Mengenal Hidayah Paling Mahal di Antara Ciptaan Allah
Sahabat MQ, dari sekian banyak tingkatan petunjuk atau hidayah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada makhluk-Nya, hidayah iman dan Islam adalah yang paling tinggi nilainya. Mulai dari hidayah umum berupa insting pada hewan, hidayah panca indra, hingga hidayah akal pada manusia, semuanya belum menjamin keselamatan sejati di akhirat. Banyak manusia yang dianugerahi kecerdasan luar biasa atau IQ tinggi, namun hidupnya berakhir sia-sia karena tidak mendapatkan hidayah Islam.
Mendapatkan kesempatan untuk bersujud dan mengucapkan kalimat syahadat adalah sebuah anugerah yang tidak dapat ditukar dengan kemewahan fasilitas duniawi mana pun. Sering kali manusia merasa minder ketika melihat kemajuan materi di negara-negara barat, padahal mereka kehilangan nikmat spiritual yang paling mendasar. Bersyukur atas nikmat Islam adalah kunci utama pembuka pintu kebahagiaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan perihal hidayah-Nya dalam surah Al-Qashash:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56).
Definisi dan Karakteristik Tingkatan Ihsan dalam Kehidupan
Level keyakinan tertinggi bagi seorang hamba di dunia ini dinamakan sebagai tingkat Ihsan, sebuah kondisi spiritual di mana seseorang beribadah seolah-olah melihat Allah secara langsung. Sahabat MQ, apabila tingkat keyakinan ini sudah menghunjam dalam ke dalam dada, maka rasa cemas terhadap masa depan dan kesedihan atas masa lalu akan lenyap seketika. Seseorang yang berada di makam Ihsan akan senantiasa merasa diawasi oleh Sang Pencipta dalam setiap detak jantungnya.
Kehidupan orang yang menggapai makam Ihsan dipenuhi dengan ketenangan yang ajeg, ibadah yang terasa nikmat, serta akhlak yang mulia. Pikiran mereka tidak lagi mudah terdistraksi oleh pujian ataupun makian dari sesama makhluk, karena fokus utamanya hanyalah rida Ilahi. Hati yang selaras dengan kesadaran ini akan selalu merasa cukup dan bahagia.
Hal ini sesuai dengan hadis Jibril yang sangat populer mengenai pengertian Ihsan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Cara Memandang Segala Kejadian Dunia dengan Kacamata Ihsan
Ketika penyakit melanda fisik atau ketetapan takdir tidak berjalan sesuai dengan rencana, seorang muhsin (orang yang ihsan) akan menerimanya dengan lapang dada tanpa mengeluh. Sahabat MQ, mereka menyadari sepenuhnya bahwa tubuh ini adalah milik Allah dan segala perbuatan-Nya pastilah mengandung kebaikan yang mendalam. Keyakinan penuh ini membuat batin tidak mudah terguncang oleh perubahan kondisi duniawi yang bersifat sementara.
Segala fenomena alam, seperti embusan angin yang menerpa wajah hingga peristiwa sosial di sekitar, selalu berhasil memancarkan gelombang ingatan kepada Sang Pencipta. Berbeda dengan manusia pada umumnya yang sulit untuk mengingat Allah, orang-orang Ihsan justru merasa kesulitan untuk melupakan-Nya. Mari melatih diri agar senantiasa melihat keagungan Allah di balik setiap peristiwa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai jaminan ketenangan bagi para kekasih-Nya:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62).