Memahami Tabir Kemurahan Allah yang Menutupi Segala Keburukan Kita
Pernahkah kita merenungkan mengapa tetangga, rekan kerja, atau masyarakat luas memberikan penghormatan dan penilaian yang begitu baik kepada diri kita? Banyak di antara kita yang terbuai dan menyangka bahwa kebaikan perlakuan orang lain tersebut disebabkan oleh kehebatan, kecerdasan, atau kesalehan pribadi. Padahal, kenyataan yang sesungguhnya terjadi adalah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kemurahan-Nya masih sudi menutup rapat-rapat segala aib dan dosa masa lalu kita.
Seandainya tabir penutup aib tersebut dibuka oleh Allah meskipun hanya sedikit saja, niscaya tidak akan ada satu pun manusia yang sudi mendekat apalagi menghormati kita. Kesadaran mendalam akan hakikat ini dinilai sangat ampuh untuk mengikis benih-benih kesombongan, keangkuhan, dan perasaan merasa lebih suci dari orang lain. Oleh karena itu, pujian yang datang dari sesama makhluk sejatinya harus dikembalikan sepenuhnya kepada Allah yang Maha Menutup keburukan hamba-Nya.
Kesadaran akan kelemahan diri dan banyaknya tumpukan dosa menuntut kita semua untuk senantiasa memperbanyak istigfar dan memohon ampunan kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia yang paling mulia dan telah dijamin terbebas dari dosa, memberikan teladan luar biasa dalam hal beristigfar setiap harinya:
وَاللَّهِ إِنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar (memohon ampunan) dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari).
Bahaya Sifat Ujub yang Dapat Membinasakan Seluruh Pahala Kebaikan
Ketika seorang hamba mulai melupakan kenyataan bahwa dirinya dipenuhi dengan kekurangan dan justru asyik menikmati sanjungan manusia, sifat ujub akan mulai merayap. Ujub atau mengagumi diri sendiri merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya karena dapat menghapus pahala dari seluruh amal saleh yang telah dikerjakan. Sifat ini membuat seseorang merasa telah berjasa besar dengan ibadahnya, sehingga berkuranglah rasa butuh dan kefakirannya di hadapan Allah.
Melalui pesan santunnya, Aa Gym mengingatkan kita agar jangan sampai tertipu oleh penampilan luar yang tampak saleh namun keropos di bagian dalamnya. Menampilkan citra diri sebagai orang dermawan demi konten media sosial atau popularitas belaka adalah bentuk nyata dari kerugian spiritual yang terselubung. Mari kita tata kembali niat di dalam hati agar setiap aktivitas kebaikan yang dilakukan murni didasari mengharap keridaan-Nya, bukan sanjungan manusia.
Penyakit bangga diri ini sangat dikhawatirkan oleh para ulama terdahulu karena dampaknya yang merusak kesucian tauhid seorang hamba. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan peringatan keras mengenai tiga perkara yang dapat membinasakan nasib seorang manusia di akhirat kelak:
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi).
Menanamkan Sikap Tawadhu guna Meraih Kemuliaan yang Hakiki
Jalan terbaik untuk membentengi hati dari penyakit ujub dan kesombongan adalah dengan senantiasa menumbuhkan sikap tawadhul atau rendah hati. Sikap rendah hati lahir dari pemahaman bahwa seluruh kelebihan yang melekat pada diri kita, baik berupa ilmu, harta, maupun rupa, hanyalah titipan sementara. Seseorang yang memiliki sifat tawaddhu tidak akan pernah merasa terhina meskipun status sosialnya berada di bawah penilaian manusia.
Dengan mengadopsi sikap mental ini, interaksi sosial di dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat akan terjalin dengan sangat damai dan menyejukkan. Tidak ada lagi sikap saling merendahkan, mencemooh, atau meremehkan pekerjaan sesama hamba Allah yang barangkali tampak bersahaja di mata dunia. Mari kita hiasi diri dengan keluhuran akhlak agar kehidupan yang singkat di dunia ini berbuah manis hingga ke surga nanti.
Kemuliaan yang sejati di sisi Allah justru akan dianugerahkan kepada siapa saja yang memilih jalan kerendahan hati demi mengagungkan kebesaran-Nya. Janji luhur ini disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai panduan moral bagi seluruh umat Islam:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).