Bahaya Laten Kufur Nikmat Menurut Kitab Al Hikam
Banyak dari kita yang sering kali tidak menyadari bahwa penurunan kualitas hidup atau hilangnya rasa bahagia dalam keseharian bisa jadi disebabkan oleh sebuah kelalaian fatal, yaitu kufur nikmat. Sebagaimana yang diuraikan secara tajam oleh Ustadz Suherman Ar-Rozy, M.Ag. dalam program siaran Inspirasi Qur’an – Kajian Kitab Al Hikam, melalui pembahasan bait nomor 74, Syekh Ibnu Atha’illah memberikan sebuah peringatan yang sangat menghentak kesadaran spiritual kita. Beliau menyatakan bahwa barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah, maka ia secara sadar atau tidak sedang berusaha keras untuk melenyapkan nikmat tersebut dari sisinya.
Sahabat MQ, kebiasaan buruk berfokus pada apa yang belum dimiliki sembari mengabaikan ribuan kemudahan yang sudah ada di depan mata adalah bentuk nyata dari kekufuran ini. Sikap selalu merasa kurang dan gemar mengeluh bertindak laksana racun tak kasatmata yang perlahan namun pasti akan mengikis keberkahan dari harta, kesehatan, maupun kedamaian keluarga. Jika kebiasaan mengeluh ini terus dibiarkan memimpin jalannya pikiran kita, maka bersiaplah menyaksikan kenyamanan yang ada dicabut satu demi satu oleh Sang Pemilik Semesta.
Peringatan mengenai dampak buruk dari sifat meremehkan kebaikan Allah dan ancaman siksa yang amat pedih bagi para pelaku kufur nikmat ini telah termaktub dengan sangat jelas di dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat’.” (QS. Ibrahim: 7)
Teknik Spiritual Mengikat Keberkahan Hidup dengan Kuat
Sebagai penawar dari bahaya laten tersebut, Ustadz Suherman Ar-Rozy, M.Ag. menjelaskan adanya sebuah formula spiritual yang sangat elegan untuk mengunci dan melipatgandakan setiap kenyamanan yang ada, yaitu dengan pengikatan syukur. Bersyukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah yang meluncur sebagai formalitas di bibir, melainkan sebuah pengakuan mendalam dari qolbu bahwa seluruh kebaikan berasal dari Allah. Pengakuan tulus tersebut kemudian diwujudkan secara nyata melalui tindakan memanfaatkan nikmat untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Sahabat MQ, ketika mata digunakan untuk membaca lembaran hidayah, harta disisihkan untuk membantu sesama, dan kesehatan dipakai untuk beribadah, itulah hakikat dari mengikat nikmat dengan tali yang sangat kokoh. Nikmat yang dijaga dengan kepatuhan ibadah tidak akan sudi beranjak pergi, melainkan akan betah menetap dan bahkan mengundang kawan-kawannya yang lain berupa nikmat-nikmat baru yang tak terduga. Langkah preventif ini jauh lebih murah dan membahagiakan bagi diri kita daripada harus memperbaiki qolbu yang telanjur hancur akibat keserakahan duniawi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengingatkan umatnya untuk selalu melihat ke bawah dalam urusan duniawi agar fondasi rasa syukur di dalam dada tidak mudah goyah, sebagaimana sabda beliau:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah dunia) dan janganlah memandang orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih bersesuaian agar diri kita tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)
Praktik Sederhana Syukur Harian Pembuka Pintu Langit
Memulai perubahan besar dalam hidup bisa diawali dari rutinitas harian yang sangat sederhana, namun memiliki dampak spiritual yang luar biasa besar bagi kesehatan mental kita. Sahabat MQ dapat membiasakan diri untuk menuliskan atau merenungkan minimal tiga hal yang patut disyukuri setiap harinya sebelum memejamkan mata di malam hari. Tindakan afirmatif yang positif ini akan melatih qolbu kita untuk selalu tanggap dan jeli dalam menangkap setiap kebaikan kecil yang Allah tebarkan di sepanjang hari.
Ketika kebiasaan berterima kasih ini sudah mendarah daging di dalam diri, maka frekuensi energi positif di dalam qolbu akan meningkat, menciptakan ketahanan mental yang tangguh dalam menghadapi fluktuasi kehidupan. Energi kesyukuran inilah yang pada akhirnya akan membuka lebar pintu-pintu kemudahan dari langit, menjadikan hidup terasa senantiasa berkecukupan dan bahagia meskipun dalam kondisi yang serbaterbatas. Mari kita ubah setiap keluhan yang hampir lolos dari lisan menjadi untaian pujian yang mengagungkan asma-Nya.
Sebagai bentuk keteladanan tertinggi mengenai hamba yang bersyukur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap melakukan salat malam hingga kaki beliau bengkak hanya demi sebuah tujuan mulia yang terekam dalam dialog berikut:
أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)