Hakikat Gelar dan Jabatan Hanyalah Pelayan Hamba

Di era penuh kompetisi ini, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan tanpa akhir untuk mengumpulkan atribut duniawi seperti gelar akademik, pangkat jabatan, dan popularitas. Banyak yang menyangka bahwa tingkat kemuliaan seorang manusia diukur dari seberapa panjang deretan gelar yang tersemat di depan atau belakang namanya. Padahal, jika dicermati dengan kacamata iman, segala macam pernak-pernik duniawi tersebut hanyalah sebatas casing atau topeng luar yang sifatnya sementara. Sahabat MQ, kehormatan sejati seorang manusia terletak pada statusnya sebagai hamba Allah, pencipta alam semesta.

Seluruh fasilitas dunia, mulai dari harta melimpah hingga jabatan tinggi, sebenarnya diciptakan oleh Allah untuk menjadi pelayan bagi manusia dalam rangka mengabdi kepada-Nya. Sungguh sebuah ironi yang sangat besar ketika sang tuan justru bertekuk lutut dan menghambakan dirinya kepada pelayannya sendiri. Ketika seseorang mulai mengagungkan pangkatnya secara berlebihan, maka jiwanya akan perlahan-lahan terkikis oleh penyakit kesombongan yang mematikan.

Allah Subhanahu wa taala telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini memang dipersiapkan untuk kemaslahatan hidup manusia. Oleh karena itu, dunia harus diletakkan di tangan, bukan di dalam hati.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah: 29).

Bahaya Mengikis Kehormatan Demi Kejar Pujian Manusia

Menghinakan diri dengan mengemis pujian dan pengakuan dari sesama makhluk adalah bentuk kekeliruan berpikir yang sering kali tidak disadari. Seseorang yang hidupnya hanya disetir oleh ekspektasi orang lain akan selalu merasa lelah dan tidak pernah menemukan kedamaian batin. Mereka rela mengorbankan prinsip-prinsip kejujuran dan nilai agama demi mempertahankan sebuah citra palsu di hadapan publik. Sahabat MQ, kepuasan manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah bisa tercapai sepenuhnya.

Ketika orientasi hidup berubah menjadi hamba duniawi, maka kedekatan dengan Allah akan semakin menjauh secara perlahan namun pasti. Segala bentuk ibadah yang dilakukan cenderung terkontaminasi oleh penyakit riya dan ingin pamer agar dipandang hebat oleh lingkungan sekitar. Jiwa yang rapuh seperti ini akan sangat mudah stres dan frustrasi ketika gelembung popularitas yang mereka banggakan tiba-tiba pecah dan menghilang.

Ketegasan mengenai larangan bersikap sombong dan membanggakan diri atas apa yang dimiliki di dunia ini telah diingatkan oleh Allah dengan sangat jelas. Manusia diingatkan agar tidak berjalan di muka bumi dengan keangkuhan.

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37).

Mengembalikan Fungsi Dunia Sebagai Alat Bantu Akhirat

Langkah bijak yang harus diambil oleh setiap muslim adalah mengembalikan fungsi dunia ke posisi yang sebenarnya, yaitu sebagai jembatan menuju akhirat. Gelar akademik yang tinggi sepatutnya digunakan untuk mencerdaskan umat dan menebarkan kemaslahatan yang lebih luas. Jabatan dan pangkat yang disandang harus dijadikan instrumen hukum yang adil untuk melindungi hak-hak orang yang lemah. Sahabat MQ, dengan cara inilah dunia yang ada di genggaman bisa berubah nilai menjadi pahala yang mengalir abadi.

Sikap mental yang tidak terpaut pada kemewahan dunia ini dikenal dengan istilah zuhud dalam khazanah Islam. Zuhud bukan berarti harus hidup miskin dan kumal, melainkan kondisi di mana hati tidak ikut merasa memiliki secara mutlak atas harta yang ada di tangan. Ketika dunia diletakkan hanya sebagai alat bantu, maka kehilangan materi tidak akan pernah membuat jiwa menjadi goyah dan berputus asa.

Karakteristik hamba-hamba pilihan yang tidak teperdaya oleh gemerlapnya kehidupan duniawi ini digambarkan dalam sebuah hadis Nabi yang sangat mendalam. Rasulullah mengajarkan rahasia agar dicintai oleh Allah dan sesama manusia.

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).