Ujian Cinta dan Iman di Tanah Habasyah
Pilihan hidup yang diambil oleh Ummu Habibah (Ramlah binti Abu Sufyan) menjadi salah satu bukti nyata bahwa iman tidak dapat ditukar dengan kenyamanan duniawi. Ketika berhijrah ke Habasyah bersama suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, ujian berat justru datang dari orang terdekat. Sang suami mengalami krisis keimanan dan memutuskan untuk murtad, meninggalkan Islam demi kesenangan sesaat. Peristiwa ini menjadi tamparan keras di tengah keterasingan sebagai imigran di negeri orang, namun hati Ummu Habibah tetap teguh bagaikan karang di tengah lautan.
Menghadapi situasi yang mengoyak jiwa tersebut, tidak ada pilihan lain bagi seorang mukmin sejati selain berpegang teguh pada tali agama Allah SWT. Sahabat MQ, keteguhan hati ini mengingatkan pada firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 27:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Artinya: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” Ayat ini menjadi penyejuk hati bahwa kekuatan untuk bertahan dalam kebenaran murni datang dari pertolongan Allah SWT.
Kesendirian di negeri asing dengan status suami yang murtad tidak membuat langkah Ummu Habibah surut untuk kembali pada kekufuran. Keikhlasan menerima takdir buruk dengan tetap menjaga integritas tauhid menunjukkan kelas tersendiri dari seorang shahabiyah mulia. Pelajaran berharga ini mengalir dalam sanubari setiap pembaca, bahwa cinta kepada Sang Pencipta harus berada di atas cinta kepada makhluk, seberat apa pun konsekuensi yang harus dihadapi.
Mimpi Misterius yang Menjadi Kenyataan Indah
Sebelum badai menerpa rumah tangganya, Ummu Habibah sempat mengalami sebuah mimpi yang sangat aneh sekaligus menggelisahkan. Dalam mimpinya, wajah sang suami terlihat sangat buruk dan berubah wujud menjadi sesuatu yang mengerikan. Ternyata, mimpi tersebut merupakan sebuah isyarat spiritual bahwa suaminya akan tergelincir dari hidayah Islam. Benar saja, tidak lama setelah itu, Ubaidillah bin Jahsy terjerumus dalam kekufuran hingga akhir hayatnya di tanah Habasyah.
Namun, Allah SWT tidak pernah membiarkan hamba-Nya yang beriman berjalan sendirian dalam kegelapan tanpa arah. Setelah masa kesedihan yang panjang, sebuah mimpi lain hadir membawa angin segar dan secercah harapan baru. Ummu Habibah bermimpi ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan “Ummul Mukminin” (Ibu bagi Orang-orang Beriman). Mimpi kedua ini menjadi tanda tanya besar sekaligus penghibur lara yang mendalam bagi jiwanya yang sedang terluka.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda mengenai keberadaan mimpi baik yang dialami oleh orang-orang saleh sebagai bagian dari petunjuk. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللَّهِ
Artinya: “Mimpi yang baik itu berasal dari Allah.” Bagi sahabat MQ, kisah mimpi ini membuktikan bahwa skenario Allah SWT selalu penuh dengan kejutan indah bagi mereka yang sabar menanti fajar setelah malam yang pekat.
Pinangan Rahasia dari Kota Madinah
Kabar tentang keteguhan hati Ummu Habibah di Habasyah akhirnya terdengar hingga ke telinga Rasulullah SAW di Madinah. Kagum akan keluhuran budi dan ketetapan imannya, Rasulullah SAW mengambil langkah tak terduga dengan mengirimkan utusan khusus kepada Raja Najasyi. Utusan tersebut membawa misi mulia, yaitu melamar Ummu Habibah untuk menjadi istri Rasulullah SAW secara jarak jauh (ghaib). Pernikahan agung ini menjadi sebuah bentuk pemuliaan tertinggi dari Allah SWT.
Raja Najasyi yang bijaksana menyambut baik permohonan tersebut dan segera mengutus seorang sahaya wanita bernama Abraha untuk menyampaikan kabar gembira ini. Mendengar kabar pinangan dari manusia paling mulia di muka bumi, kebahagiaan Ummu Habibah membuncah hingga ia memberikan perhiasannya kepada Abraha sebagai tanda syukur. Pernikahan pun dilangsungkan di istana Raja Najasyi dengan mahar yang sangat besar, dibayarkan langsung oleh sang raja atas nama Rasulullah SAW.
Langkah ini sekaligus menjadi strategi dakwah yang luar biasa, melunasi segala kepedihan yang pernah dialami di masa lalu. Allah SWT berfirman dalam Surah Ath-Thalaq ayat 2-3:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” Sahabat MQ, kisah ini menjadi bukti nyata bahwa ketakwaan selalu berbuah manis pada waktu yang tepat.