Keluar dari Garis Silsilah Penentang Islam

Menjadi putri dari Abu Sufyan, pemimpin utama kaum kafir Quraisy yang paling gigih menentang dakwah Islam pada masanya, bukanlah posisi yang mudah bagi Ummu Habibah. Lingkungan keluarga yang dipenuhi dengan kebencian terhadap ajaran tauhid tidak menghalanginya untuk melihat kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Keberaniannya memeluk Islam di bawah hidung sang ayah merupakan sebuah revolusi mental dan spiritual yang luar biasa pada zaman jahiliah.

Tekanan sosial dan ancaman dari keluarga besar tidak mampu menggoyahkan keyakinan yang telah meresap ke dalam relung hatinya. Hubungan darah sering kali menjadi ujian terbesar ketika kebenaran agama mulai bertolak belakang dengan tradisi leluhur. Namun, bagi Ummu Habibah, ikatan akidah jauh lebih tinggi dan sakral daripada sekadar ikatan nasab yang tidak menuntun pada keselamatan akhirat.

Fenomena ini mengingatkan sahabat MQ pada penegasan Allah SWT mengenai pentingnya memprioritaskan keimanan di atas segalanya. Dalam Surah Al-Mujadilah ayat 22, Allah SWT menegaskan:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ

Artinya: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak mereka.” Ketegasan inilah yang menjadi fondasi karakter mulia Ummu Habibah.

Ketegasan Sikap di Hadapan Sang Ayah

Setelah bertahun-tahun terpisah karena hijrah dan kemudian menikah dengan Rasulullah SAW, sebuah momen krusial terjadi ketika Abu Sufyan datang ke Madinah. Kedatangan sang ayah bertujuan untuk memperbarui Perjanjian Hudaibiyah yang telah dilanggar oleh kaum Quraisy. Abu Sufyan pun mengunjungi rumah putrinya, berharap mendapatkan pembelaan atau setidaknya sambutan hangat yang bisa membantu misinya.

Ketika Abu Sufyan hendak duduk di atas tikar tempat tidur Rasulullah SAW, Ummu Habibah dengan cekatan segera melipat tikar tersebut agar tidak diduduki oleh ayahnya. Tindakan ini mengejutkan Abu Sufyan yang merasa terhina dengan perlakuan putrinya sendiri. Dengan tegas, Ummu Habibah menyatakan bahwa tikar tersebut adalah milik Rasulullah SAW yang suci, sedangkan ayahnya pada saat itu masih seorang musyrik yang najis secara maknawi.

Sikap tanpa kompromi dalam menjaga kehormatan Rasulullah SAW ini menunjukkan tingkat kecintaan yang luar biasa. Sahabat MQ, hal ini selaras dengan sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Artinya: “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” Kesetiaan radikal terhadap nilai Islam inilah yang membuat namanya abadi.

Berubahnya Musuh Menjadi Pembela Agama

Keteguhan iman Ummu Habibah serta statusnya sebagai Ummul Mukminin secara perlahan meruntuhkan keangkuhan hati Abu Sufyan. Kehormatan yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada putrinya membuat sang pemimpin Quraisy mulai memandang Islam dengan cara yang berbeda. Hubungan pernikahan ini menjadi jembatan diplomasi yang sangat halus namun efektif dalam mencairkan ketegangan antara Madinah dan Makkah.

Pada akhirnya, sejarah mencatat momen indah ketika Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) terjadi, di mana Abu Sufyan akhirnya bersujud memeluk Islam. Hidayah yang menyentuh hati sang ayah tidak lepas dari doa dan konsistensi sikap yang ditunjukkan oleh putrinya selama bertahun-tahun. Keberhasilan dakwah ini membuktikan bahwa keteguhan yang diiringi dengan akhlak mulia mampu mengubah lawan paling keras menjadi kawan paling setia.

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi sahabat MQ bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT dalam membalikkan hati manusia. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 7:

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً

Artinya: “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka.” Kisah akhir yang bahagia ini melengkapi catatan emas perjuangan Ummu Habibah.