Solusi Ampuh Menundukkan Pandangan di Era Digital
Pada zaman yang serba digital ini, godaan visual hadir hampir setiap detik di layar gawai kita tanpa bisa dihindari sepenuhnya. Bagi kaum laki-laki, menjaga pandangan dan syahwat menjadi salah satu perjuangan paling berat yang harus dihadapi sehari-hari. Sahabat MQ, ketidakmampuan mengendalikan mata ini sering kali menjadi akar dari gelisahnya hati dan hilangnya kekhusyukan dalam beribadah.
Pernikahan hadir sebagai sebuah jawaban fungsional sekaligus spiritual untuk mengatasi problematika modern yang sangat menantang ini. Dengan adanya pasangan yang halal, kecenderungan fitrah manusia untuk mencintai keindahan dapat tersalurkan pada tempat yang benar dan dirida Allah SWT. Pikiran yang tadinya liar mengembara ke tempat-tempat yang tidak semestinya, perlahan akan menemukan pelabuhan yang menenangkan.
Rasulullah SAW telah memberikan resep paling mujarab bagi umatnya yang sedang berjuang melawan gejolak muda agar terhindar dari maksiat. Menikah adalah jalan keluar utama, sedangkan bagi yang belum mampu, ada benteng lain yang bisa digunakan sebagai perisai sementara. Simak tuntunan indah dari baginda Nabi SAW berikut ini:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang telah mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi perisai baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menjadikan Rumah sebagai Benteng Kesucian Diri
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya pernah mengupas tuntas bahwa salah satu fungsi esensial dari pernikahan adalah membangun sebuah benteng yang kokoh. Benteng ini bertugas melindungi seorang muslim dari gempuran godaan syahwat yang bisa meruntuhkan keimanan dalam sekejap. Sahabat MQ, ketika sebuah rumah tangga dibangun di atas fondasi takwa, maka rumah tersebut akan memancarkan energi positif yang melindungi penghuninya.
Tanpa adanya benteng yang halal, manusia cenderung mudah goyah ketika diuji dengan keindahan duniawi yang semu. Menikah memberikan rasa aman secara psikologis karena ada tempat untuk saling berbagi keluh kesah dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Sinergi antara suami dan istri inilah yang membuat godaan dari luar terasa hambar dan tidak menarik lagi.
Oleh karena itu, menjaga kehormatan diri setelah menikah menjadi jauh lebih realistis untuk dijalani daripada saat masih menyendiri. Setiap tatapan penuh kasih sayang antara suami istri dinilai sebagai pahala, dan setiap aktivitas bersama berubah menjadi penggugur dosa. Sungguh sebuah konsep kehidupan yang sangat indah yang telah dirancang oleh syariat Islam demi kebahagiaan hamba-Nya.
Menemukan Hakikat Sakinah yang Sesungguhnya
Banyak orang mencari ketenangan hidup dengan cara mengejar karier setinggi langit atau mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Namun, tidak sedikit dari mereka yang tetap merasa hampa di tengah gelimang kemewahan karena rumah hatinya belum berpenghuni. Sahabat MQ, ketenangan sejati atau yang sering disebut sebagai sakinah hanya bisa tumbuh subur dalam institusi pernikahan yang diberkahi.
Rasa tenteram tersebut muncul karena adanya jalinan rasa cinta (mawadah) dan kasih sayang (rahmah) yang ditiupkan langsung oleh Allah SWT ke dalam hati pasangan suami istri. Hubungan yang harmonis ini membuat segala keletihan setelah beraktivitas di luar rumah sirna seketika saat menginjakkan kaki di dalam rumah. Pernikahan mengubah dua ego yang berbeda menjadi satu irama yang saling melengkapi dalam menggapai rida Ilahi.
Kedamaian yang hakiki ini telah diabadikan dengan begitu indah oleh Allah SWT di dalam kitab suci-Nya, sebagai tanda kekuasaan-Nya bagi kaum yang berpikir:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21).