Memahami Esensi Musaharah dalam Kitab Taisirul Kholaq
Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua hati, melainkan juga menghubungkan dua keluarga besar melalui ikatan musaharah (kekeluargaan karena pernikahan). Dalam kitab Taisirul Kholaq, hubungan dengan mertua dan ipar menempati posisi strategis dalam pembentukan akhlak sosial. Mencintai pasangan berarti juga harus belajar menghormati orang-orang yang melahirkannya.
Ketika seseorang mampu menempatkan mertua layaknya orang tua kandung sendiri, keharmonisan rumah tangga akan terjaga dari konflik internal. Sering kali ketegangan dalam keluarga muncul karena ego yang enggan menerima kehadiran keluarga baru. Sahabat MQ perlu membuka pintu hati lebar-lebar untuk merajut persatuan ini dengan penuh ketulusan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa ikatan pernikahan melahirkan hubungan kekeluargaan yang sakral:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا
“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan musaharah (hubungan kekeluargaan).” (QS. Al-Furqan: 54). Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan dengan mertua adalah ketetapan ilahi yang harus dijaga.
Mengapa Tidak Ada Istilah Mantan Mertua dalam Islam?
Dalam konsep fikih dan akhlak Islam, kedudukan mertua sangatlah kuat bahkan tidak akan pernah luntur oleh waktu. Sekalipun terjadi perpisahan dalam hubungan rumah tangga, status mertua tetaplah menjadi mahram yang harus dihormati selamanya. Tidak ada istilah “mantan mertua” dalam kamus hukum Islam terkait adab dan batasan tertentu.
Prinsip ini menunjukkan betapa Islam sangat menghargai ikatan persatuan yang telah dibangun melalui kalimat sakral pernikahan. Menjaga hubungan baik dengan mertua, meskipun pasangan telah tiada atau berpisah, merupakan tanda kematangan iman. Sikap mulia ini akan mendatangkan rida Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketenangan jiwa.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan pentingnya menghormati orang tua dan kerabat dekat pasangan melalui teladan hidupnya. Beliau bersabda:
إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ
“Sesungguhnya bakti yang paling utama adalah seseorang menyambung hubungan dengan orang-orang yang dicintai oleh ayahnya.” (HR. Muslim). Jika sahabat MQ berbuat baik kepada kerabat orang tua, maka berbuat baik kepada orang tua pasangan juga bagian dari kebaktian yang tinggi.
Cara Menyatukan Dua Keluarga Besar Tanpa Drama
Menyatukan dua latar belakang keluarga yang berbeda tentu membutuhkan kelapangan dada dan seni berkomunikasi yang baik. Menghargai perbedaan adat, kebiasaan, dan cara pandang adalah modal utama untuk menghindari gesekan sosiologis. Hindari membanding-bandingkan kebaikan antara keluarga kandung dan keluarga pasangan secara subjektif.
Sahabat MQ disarankan untuk sering memberikan hadiah kecil atau sekadar meluangkan waktu untuk berkunjung dan mendengarkan nasihat mertua. Tindakan sederhana ini sangat efektif untuk menumbuhkan rasa saling memiliki dan memperkuat pilar persatuan. Ketika kedua keluarga besar bersatu dalam doa, keberkahan hidup akan mengalir dengan deras.
Pemberian hadiah secara tulus terbukti mampu menumbuhkan rasa cinta dan menghilangkan rasa canggung antar-keluarga sebagaimana hadis Nabi:
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Saling berilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad). Tradisi mulia ini menjadi resep ampuh untuk mengusir segala drama dalam kehidupan bertetangga dan berkeluarga.