Harta

Kesombongan Harta yang Menghancurkan Kehidupan Manusia di Dunia

Kecenderungan untuk mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya sering kali melahirkan ilusi bahwa materi dapat menjamin segala hal dalam hidup, termasuk keselamatan dan kemuliaan. Sahabat MQ, Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat keras melalui kisah Abu Lahab yang merasa sombong dan merasa tidak tertandingi karena memiliki kelimpahan harta dan kekuasaan. Kenyataan pahitnya adalah kekayaan materi yang diperoleh dengan cara yang tidak benar atau disikapi dengan keangkuhan sama sekali tidak mampu menyelamatkan seseorang dari kehancuran.

Banyak sekali kerusakan melanda suatu bangsa akibat pengelolaan harta yang buruk serta perilaku sebagian manusia yang menghalalkan segala cara demi menumpuk kekayaan pribadi. Sahabat MQ, kehormatan semu yang diberikan orang lain karena faktor kekayaan akan sirna seketika dan berubah menjadi kebencian yang mendalam di dalam hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan nasib tragis orang-orang yang sombong karena hartanya melalui firman-Nya di dalam kitab suci:

مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

Artinya: “Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.” (QS. Al-Lahab [111]: 2).

Ilusi Kekekalan Duniawi yang Melalaikan Manusia dari Mengingat Kematian

Menghabiskan waktu seumur hidup hanya untuk sibuk menghitung, menimbun, dan memikirkan investasi duniawi tanpa pernah peduli pada urusan akhirat merupakan kerugian yang sangat nyata. Sahabat MQ, Al-Qur’an menggambarkan potret manusia yang celaka akibat terjebak dalam perilaku mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya dengan anggapan bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sifat serakah ini sering kali membuat seseorang melupakan hakikat bahwa seluruh fasilitas dunia pada akhirnya akan ditinggalkan ketika ajal menjemput.

Kematian adalah sebuah kepastian yang akan memisahkan manusia dari seluruh aset berharga, rumah mewah, kendaraan, maupun saldo rekening yang selama ini dibanggakannya. Sahabat MQ, harta kekayaan yang dikumpulkan tidak akan pernah ikut masuk ke dalam liang kubur kecuali apa yang telah disedekahkan atau diwakafkan di jalan Allah. Oleh karena itu, bekerja keras mencari nafkah yang halal harus selalu diiringi dengan kesadaran untuk menginfakkannya demi kemaslahatan bersama.

Mengelola Kekayaan dengan Bijak Sesuai Tuntunan Syariat Islam

Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya raya atau memiliki banyak harta benda melalui usaha perdagangan dan bisnis yang sah. Sahabat MQ, yang dilarang keras dalam agama adalah ketika harta tersebut ditimbun, dikikirkan, dan disalahgunakan hingga membuat pemiliknya bersikap takabur dan lupa diri. Kekayaan yang berada di tangan orang yang saleh justru akan menjadi sarana ibadah yang sangat luar biasa untuk membela agama, bangsa, dan menolong sesama yang membutuhkan.

Panduan terbaik dalam berinteraksi dengan harta adalah dengan menaruh kekayaan tersebut di tangan, bukan memasukkannya ke dalam hati hingga menjadi berhala baru. Sahabat MQ, mari kita gunakan setiap kelebihan rezeki yang Allah titipkan sebagai jembatan untuk meraih rida-Nya dan membantu meringankan beban orang-orang yang sedang mengalami kesulitan hidup. Dengan demikian, harta yang dimiliki akan mendatangkan keberkahan yang berlimpah di dunia dan keselamatan di akhirat.