ekonominya tidak benar-benar membaik meskipun pertumbuhan ekonomi nasional tetap positif.
Ia menilai ukuran keberhasilan ekonomi tidak cukup hanya berdasarkan angka statistik, tetapi juga harus dilihat dari kemampuan masyarakat mempertahankan kualitas hidupnya.
Daya Beli Masyarakat Menjadi Sorotan
Salah satu persoalan yang paling dirasakan masyarakat adalah melemahnya daya beli. Harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik membuat pengeluaran rumah tangga semakin besar.
Mulai dari bahan pangan, biaya pendidikan, transportasi, hingga kebutuhan harian lainnya dinilai semakin membebani masyarakat. Di sisi lain, pendapatan sebagian besar pekerja dinilai belum mengalami peningkatan yang signifikan.
Eko Listiyanto menyoroti bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga saat ini cenderung melambat dibanding pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini menunjukkan masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya akibat tekanan ekonomi yang dirasakan.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya berkualitas dan merata.
Lapangan Kerja Bertambah, Tapi Belum Menenangkan
Persoalan lain yang turut memperkuat keresahan masyarakat adalah kondisi lapangan kerja. Meski angka pengangguran terbuka menunjukkan penurunan, banyak pekerjaan yang tersedia dinilai belum memberikan rasa aman finansial.
Sebagian besar pekerjaan baru masih berada di sektor informal atau pekerjaan dengan tingkat pendapatan rendah. Banyak pekerja muda juga menghadapi ketidakpastian karier akibat sistem kontrak jangka pendek dan minimnya perlindungan kerja.
Institute for Development of Economics and Finance menilai kualitas pekerjaan menjadi tantangan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini. Ketika masyarakat bekerja tetapi tetap sulit memenuhi kebutuhan hidup secara layak, maka pertumbuhan ekonomi belum benar-benar menciptakan kesejahteraan.
Selain itu, muncul persoalan mismatch antara kebutuhan industri dan kemampuan tenaga kerja. Banyak lulusan muda akhirnya bekerja di sektor yang tidak sesuai dengan bidang pendidikan mereka.
Pertumbuhan Dinilai Belum Inklusif
Sejumlah ekonom menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cenderung terkonsentrasi di sektor tertentu dan belum menyebar secara merata ke seluruh lapisan masyarakat.
Kelompok masyarakat kelas menengah dan bawah dinilai menjadi pihak yang paling merasakan tekanan biaya hidup. Sementara manfaat pertumbuhan lebih banyak dirasakan oleh kelompok yang memiliki akses ekonomi lebih kuat.
Eko Listiyanto menilai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas seharusnya mampu memperkuat daya beli masyarakat, menciptakan pekerjaan produktif, dan meningkatkan distribusi pendapatan secara lebih merata.
Jika pertumbuhan hanya terlihat baik dari sisi angka tanpa memperbaiki kesejahteraan masyarakat luas, maka ketimpangan persepsi terhadap kondisi ekonomi akan semakin besar.
Tantangan Ekonomi Domestik Masih Berat
Indonesia juga masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi domestik yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Ketergantungan impor bahan baku, tekanan harga pangan, serta perlambatan sektor manufaktur menjadi beberapa persoalan yang dinilai perlu segera dibenahi.
Padahal, sektor manufaktur memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Menurut Eko Listiyanto, penguatan sektor produktif menjadi penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada konsumsi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.
Selain itu, stabilitas harga kebutuhan pokok juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat.
Peluang Ekonomi Tetap Ada
Meski menghadapi berbagai tekanan, peluang ekonomi Indonesia tetap dinilai cukup besar. Jumlah penduduk produktif yang tinggi dan pasar domestik yang luas menjadi modal penting untuk pertumbuhan jangka panjang.
Namun, peluang tersebut perlu didukung kebijakan yang lebih fokus pada kesejahteraan masyarakat. Penguatan industri nasional, penciptaan pekerjaan layak, serta perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi beberapa hal yang dinilai harus menjadi prioritas.
Eko Listiyanto menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang sehat seharusnya mampu menghadirkan rasa aman finansial bagi masyarakat, bukan sekadar menghasilkan angka statistik yang terlihat baik di atas kertas.
Ekonomi yang Dirasakan Masyarakat
Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi bukan hanya soal seberapa tinggi angka pertumbuhan nasional. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan, khawatir terhadap pekerjaan, dan merasa penghasilannya terus tergerus, maka pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menjawab persoalan utama.
Fenomena “anomali ekonomi negeri” menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya bukan hanya tentang statistik, tetapi tentang kualitas hidup masyarakat yang nyata dan dirasakan bersama.