masjid jabar

MQFMNETWORK.COM | Bandung – Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mendorong penguatan masjid kampung melalui pemanfaatan dana desa membuka peluang baru bagi peningkatan peran masjid di tengah masyarakat. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, masjid diharapkan mampu menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan keagamaan, kegiatan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat di tingkat desa.

Namun, keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan oleh dukungan anggaran atau kebijakan pemerintah. Penguatan masjid kampung membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), tokoh agama, hingga masyarakat sebagai jamaah utama masjid itu sendiri.

Pertanyaannya, seberapa penting kolaborasi antar unsur tersebut dalam mewujudkan masjid kampung yang lebih berdaya dan berdampak bagi masyarakat?

Masjid Memiliki Peran yang Lebih Luas dari Sekadar Tempat Ibadah

Dalam sejarah Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual. Masjid juga menjadi pusat pendidikan, dakwah, musyawarah, pelayanan sosial, hingga pengembangan masyarakat.

Di tingkat desa, fungsi tersebut masih dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas yang berlangsung di masjid kampung. Mulai dari pengajian anak-anak, majelis taklim, pembinaan remaja, kegiatan sosial, hingga forum silaturahmi warga.

Karena itu, ketika pemerintah mendorong penguatan masjid kampung, yang ingin dibangun bukan hanya bangunan fisiknya, tetapi juga kapasitas masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Masjid Tidak Bisa Hidup Sendiri

Ketua Bidang Imarah di Pusat Dakwah Islam Jawa Barat, Fathurrahman M. Basyari, menilai bahwa keberhasilan sebuah masjid sangat bergantung pada keterlibatan berbagai pihak di sekitarnya.

Dalam perbincangan mengenai penguatan masjid kampung di Jawa Barat, ia menjelaskan bahwa masjid tidak dapat berkembang hanya mengandalkan pengurus DKM atau bantuan pemerintah semata.

Menurutnya, masjid akan menjadi hidup apabila terdapat sinergi antara pengurus, pemerintah desa, tokoh agama, dan masyarakat yang secara aktif terlibat dalam memakmurkannya.

“Masjid yang makmur bukan hanya karena bangunannya bagus, tetapi karena ada kebersamaan seluruh unsur masyarakat dalam menghidupkannya,” ujarnya.

Pemerintah Desa Memiliki Peran Strategis

Dalam kebijakan penguatan masjid kampung, pemerintah desa menjadi salah satu aktor penting karena memiliki kewenangan dalam perencanaan dan pengelolaan program pembangunan desa.

Menurut Fathurrahman M. Basyari, pemerintah desa dapat berperan sebagai fasilitator yang membantu menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan berbagai program yang tersedia.

Selain itu, pemerintah desa juga dapat memastikan bahwa penguatan masjid masuk dalam perencanaan pembangunan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga.

Melalui dukungan kebijakan dan koordinasi yang baik, pemerintah desa dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung berkembangnya fungsi sosial dan keagamaan masjid.

DKM Menjadi Penggerak Utama

Jika pemerintah desa berperan sebagai fasilitator, maka DKM menjadi motor utama dalam pelaksanaan berbagai aktivitas masjid.

Menurut Fathurrahman M. Basyari, kualitas kepengurusan DKM sangat menentukan arah perkembangan sebuah masjid.

DKM tidak hanya bertanggung jawab mengelola fasilitas masjid, tetapi juga merancang program pembinaan umat, menggerakkan jamaah, dan membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar.

Karena itu, penguatan kapasitas pengurus masjid menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam program penguatan masjid kampung.

Tokoh Agama Menjadi Sumber Keteladanan

Peran tokoh agama juga dinilai sangat penting dalam menjaga fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat.

Fathurrahman M. Basyari menjelaskan bahwa masyarakat umumnya memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap para ulama, ustaz, dan tokoh agama yang aktif di lingkungan mereka.

Melalui keteladanan dan dakwah yang dilakukan secara bijak, tokoh agama dapat membantu menggerakkan masyarakat untuk lebih aktif memakmurkan masjid.

Selain itu, mereka juga berperan dalam menjaga agar berbagai program yang dijalankan tetap sejalan dengan nilai-nilai keislaman dan kebutuhan umat.

Masyarakat Adalah Kunci Utama

Menurut Fathurrahman M. Basyari, unsur yang paling menentukan keberhasilan penguatan masjid sesungguhnya adalah masyarakat itu sendiri.

Masjid tidak akan menjadi pusat kegiatan yang hidup apabila jamaah tidak merasa memiliki dan terlibat di dalamnya.

Karena itu, masyarakat perlu didorong untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh masjid.

Mulai dari menghadiri pengajian, mendukung program sosial, melibatkan anak-anak dalam pendidikan keagamaan, hingga ikut serta dalam menjaga dan memelihara masjid.

“Masjid pada hakikatnya adalah milik umat. Semakin besar keterlibatan masyarakat, semakin kuat pula fungsi masjid di tengah kehidupan sosial,” katanya.

Kolaborasi untuk Mengatasi Persoalan Sosial

Fathurrahman M. Basyari menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah desa, DKM, tokoh agama, dan masyarakat juga dapat menjadi solusi dalam menghadapi berbagai persoalan sosial di tingkat desa.

Melalui kegiatan yang terpusat di masjid, masyarakat dapat membangun kepedulian sosial, memperkuat pendidikan karakter generasi muda, dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.

Masjid yang aktif sering kali menjadi ruang bagi masyarakat untuk berdiskusi, menyelesaikan persoalan bersama, serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong.

Karena itu, penguatan masjid tidak hanya berdampak pada kehidupan keagamaan, tetapi juga pada kualitas kehidupan sosial masyarakat secara keseluruhan.

Dana Desa Hanya Salah Satu Instrumen

Dalam pandangan Fathurrahman M. Basyari, dana desa merupakan instrumen yang dapat membantu mempercepat penguatan masjid kampung.

Namun ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari jumlah anggaran yang tersedia.

Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh unsur yang terlibat mampu memanfaatkan dukungan tersebut untuk menciptakan aktivitas yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, tanpa kolaborasi yang kuat, bantuan anggaran sebesar apa pun tidak akan menghasilkan perubahan yang signifikan.

Membangun Masjid yang Berdaya Melalui Kebersamaan

Program penguatan masjid kampung yang didorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki potensi besar untuk memperkuat kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat desa. Namun keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah atau ketersediaan dana.

Sebagaimana disampaikan Fathurrahman M. Basyari, kunci utama keberhasilan terletak pada kolaborasi yang erat antara pemerintah desa, DKM, tokoh agama, dan masyarakat.

Ketika seluruh unsur tersebut bekerja bersama dalam satu visi yang sama, masjid dapat berkembang menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan warga.

Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, penguatan masjid kampung bukan hanya menjadi program pembangunan keagamaan, tetapi juga bagian dari upaya membangun masyarakat desa yang lebih harmonis, religius, dan berdaya.