Meluruskan Pemahaman Keliru Mengenai Konsep Makrifatullah

Sahabat MQ, akhir-akhir ini sering kali terdengar pemahaman keliru di tengah masyarakat yang menyatakan bahwa jika seseorang sudah mencapai tingkat makrifat atau mengenal Allah, maka ia tidak perlu lagi melaksanakan ibadah salat. Pemahaman menyimpang ini mengklaim bahwa esensi salat telah digantikan oleh kehadiran Tuhan di dalam diri, sehingga syariat fisik bisa ditinggalkan begitu saja. Tentu saja opini tersebut sangat bertentangan dengan ajaran murni Islam yang dibawa oleh para nabi.

Mengenal Allah atau makrifatullah yang sejati justru dicapai dan dibuktikan melalui penegakan salat yang semakin berkualitas, bukan dengan mengabaikannya. Salat merupakan sarana komunikasi paling absah yang diajarkan langsung oleh syariat untuk mendekatkan diri kepada Pencipta. Menolak melaksanakan salat dengan alasan makrifat adalah bentuk tipu daya nafsu yang menyesatkan jiwa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dengan tegas mengenai tujuan utama didirikannya salat:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14).

Meneladani Rasulullah Sebagai Manusia Paling Makrifat

Jika ada manusia yang paling mengenal Allah di muka bumi ini, maka beliau adalah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, sang kekasih Allah. Sahabat MQ, sepanjang hidupnya, Rasulullah tidak pernah sekali pun meninggalkan salat, bahkan beliau berdiri dalam salat malamnya hingga pergelangan kakinya bengkak-bengkak. Menjelang detik-detik terakhir wafatnya, kalimat yang terus diwasiatkan dengan penuh penekanan oleh beliau kepada umatnya adalah tentang menjaga salat.

Urusan mendidik generasi muda agar mencintai salat di zaman modern ini memang menuntut kesabaran yang luar biasa dari para orang tua. Banyak tantangan lingkungan yang membuat anak-anak meremehkan pentingnya ibadah fisik ini demi mengejar kepintaran duniawi semata. Padahal, pondasi utama pembentukan karakter anak yang baik dimulai dari kedisiplinannya dalam mendirikan salat.

Wasiat terakhir Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengenai pentingnya salat adalah:

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Jagalah salat, jagalah salat! Dan penuhilah hak-hak hamba sahaya yang kalian miliki.” (HR. Ahmad).

Penyebab Utama Kerusakan Moral Anak Menurut Umar bin Khattab

Sahabat MQ, Khalifah Umar bin Khattab pernah memberikan panduan berharga mengenai tiga obat utama untuk mengatasi kenakalan atau kerusakan moral pada anak. Langkah pertama yang wajib diperiksa oleh orang tua adalah kualitas dan kesinambungan ibadah salat sang anak dalam keseharian. Langkah kedua adalah melihat seberapa dekat interaksi mereka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan langkah ketiga adalah memastikan ketepatan pemberian nama yang mengandung doa kebaikan.

Ketika ibadah salat ditinggalkan, maka perlindungan spiritual pada diri seorang anak akan runtuh, sehingga mereka mudah terperosok ke dalam perilaku negatif. Pendidikan moral tanpa dibarengi dengan penegakan syariat salat laksana membangun istana di atas pasir yang rapuh. Oleh sebab itu, mari jadikan musala atau tempat salat di dalam rumah sebagai ruangan yang paling nyaman dan dihormati oleh seluruh anggota keluarga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang fungsi salat sebagai pencegah perbuatan keji:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).