Hubungan Erat Antara Keraguan Hati dan Tingkat Makrifatullah

Rasa cemas yang sering kali melanda pikiran mengenai masa depan, utang, ataupun jodoh sebenarnya merupakan alarm bahwa ada yang keliru dengan tauhid. Sahabat MQ, ketika hati belum sepenuhnya mengenal Allah secara mendalam (makrifatullah), maka fokus perhatian akan dengan mudah teralihkan kepada kehebatan makhluk. Bersandar kepada kemampuan diri sendiri atau janji manusia adalah jalan pintas menuju kekecewaan yang amat mendalam.

Mengenal Allah bukan sekadar menghafal asma-ul husna di luar kepala, melainkan menghujamkan maknanya hingga mengakar kuat ke dalam relung qalbu. Seseorang yang telah makrifat akan memandang dunia ini hanya sebagai panggung ujian sementara yang penuh dengan kepalsuan. Mereka tidak akan mudah silau oleh gemerlapnya harta benda ataupun sanjungan yang bersifat sementara.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengingatkan manusia akan hakikat kehidupan duniawi yang menipu:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185).

Mengikis Ketakutan Terhadap Makhluk dengan Keagungan Tauhid

Ketakutan yang berlebihan terhadap kemarahan atasan, pandangan sinis tetangga, ataupun bayang-bayang kegagalan hidup mencerminkan lemahnya fondasi tauhid. Sahabat MQ perlu menyadari dengan sepenuh hati bahwa tidak ada satu pun makhluk yang memiliki daya untuk memberikan manfaat ataupun mudarat tanpa izin-Nya. Mengapa harus menghabiskan energi untuk menaruh rasa takut kepada sesama hamba yang sama-sama lemah dan butuh makan?

Orang yang mengenal Allah dengan baik akan selalu menaruh rasa takut dan harapnya hanya pada tempat yang tepat, yaitu kepada Sang Pencipta Jagat Raya. Sikap mandiri secara spiritual ini membuat mereka tampil sebagai pribadi yang sangat tangguh dan tidak mudah didikte oleh keadaan luar. Baginya, keselamatan yang sejati adalah ketika diri senantiasa berada di bawah payung perlindungan dan rida Illahi.

Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan wejangan emas ini kepada Ibnu Abbas radhiallahu anhu:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ

“Dan ketahuilah, sekiranya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu.” (HR. Tirmidzi).

Tahapan Menumbuhkan Benih Makrifat di Dalam Dada

Menumbuhkan kemakrifatan memerlukan kesungguhan dalam menuntut ilmu-ilmu syar’i serta merenungkan ayat-ayat kauniyah yang tersebar luas di alam semesta. Sahabat MQ dapat meluangkan waktu secara rutin untuk menghadiri majelis taklim yang fokus membahas tentang keagungan sifat-sifat Allah. Duduk di dalam majelis ilmu bersama orang-orang saleh akan memberikan asupan nutrisi yang sangat baik bagi pertumbuhan iman.

Selain itu, kurangilah berbicara mengenai hal-hal yang tidak penting agar hati memiliki waktu luang untuk bermuhasabah dan berzikir dengan tenang. Ketika lisan mulai terjaga dari perkataan sia-sia, maka pancaran cahaya makrifat akan lebih mudah meresap dan menerangi kegelapan hati. Lakukan setiap amalan dengan penuh keistiqamahan meskipun porsinya tampak kecil di mata manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan pentingnya memiliki ilmu agar dapat mengenal-Nya dengan benar:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.” (QS. Muhammad: 19).