anak

Menyikapi Perundungan dengan Kebaikan yang Meluluhkan Hati

Menghadapi tindakan perundungan atau bullying sering kali memancing amarah dan keinginan untuk membalas dendam dengan hal serupa. Namun, Kitab Taisirul Kholaq mengajarkan trik yang jauh lebih elegan, yaitu dengan tetap konsisten berbuat kebaikan (al-birru). Kebaikan yang ditunjukkan di depan keburukan laksana air jernih yang memadamkan api amarah.

Ustadz Olis Abdul Kholis menjelaskan dalam siaran langsung MQFM bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan hanya akan memperpanjang lingkaran setan permusuhan. Ketika disakiti, cobalah untuk menarik diri sejenak demi menjaga stabilitas emosi. Tunjukkan karakter muslim sejati yang berwibawa dan tidak mudah terprovokasi oleh tindakan kekanak-kanakan orang lain.

Strategi mulia ini selaras dengan arahan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34). Langkah ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi demi terwujudnya persatuan jangka panjang.

Batasan Tegas antara Bersabar dan Menegakkan Keadilan

Bersabar dalam menghadapi gangguan manusia bukan berarti bersikap lemah atau membiarkan kezaliman terus merajalela tanpa batas. Islam adalah agama yang adil dan memiliki perangkat hukum yang jelas untuk melindungi kehormatan setiap individu. Jika tindakan perundungan sudah mengancam keselamatan fisik dan psikis, tindakan tegas harus segera diambil.

Sahabat MQ memiliki hak penuh untuk melaporkan tindakan kejahatan tersebut kepada pihak yang berwenang, baik pihak sekolah, kantor, maupun kepolisian. Langkah hukum ini diambil bukan karena dorongan dendam, melainkan untuk memberikan efek jera dan menegakkan keadilan di muka bumi. Persatuan tidak akan pernah tegak di atas pembiaran kezaliman.

Larangan berbuat zalim dan menganiaya orang lain sangat ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadis qudsi yang sangat populer:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim). Menegakkan aturan hukum adalah bagian dari ikhtiar menjaga kedamaian sosial.

Memilih Lingkungan yang Mendukung Kesehatan Mental dan Spiritual

Langkah preventif terbaik terhindar dari dampak buruk perundungan adalah dengan selektif dalam memilih lingkaran pertemanan. Berada di lingkungan yang berakhlak mulia akan memberikan perlindungan emosional yang sangat kokoh bagi jiwa. Sahabat MQ perlu mencari lingkaran persahabatan yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Fokuskan energi dan waktu untuk mengembangkan potensi diri bersama orang-orang yang memiliki visi hidup yang positif. Tinggalkan komunitas beracun yang hanya gemar menggunjing dan merendahkan martabat orang lain. Dengan demikian, kesehatan mental dan spiritual akan senantiasa terjaga dalam naungan kedamaian Islam.

Pentingnya memilih teman bergaul yang saleh digambarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan perumpamaan yang sangat akurat:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dijadikan teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Teman yang baik akan selalu menuntun pada persatuan dan ketenteraman hati.