palestina

Panggilan Kemanusiaan dan Keimanan yang Tak Boleh Padam

Di tengah derasnya arus informasi global, kepedulian terhadap penderitaan sesama manusia sering kali diuji oleh rasa bosan dan pengabaian. Sebagaimana yang diuraikan secara mendalam oleh Ustadz Suherman Ar-Rozy, M.Ag. dalam program siaran Inspirasi Qur’an – Kajian Kitab Al Hikam, isu Palestina bukan sekadar konflik geopolitik biasa, melainkan sebuah ujian kemanusiaan sekaligus barometer keimanan bagi umat Muslim di seluruh dunia. Ketika melihat saudara seiman tertindas, respons seorang mukmin tidak boleh sekadar menjadi penonton yang pasif. Melalui sudut pandang jernih yang beliau sampaikan, setiap tetes duka di tanah para nabi tersebut seharusnya menggetarkan ruang sanubari kita untuk bergerak memberikan pembelaan.

Sahabat MQ, keterikatan kita dengan bumi Palestina memiliki akar sejarah dan spiritual yang sangat kuat, bukan sekadar solidaritas tanpa dasar. Wilayah tersebut adalah tempat berdirinya Masjidil Aqsa, kiblat pertama umat Islam sekaligus tanah suci yang penuh dengan keberkahan. Mengabaikan penderitaan yang terjadi di sana sama saja dengan membiarkan bagian dari tubuh kita sendiri terluka tanpa ada upaya untuk mengobatinya. Oleh karena itu, menjaga perhatian dan kepedulian agar tetap menyala di dalam qolbu adalah sebuah kewajiban moral yang mutlak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa bumi di sekitar Masjidil Aqsa adalah tanah yang diberkahi. Kesucian dan nilai penting wilayah ini bagi umat Islam diabadikan secara jelas di dalam Surah Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (QS. Al-Isra’: 1)

Langkah Nyata Menyalurkan Bantuan dan Doa yang Menembus Langit

Menunjukkan solidaritas tentu tidak cukup hanya dengan menunjukkan rasa simpati di media sosial tanpa adanya tindakan konkret yang berdampak langsung. Ustadz Suherman Ar-Rozy, M.Ag. menekankan pentingnya mengambil langkah nyata, mulai dari menyisihkan sebagian rezeki melalui lembaga filantropi yang tepercaya hingga menjaga konsistensi doa di setiap sujud kita. Bantuan materi yang kita salurkan mungkin terlihat kecil bagi kita, namun laksana seteguk air di padang pasir yang sangat berharga bagi ketahanan hidup saudara-saudara kita di sana.

Sahabat MQ, jangan pernah meremehkan kekuatan doa yang dipanjatkan dengan qolbu yang tulus dan penuh keyakinan, terutama doa Qunut Nazilah di waktu-waktu mustajab. Doa adalah senjata spiritual paling ampuh milik orang beriman yang mampu menembus batas-batas geografis dan mengetuk pintu pertolongan Allah dari langit. Ketika materi dan doa disatukan, kita sedang membangun sebuah jembatan kasih sayang yang kokoh untuk menguatkan mental dan fisik para penjaga tanah suci tersebut dari kezaliman yang berkepanjangan.

Ikatan persaudaraan antar-sesama Muslim yang diibaratkan laksana satu tubuh yang saling merasakan sakit digambarkan dengan sangat indah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagai satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Edukasi Berkelanjutan Melawan Narasi Ketidakadilan

Tantangan terbesar dalam menjaga api solidaritas ini adalah menghadapi distorsi informasi dan propaganda yang berusaha mengaburkan fakta kezaliman di lapangan. Sahabat MQ memiliki peran penting untuk menjadi agen pelurus informasi dengan terus mengedukasi diri sendiri, keluarga, serta lingkungan terdekat mengenai sejarah dan kondisi riil Palestina. Edukasi yang berbasis data dan nilai-nilai keadilan akan membentuk pemahaman kolektif yang matang, sehingga dukungan yang diberikan tidak bersifat musiman atau sekadar ikut-ikutan tren semata.

Dengan memiliki pemahaman yang kuat, kita dapat melahirkan generasi muda yang memiliki kepekaan sosial tinggi dan tidak abai terhadap isu-isu kemanusiaan global. Perjuangan membela Palestina adalah marathon spiritual yang membutuhkan napas panjang, konsistensi, dan keteguhan sikap. Mari kita jadikan setiap ruang diskusi dan tulisan kita sebagai sarana untuk menyuarakan kebenaran serta menolak segala bentuk penindasan di atas muka bumi.

Mengenai kewajiban setiap Muslim untuk aktif mengubah kemungkaran dan ketidakadilan sesuai dengan batas kemampuan yang dimilikinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan yang sangat tegas berikut ini:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِن * لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)