Di tengah kepungan peradaban modern yang serba canggih, kesehatan mental dan ketenangan jiwa telah menjadi barang mewah yang paling diburu oleh manusia. Banyak orang dengan latar belakang pendidikan tinggi, karier profesional yang mapan, dan gelimang harta, justru harus berjuang melawan kecemasan akut (anxiety) serta kehampaan hidup yang tiada berujung. Fenomena sosiologis yang kontradiktif ini menunjukkan adanya mata rantai spiritual yang terputus dalam diri manusia, sebuah rahasia psikologi Islam yang diulas secara mendalam dalam program Inspirasi Qur’an – Kajian Al Hikam oleh Ustadz Suherman Ar Rozy, M.Ag..
Akar dari segala kecemasan manusia modern sebenarnya bersumber dari hilangnya rasa takut kepada Sang Pencipta, yang kemudian digantikan oleh rasa takut kehilangan dunia. Ketika hati seorang hamba dipenuhi oleh ketergantungan pada analisis logika makhluk, ia akan selalu dibayangi ketakutan akan kegagalan, kemiskinan, dan penilaian manusia. Sahabat MQ perlu memahami sebuah paradoks spiritual yang sangat indah: dalam konsep tauhid, rasa takut kepada Allah Swt. (khauf) justru tidak akan membuat seseorang lari menjauh, melainkan justru melahirkan rasa aman, damai, dan perlindungan yang utuh.
Rasa takut yang bersumber dari makrifatullah (mengenal Allah) akan bertindak sebagai rem otomatis yang menjaga panca indera dan pikiran manusia dari perbuatan maksiat yang merusak batin. Tanpa adanya rasa takut yang kokoh di dalam dada, ilmu pengetahuan yang luas dan kepintaran akal justru bisa berbalik menjadi bumerang yang mencelakakan pemiliknya sendiri. Ketenangan sejati hanya akan dianugerahkan oleh Allah Swt. kepada jiwa-jiwa yang tunduk dan menyadari keterbatasan dirinya di hadapan keagungan illahi, sebagaimana firman-Nya dalam surah Fatir ayat 28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
yang artinya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang mengetahui). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Doa Perlindungan dari Ilmu yang Mandul dan Hati yang Membatu
Salah satu tragedi terbesar dalam dunia pendidikan dan keagamaan adalah lahirnya manusia-manusia yang memiliki wawasan keilmuan yang luas, namun perilakunya tidak mencerminkan nilai kesucian ilmu tersebut. Ilmu yang didapatkan hanya berhenti sebagai pajangan gelar akademis atau alat untuk berdebat mencari popularitas duniawi, tanpa pernah mampu menggerakkan pemiliknya untuk bersujud khusyuk di atas sajadah. Karakteristik ilmu yang mandul inilah yang sangat ditakuti oleh Rasulullah Saw., sehingga beliau mengajarkan sebuah doa perlindungan yang sangat spesifik.
Sahabat MQ yang saat ini sedang aktif menuntut ilmu di sekolah, universitas, maupun majelis-majelis taklim, hendaknya selalu memeriksa motivasi batin terdalam agar terhindar dari penyakit kesombongan intelektual. Hati yang membatu (qolbun laa yakhsya’) adalah sebuah kondisi di mana seseorang sudah tidak mempan lagi diberikan nasihat kebaikan dan tidak merasakan getaran apa pun saat ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan. Ketika rasa takut kepada Allah telah sirna dari dalam hati, maka nafsu manusia akan menjadi liar, serakah, dan tidak pernah merasakan kepuasan hidup.
Pentingnya menjaga kesucian ilmu dan hati ini terekam dengan sangat apik dalam doa yang dibacakan oleh Ustadz Suherman di akhir sesi kajian Al Hikam. Doa ini bersumber dari hadis sahih riwayat Imam Muslim, yang menjadi tameng spiritual bagi setiap pencari kebenaran:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
Meraih Tiket Surga Tanpa Hisab Melalui Jalur Istiqamah dan Husnul Khatimah
Goal atau tujuan akhir dari seluruh rangkaian ibadah, puasa, sedekah, hingga peremajaan rasa takut kepada Allah di dunia ini adalah satu, yaitu meraih kematian yang indah (husnul khatimah). Tidak ada gunanya seseorang tampil mempesona di mata publik sepanjang hidupnya jika pada detik-detik terakhir perpindahan alam, ia harus tergelincir ke dalam kekufuran atau kemaksiatan. Konsistensi dalam menjaga ketakwaan (istiqamah) adalah satu-satunya kunci utama yang akan mempermudah lisan manusia mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatnya.
Manusia yang berhasil mengawinkan antara ikhtiar lahiriah yang maksimal dan rasa pasrah mutlak kepada takdir Allah, akan menjalani sisa usianya dengan penuh rasa optimisme. Mereka tidak akan mudah stres menghadapi gejolak ekonomi atau ujian sosial, karena mereka tahu bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara yang sangat singkat. Allah Swt. telah menjanjikan sebuah fasilitas premium berupa tiket masuk surga tanpa melalui proses pengadilan yang menegangkan (jannah bighairi hisab) bagi hamba-hamba pilihan-Nya yang istiqamah.
Mari kita manfaatkan sisa umur yang masih dititipkan oleh Allah Swt. ini untuk terus memperbaiki kualitas hubungan vertikal kita kepada-Nya dan hubungan horizontal kepada sesama makhluk. Jangan biarkan rutinitas harian yang menipu melalaikan kita dari persiapan menuju perjalanan panjang yang abadi di akhirat kelak. Jaminan ketenangan dan kebahagiaan bagi orang-orang yang teguh berdiri di atas jalan yang lurus ini ditegaskan oleh Allah Swt. dalam surah Fussilat ayat 30:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.”