Alasan Logis Mengapa Islam Melarang Keras Mencari Musuh

Kehidupan yang dijalani sering kali terasa melelahkan ketika dipenuhi oleh konflik dan perselisihan antarmanusia. Sahabat MQ, di dalam kajian kitab Riyadus Shalihin, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan tegas mengingatkan agar umat Islam tidak pernah berharap atau mencita-citakan pertemuan dengan musuh. Keinginan untuk bermusuhan mencerminkan adanya ego serta kesombongan di dalam dada yang belum tuntas dibersihkan dari penyakit hati.

Menghindari permusuhan bukan berarti menunjukkan kelemahan, melainkan sebuah bentuk kecerdasan emosional dan spiritual yang sangat tinggi. Rasulullah membimbing umat agar senantiasa mengutamakan kedamaian demi terciptanya ruang yang luas untuk beribadah dan menuntut ilmu secara khusyuk. Ketika energi habis digunakan untuk memikirkan strategi menjatuhkan orang lain, fokus utama kehidupan sebagai hamba Allah akan terkikis secara perlahan.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadis yang sangat populer mengenai larangan mencari musuh ini:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ

“Wahai manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu musuh, dan mintalah keselamatan (afiat) kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dahsyatnya Doa Meminta Afiat untuk Kebahagiaan Lahir dan Batin

Melalui pesan Rasulullah tersebut, Sahabat MQ diajak untuk selalu melatih lisan memohon keselamatan atau yang dikenal dengan istilah afiat. Sehat fisik saja belum tentu menjamin seseorang dapat merasakan kebahagiaan sejati apabila batinnya terus-menerus dirundung kecemasan dan rasa permusuhan. Istilah afiat mencakup kesejahteraan yang menyeluruh, baik keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak.

Meminta afiat berarti memohon agar Allah menjauhkan diri dari segala bentuk ujian berat yang belum tentu sanggup dipikul oleh pundak manusia yang lemah. Kedamaian hidup yang hakiki hanya akan didapatkan ketika hati sepenuhnya merasa cukup dengan ketetapan-Nya serta bersih dari kebencian terhadap sesama makhluk. Dengan afiat, setiap aktivitas ibadah, pekerjaan, dan hubungan keluarga dapat berjalan dengan sangat harmonis.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an mengenai pentingnya menjaga perdamaian dan keharmonisan hidup:

وَالصُّلْحُ خَيْرٌ

“Dan perdamaian itu setiap kali adalah lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisa: 128).

Langkah Praktis Mengubah Energi Negatif Menjadi Kedamaian Hati

Apabila saat ini Sahabat MQ tengah menghadapi situasi konflik yang tidak menyenangkan, langkah terbaik yang bisa diambil adalah menarik diri dari perdebatan yang sia-sia. Mengurangi bicara yang tidak memiliki manfaat nyata menjadi salah satu tameng paling ampuh dalam menjaga kesucian hati dari goresan dendam. Fokuskan kembali perhatian pada perbaikan kualitas diri serta perbanyak sujud memohon ampunan kepada Yang Maha Kuasa.

Energi yang biasanya terbuang untuk membalas keburukan orang lain sebaiknya dialihkan menjadi dorongan untuk memperbanyak amalan-amalan rahasia. Ketika hati mulai sibuk dengan zikrullah dan aktivitas kebaikan, maka segala bentuk gangguan dari luar tidak akan mudah mengguncang ketenangan batin. Keyakinan yang utuh bahwa seluruh makhluk berada di bawah kendali Allah akan melahirkan sikap rida yang sangat mendalam.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membalas keburukan dengan cara yang jauh lebih baik:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34).