MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Perubahan iklim tidak lagi hanya dipandang sebagai isu lingkungan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi kehidupan manusia secara langsung, mulai dari meningkatnya angka kematian akibat suhu tinggi hingga terganggunya layanan kesehatan.
Di Indonesia, meskipun tidak mengalami gelombang panas seperti negara-negara beriklim sedang, dampak perubahan iklim tetap mulai dirasakan. Peningkatan suhu udara, cuaca yang semakin tidak menentu, musim kemarau yang lebih panjang, hingga meningkatnya kejadian cuaca ekstrem membawa berbagai konsekuensi terhadap kesehatan masyarakat.
Lantas, bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi kesehatan masyarakat Indonesia, dan siapa saja yang paling rentan terhadap dampaknya?
Perubahan Iklim Membawa Ancaman Kesehatan Baru
Organisasi kesehatan dunia telah lama mengingatkan bahwa perubahan iklim merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan manusia pada abad ke-21.
Perubahan suhu, pola hujan, kualitas udara, hingga meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi memengaruhi berbagai aspek kehidupan yang berkaitan dengan kesehatan.
Dampaknya tidak hanya berupa penyakit akibat suhu panas, tetapi juga peningkatan risiko penyakit menular, gangguan kesehatan mental, kekurangan gizi akibat terganggunya produksi pangan, hingga meningkatnya beban layanan kesehatan.
Dengan kata lain, perubahan iklim memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar perubahan cuaca.
Suhu Udara yang Lebih Panas Memengaruhi Kondisi Tubuh
Meskipun Indonesia tidak mengalami heatwave seperti Eropa, peningkatan suhu udara tetap dapat memberikan dampak terhadap kesehatan.
Aktivitas di luar ruangan pada kondisi cuaca yang sangat panas dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat stress), penurunan konsentrasi, hingga gangguan pada sistem kardiovaskular, terutama bagi kelompok rentan.
Pekerja lapangan, petani, nelayan, pengemudi, serta masyarakat yang beraktivitas di bawah paparan sinar matahari dalam waktu lama menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian.
Selain itu, suhu udara yang tinggi juga dapat mengganggu kualitas tidur dan menurunkan produktivitas masyarakat.
BMKG Ungkap Perubahan Iklim Membuat Cuaca Semakin Sulit Diprediksi
Prof. Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam berbagai kesempatan menjelaskan bahwa perubahan iklim menyebabkan pola cuaca menjadi semakin tidak menentu.
Menurutnya, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk cuaca ekstrem, baik berupa suhu udara yang meningkat, hujan dengan intensitas tinggi, kekeringan, maupun angin kencang.
Ia menegaskan bahwa informasi cuaca dan sistem peringatan dini harus dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya melindungi masyarakat dari berbagai risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
Dampak Kesehatan Tidak Selalu Terlihat Secara Langsung
Prof. Edvin Aldrian, klimatolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menilai bahwa dampak perubahan iklim terhadap kesehatan sering kali berlangsung secara bertahap.
Menurutnya, peningkatan suhu udara dapat memengaruhi kualitas lingkungan hidup, memperburuk pencemaran udara, serta mengubah pola penyebaran berbagai penyakit yang dipengaruhi oleh kondisi iklim.
Karena itu, kesehatan masyarakat perlu menjadi bagian penting dalam strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, bukan hanya fokus pada aspek lingkungan semata.
Penyakit Menular Berpotensi Meningkat
Perubahan pola hujan dan suhu juga dapat memengaruhi perkembangan berbagai penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti nyamuk.
Perubahan kondisi lingkungan memungkinkan berkembangnya habitat nyamuk penyebab demam berdarah maupun penyakit lainnya di wilayah yang sebelumnya relatif aman.
Selain itu, banjir akibat hujan ekstrem juga meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare, leptospirosis, dan infeksi saluran pencernaan apabila sanitasi terganggu.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim memiliki hubungan erat dengan sistem kesehatan masyarakat.
Kualitas Udara Menjadi Perhatian
Musim kemarau yang lebih panjang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Asap yang dihasilkan dari kebakaran tersebut dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.
Kelompok seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit asma dan penyakit paru kronis menjadi kelompok yang paling rentan terhadap pencemaran udara.
Paparan polusi dalam jangka panjang juga berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular.
Kelompok Rentan Perlu Perlindungan Khusus
Tidak semua masyarakat memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap perubahan iklim.
Anak-anak memiliki kemampuan adaptasi tubuh yang belum sempurna.
Lansia lebih rentan mengalami gangguan akibat perubahan suhu.
Ibu hamil memerlukan kondisi lingkungan yang sehat untuk menjaga kesehatan ibu dan janin.
Sementara itu, masyarakat dengan penyakit kronis memerlukan perhatian lebih ketika terjadi cuaca ekstrem.
Karena itu, kebijakan kesehatan masyarakat harus memperhatikan kebutuhan kelompok rentan sebagai bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim.
Adaptasi Dimulai dari Langkah Sederhana
Mengurangi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan tidak selalu memerlukan langkah yang rumit.
Masyarakat dapat memulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjaga kecukupan konsumsi air putih saat cuaca panas, mengurangi aktivitas luar ruangan pada siang hari ketika suhu tinggi, menggunakan pakaian yang sesuai, menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah berkembangnya nyamuk, serta mengikuti informasi cuaca dari BMKG.
Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat layanan kesehatan, meningkatkan sistem peringatan dini, memperluas ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, serta memperbaiki kualitas lingkungan sebagai bagian dari upaya jangka panjang.
Kesehatan Masyarakat Menjadi Bagian dari Adaptasi Iklim
Fenomena gelombang panas di Eropa menjadi pengingat bahwa perubahan iklim memiliki dampak yang jauh melampaui persoalan lingkungan. Di Indonesia, meskipun tidak mengalami gelombang panas dalam pengertian meteorologi seperti di kawasan Eropa, perubahan suhu, cuaca ekstrem, serta perubahan pola musim tetap membawa konsekuensi terhadap kesehatan masyarakat.
Pandangan Prof. Dwikorita Karnawati dari BMKG dan Prof. Edvin Aldrian dari BRIN menunjukkan bahwa perubahan iklim memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk menjadikan sektor kesehatan sebagai bagian penting dalam strategi adaptasi nasional. Perlindungan terhadap kelompok rentan, penguatan sistem layanan kesehatan, pemanfaatan informasi cuaca, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah yang tidak dapat ditunda.
Pada akhirnya, menghadapi perubahan iklim bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga menjaga kualitas hidup manusia. Semakin siap masyarakat dan pemerintah beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi, semakin besar pula kemampuan Indonesia untuk melindungi kesehatan masyarakat di tengah meningkatnya ancaman cuaca ekstrem dan krisis iklim global.