Pintu

Mengubah Sudut Pandang Terhadap Ujian Hidup

Kehidupan di dunia ini memang tidak pernah luput dari perputaran roda ujian, mulai dari hilangnya harta, kegagalan karier, hingga kesedihan yang mendalam. Sebagaimana yang diuraikan secara mendalam oleh Ustadz Suherman Ar-Rozy, M.Ag. dalam program siaran Inspirasi Qur’an – Kajian Kitab Al Hikam, musibah pada hakikatnya adalah segala sesuatu yang menimpa diri kita dan cenderung tidak kita sukai secara manusiawi. Sering kali saat badai tersebut datang menghampiri, respons pertama yang muncul adalah rasa kecewa dan putus asa yang luar biasa. Padahal, jika ditelaah lebih mendalam dengan kacamata iman melalui tuntunan yang beliau sampaikan, setiap jengkal kesulitan tersimpan rahasia besar yang sengaja dipersiapkan untuk menaikkan derajat seorang hamba.

Sahabat MQ, perlu disadari bersama bahwa musibah sebenarnya adalah sebuah mekanisme pembersihan dosa dan penguji kualitas batin manusia. Ketika sesuatu yang tidak disukai terjadi, hal itu bukanlah bentuk kejamnya takdir, melainkan sebuah undangan terselubung agar manusia kembali bersimpuh di hamparan sajadah. Ketika sudut pandang ini berhasil diubah melalui sepuluh langkah sikap terbaik yang diajarkan oleh beliau dalam kajian tersebut, maka rasa sesak di dalam dada akan perlahan memudar, berganti menjadi sebuah rasa penasaran yang positif akan kejutan indah apa yang sedang disiapkan setelah badai ini mereda.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan garansi yang sangat tegas di dalam kitab suci Al-Qur’an mengenai kepastian datangnya kemudahan di balik setiap kesulitan. Janji suci ini menjadi penawar bagi setiap hati yang sedang terluka agar tidak pernah kehilangan harapan dalam menjalani skenario kehidupan. Penegasan tersebut tertuang indah dalam Surah Asy-Syarh ayat 5-6:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5-6)

Menjemput Rezeki yang Tertunda dengan Kunci Istigfar

Pintu-pintu rezeki yang tampak tertutup rapat sering kali diakibatkan oleh tebalnya dinding dosa dan kelalaian yang dilakukan tanpa sadar dalam aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, langkah konkret yang sangat dianjurkan saat badai ujian menerpa adalah memperbanyak ketukan pintu langit melalui untaian kalimat istigfar. Memohon ampunan secara tulus bukan sekadar ritual lisan belaka, melainkan sebuah pembersih noda spiritual yang paling ampuh.

Ketika penyesalan yang jujur telah merasuk ke dalam qolbu, maka sekat-sekat penghambat keberkahan akan runtuh dengan sendirinya, memberikan jalan bagi datangnya pertolongan dari arah yang tidak diduga. Sahabat MQ, istigfar yang diucapkan secara konsisten di kala sempit terbukti mampu mengubah kemalangan menjadi aliran nikmat baru yang jauh lebih besar. Hal ini merupakan sebuah kepastian spiritual yang telah dipraktikkan oleh para nabi dan orang-orang saleh terdahulu.

Mengenai kedahsyatan istigfar sebagai pembuka keran kemakmuran dan solusi dari segala macam kesempitan hidup, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang sangat mencerahkan:

مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Barang siapa memperbanyak istigfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesempitannya, kelapangan bagi setiap kesedihannya, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud)

Sabar dan Syukur sebagai Magnet Keberkahan Melimpah

Mengombinasikan antara rasa sabar saat tertimpa kemalangan dan tetap mencari celah untuk bersyukur adalah magnet paling kuat untuk menarik keberkahan yang melimpah. Dua pilar ini laksana dua sayap burung yang memungkinkannya terbang tinggi melewati pekatnya awan mendung ujian duniawi. Orang yang mampu bersyukur di tengah himpitan masalah menunjukkan tingkat kedewasaan iman yang sudah matang dan kokoh.

Sikap mulia ini memicu cinta Allah, sehingga urusan yang awalnya terlihat sangat rumit akan diurai menjadi begitu mudah dan penuh dengan keajaiban. Sahabat MQ, marilah bersama-sama melatih diri agar tidak hanya bisa bersyukur saat menerima bonus materi, tetapi juga piawai berterima kasih atas proses pendewasaan yang dihadirkan lewat ujian. Keseimbangan inilah yang pada akhirnya mendatangkan ketenangan sejati yang tidak bisa dibeli dengan materi berlimpah sekalipun.

Karakter unik yang sangat mengagumkan dari seorang mukmin sejati ini dipuji secara langsung oleh baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah riwayat yang sangat populer. Keindahan sikap ini tercermin dalam sabda beliau berikut:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika tertimpa kesusahan dia bersabar, maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim)