Mengikis Penyakit Kikir yang Bersumber dari Hasutan Setan

Sifat kikir atau pelit merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya dan dapat merusak tatanan kehidupan sosial maupun spiritual seseorang. Sahabat MQ, keengganan untuk berbagi sering kali berakar dari adanya rasa takut yang berlebihan akan kehilangan harta kekayaan yang dimiliki. Ketakutan yang tidak beralasan ini merupakan bentuk keberhasilan dari bisikan dan tipu daya setan yang halus.

Setan akan senantiasa menakut-nakuti manusia dengan bayang-bayang kemiskinan dan kelaparan agar mereka menggenggam erat tangannya dari bersedekah. Mereka dibuat lupa bahwa harta yang ada pada hakikatnya hanyalah titipan sementara yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Padahal, dengan berbagi, rezeki yang dimiliki tidak akan pernah berkurang, melainkan akan semakin bertambah berkah dan suci.

Ketika sifat pelit telah menguasai diri, maka rasa empati terhadap kesulitan sesama manusia akan menjadi tumpul secara perlahan. Hubungan silaturahmi dengan kerabat dekat maupun tetangga sekitar bisa retak akibat egoisme yang terlalu mendominasi dalam dada. Penegasan mengenai sumber dari rasa takut miskin ini telah digambarkan secara gamblang dalam firman Allah Swt.:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا

Artinya: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir); sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 268)

Keajaiban Berbagi dalam Kondisi Lapang Maupun Sempit

Karakter utama dari seorang hamba yang memiliki kualitas takwa yang mumpuni adalah kemampuannya untuk tetap berbagi dalam kondisi apa pun. Sahabat MQ, bersedekah di saat memiliki banyak kelebihan harta adalah sebuah bentuk kesyukuran yang sangat indah dan terpuji. Namun, keajaiban yang sesungguhnya akan terlihat ketika seseorang tetap memilih untuk mengulurkan tangan di saat kondisinya sendiri sedang mengalami kesempitan.

Tindakan mulia ini mencerminkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap jaminan rezeki yang telah diatur oleh Sang Pencipta. Orang yang gemar berbagi meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt. tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya yang menolong orang lain. Setiap rupiah yang dikeluarkan dengan penuh keikhlasan akan diganti dengan pahala yang berlipat ganda serta ketenangan jiwa yang tiada tara.

Kelapangan batin yang dirasakan oleh orang-orang yang dermawan tidak akan pernah bisa ditukar dengan tumpukan emas yang disimpan di dalam brankas. Berbagi juga berfungsi sebagai pembersih dari noda-noda dosa yang melekat pada lembaran amal perbuatan harian manusia. Oleh karena itu, membiasakan diri untuk bersedekah secara rutin adalah investasi terbaik untuk dunia dan akhirat.

Dampak Buruk Menggenggam Harta Secara Berlebihan Bagi Jiwa

Menumpuk-numpuk harta tanpa pernah menunaikan hak-hak orang miskin di dalamnya akan menimbulkan beban psikologis dan spiritual yang sangat berat. Sahabat MQ, jiwa orang yang pelit akan selalu diliputi oleh rasa cemas, curiga, dan ketakutan yang tidak pernah berujung akan kehilangan materinya. Mereka menjadi budak dari harta mereka sendiri, menghabiskan waktu hanya untuk menghitung dan menjaganya dari jangkauan orang lain.

Ketidakbahagiaan batin ini muncul karena hilangnya keberkahan dari rezeki yang tidak pernah dibersihkan melalui jalur zakat, infak, dan sedekah. Harta yang semestinya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. justru berubah menjadi hijab yang tebal yang menghalangi datangnya hidayah. Di hari kiamat kelak, harta yang disimpan dengan penuh kekikiran tersebut akan mewujud menjadi siksaan yang sangat pedih.

Kehidupan dunia yang singkat ini semestinya diisi dengan mengumpulkan bekal amal saleh sebanyak-banyaknya sebagai tabungan di alam keabadian. Mengubah pola pikir dari “apa yang saya dapatkan” menjadi “apa yang bisa saya berikan” adalah langkah awal menuju kebebasan batin yang sejati. Rasulullah Saw. telah memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai dampak fatal dari kehancuran akibat sifat kikir ini:

وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Artinya: “Dan takutlah kalian terhadap sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir itu telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Muslim)