pria

Di era digital yang serba cepat ini, setiap pasang mata manusia seolah dipaksa untuk terus menatap layar gawai tanpa henti. Aktivitas menggulir beranda media sosial (scrolling) telah menjadi rutinitas harian yang dilakukan mulai dari bangun tidur hingga menjelang terpejam kembali. Tanpa disadari, kebebasan visual ini sering kali menjebak seseorang ke dalam dosa yang sangat halus namun berdampak sistemik pada ketenangan jiwa, yakni khianat mata. Fenomena spiritual yang akut ini diulas secara tajam oleh Ustadz Suherman Ar Rozy, M.Ag. dalam program Inspirasi Qur’an – Kajian Al Hikam.

Mata pada hakikatnya merupakan salah satu nikmat terbesar sekaligus instrumen ujian paling berat yang dititipkan Allah Swt. kepada manusia. Banyak orang yang menyalahgunakan fungsi mata dengan mengobral pandangan pada hal-hal yang tidak halal, lalu menganggapnya sebagai hiburan yang lumrah. Sahabat MQ perlu menyadari bahwa pandangan mata yang liar merupakan anak panah beracun dari setan yang siap menembus dinding hati, merusak kekhusyukan ibadah, dan mencabut kebahagiaan hidup dalam sekejap.

Dosa-dosa besar yang menghancurkan masa depan dan kehormatan seseorang, seperti perzinaan, hampir seluruhnya berawal dari ketidakmampuan menjaga pandangan mata. Ketika sebuah visual yang haram dibiarkan masuk ke dalam memori pikiran, ia akan mengendap dan berubah menjadi dorongan syahwat yang merusak batin. Oleh karena itu, membentengi diri dengan menundukkan pandangan (ghadhul bhashar) bukan lagi sekadar anjuran moral, melainkan sebuah kebutuhan krusial demi keselamatan dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah An-Nur ayat 30:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ

yang artinya, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka’.”

Misteri Pengetahuan Allah Terhadap Lirikan Mata yang Samar

Manusia mungkin bisa menyembunyikan lirikan matanya yang penuh syahwat atau tipu daya di hadapan sesama makhluk dengan sangat rapi. Di tengah keramaian atau dalam kesunyian kamar saat jemari sibuk scrolling di layar gawai, tidak akan ada orang lain yang tahu ke mana arah tatapan itu tertuju. Namun, dalam sistem pengawasan ilahi, tidak ada satu pun gerakan mikro dari biji mata manusia yang luput dari rekaman dan penilaian Sang Pencipta. Allah Swt. mengetahui secara detail niat yang tersembunyi di balik sebuah tatapan, sekecil apa pun itu.

Sahabat MQ hendaknya menanamkan rasa takut yang mendalam (khasyah) setiap kali berinteraksi dengan dunia digital yang penuh dengan fitnah visual. Rasa diawasi oleh Allah Swt. (muraqabah) harus dijadikan sebagai filter utama sebelum memutuskan untuk mengetuk atau melihat suatu konten di media sosial. Ketika kesadaran spiritual ini hilang, maka ilmu keagamaan yang telah dipelajari selama bertahun-tahun tidak akan mampu menjadi benteng penahan dari jatuhnya harga diri ke dalam lubang maksiat.

Setiap manusia harus mempertanggungjawabkan setiap detak dan gerakan matanya di hadapan pengadilan akhirat kelak. Hakikat pengawasan mutlak ini digambarkan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an untuk mengingatkan jiwa-jiwa yang sering kali merasa aman dari pantauan publik. Allah Swt. menegaskan kemampuan-Nya yang mahatahu dalam surah Ghafir ayat 19:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

yang artinya, “Dia mengetahui (khianat) mata yang culas dan apa yang disembunyikan oleh hati.”

Tragedi Dicabutnya Manisnya Iman Akibat Obral Pandangan

Dampak paling mengerikan dari hamba yang gemar mengobral pandangan matanya pada hal-hal yang diharamkan bukanlah kebutaan fisik, melainkan kebutaan batin. Sangat mudah bagi Allah Swt. untuk mengambil kembali nikmat penglihatan tersebut, namun hukuman yang jauh lebih berat adalah ketika Allah mencabut rasa bahagia dan ketenangan hidup dari pemilik mata tersebut. Jiwa yang terbiasa melihat hal yang haram akan merasakan kehampaan yang luar biasa dan selalu merasa tidak puas dengan pasangan hidup yang halal.

Ketika mata sering digunakan untuk melihat maksiat, secara otomatis ketertarikan untuk membaca Al-Qur’an atau melihat ayat-ayat kebaikan akan menurun drastis. Hal ini menjelaskan mengapa ada sebagian orang yang begitu tahan berjam-jam menatap layar gawai untuk urusan duniawi, namun langsung merasa bosan dan mengantuk ketika Al-Qur’an baru dibuka. Karat spiritual inilah yang mengikis kelezatan ibadah hingga salat pun hanya terasa sebagai rutinitas fisik yang melelahkan tanpa makna.

Penjagaan terhadap mata harus dimulai dengan kesadaran bahwa organ tubuh ini hanyalah titipan sementara yang harus digunakan sesuai dengan instruksi sang pemilik mutlak. Kita tidak memiliki andil apa pun dalam penciptaan mekanisme mata yang rumit, melainkan hanya sekadar menggunakannya saja setiap hari. Ancaman dicabutnya nikmat penglihatan dan keberkahan hidup ini sejalan dengan peringatan Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari:

فَإِنَّ التَّقْوَىٰ فِي دُبُرِ ذَٰلِكَ ، وَإِيَّاكُمْ وَالظَّلَّ ، وَإِيَّاكُمْ وَفُضُولَ النَّظَرِ

yang artinya, “Maka bertakwalah kalian setelah itu, dan jauhilah oleh kalian berprasangka buruk, serta jauhilah oleh kalian pandangan mata yang berlebihan.”

Strategi Praktis Memurnikan Fungsi Mata di Era Gempuran Digital

Menyelamatkan mata dari jerat dosa khianat di zaman modern ini membutuhkan strategi dan kedisiplinan yang tinggi dalam pemanfaatan teknologi. Langkah konkret yang bisa dilakukan oleh Sahabat MQ adalah dengan menyaring akun-akun yang diikuti di media sosial dan segera melewati (skip) konten yang mengandung unsur maksiat. Jangan biarkan algoritma gawai mendikte arah pandangan kita menuju hal-hal yang memicu murka Allah Swt.

Selain tindakan preventif, mata juga harus diisi dengan nutrisi kebaikan secara seimbang melalui aktivitas membaca Al-Qur’an, menatap wajah kedua orang tua dengan kasih sayang, atau melihat keindahan alam demi meningkatkan rasa syukur. Menggunakan mata untuk menuntut ilmu di majelis-majelis taklim akan mengembalikan fungsi fitrahnya sebagai pelita hati. Ketika mata disibukkan dengan hal-hal yang diridai, maka ruang bagi setan untuk menyusupkan syubhat dan syahwat akan tertutup dengan sendirinya.

Setiap usaha kecil yang kita lakukan untuk menundukkan pandangan demi mengharap rida Allah Swt. akan diganti dengan karunia yang jauh lebih indah, yaitu kemurnian batin. Ketenangan hidup yang sejati hanya akan dianugerahkan kepada hamba-hamba yang mampu menjaga kesucian panca inderanya dari noda-noda duniawi. Allah Swt. senantiasa membuka pintu ampunan bagi siapa saja yang mau bertobat dan memperbaiki arah pandangannya, sebagaimana firman-Nya dalam surah An-Nisa ayat 110:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

yang artinya, “Dan barangsiapa yang berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”