Menemukan Arah yang Benar di Tengah Belantara Pendapat Keagamaan
Memutuskan untuk berhijrah dan kembali ke jalan agama adalah sebuah hidayah yang sangat mahal dan patut disyukuri dengan sepenuh hati. Namun, tidak jarang seorang pemula merasa kebingungan ketika dihadapkan pada banyaknya aliran, pendapat, dan jenis amalan yang ada di masyarakat. Rasa cemas takut salah memilih jalan sering kali menjadi beban pikiran yang menghambat proses belajar. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui peta jalan yang jelas agar proses hijrah berjalan di atas jalur yang aman.
Langkah pertama yang harus dilakukan bukanlah langsung mengamalkan semua hal secara acak, melainkan meluruskan fondasi akidah terlebih dahulu. Akidah yang benar adalah jangkar yang menjaga keimanan agar tidak terombang-ambing oleh syubhat yang bertebaran. Mengetahui siapa yang harus diikuti dan bagaimana cara memahami dalil adalah kunci keselamatan yang paling mendasar. Tanpa adanya fondasi yang kuat, bangunan amal seseorang akan sangat rapuh dan mudah runtuh ketika diterpa badai ujian.
Pedoman utama dalam beragama sudah ditinggalkan secara lengkap oleh Rasulullah agar umatnya tidak tersesat di kemudian hari. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menegaskan hal ini dalam sebuah wasiat yang sangat fundamental:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
“Aku tinggalkan bersama kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat selama-lamanya jika berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik). Sahabat MQ perlu menjadikan dua hal ini sebagai standar utama dalam menilai setiap amalan.
Mengapa Harus Mengikuti Pemahaman Salafush Saleh dan Empat Imam Mazhab?
Dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah, seseorang tidak diperkenankan untuk menafsirkan ayat atau hadis sesuai dengan selera logika pribadinya. Generasi terbaik yang paling memahami maksud dari setiap wahyu yang turun adalah para sahabat Nabi, yang kemudian dikenal sebagai Salafush Saleh. Mereka menyaksikan langsung konteks turunnya ayat dan mendapatkan bimbingan intensif dari Rasulullah. Oleh sebab itu, mengikuti pemahaman mereka adalah jaminan keselamatan dalam beragama.
Setelah generasi sahabat berlalu, estafet keilmuan ini dilanjutkan oleh para tabiin dan disistematisasikan oleh empat imam mazhab yang agung. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal bukanlah pembuat ajaran baru, melainkan perumus metode pemahaman dari para sahabat. Merujuk pada karya-karya mereka adalah cara paling aman untuk memahami syariat secara utuh tanpa melenceng dari jalur aslinya. Kolaborasi ilmu inilah yang menjaga orisinalitas Islam hingga hari ini.
Allah sendiri telah memberikan perintah untuk selalu bertanya kepada para ulama atau ahli ilmu ketika seseorang tidak mengetahui suatu perkara. Hal ini bertujuan agar umat tidak menebak-nebak dalam urusan ibadah:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). Melalui jalur ilmu ini, sahabat MQ akan terhindar dari kekeliruan yang fatal dalam beramal.
Skala Prioritas Amalan untuk Menjaga Keistikamahan Iman Pemula
Bagi seseorang yang baru saja menata hidupnya di atas jalan sunnah, fokus pada amalan-amalan wajib adalah prioritas yang tidak boleh diabaikan. Menyempurnakan salat lima waktu, memperbaiki wudu, dan membersihkan tauhid dari noda kesyirikan harus didahulukan daripada amalan sunnah yang bercabang-cabang. Sering kali ada jebakan di mana seorang pemula terlalu bersemangat pada amalan sunnah, namun melalaikan kewajiban yang utama. Pembagian porsi energi yang tepat akan menjaga keistikamahan dalam jangka panjang.
Setelah amalan wajib berjalan dengan konsisten, barulah secara bertahap menambahkan amalan-amalan sunnah yang ringan namun rutin dikerjakan. Belajar secara bertahap (tadarruj) adalah metode bimbingan Islam yang paling efektif agar jiwa tidak merasa jenuh dan kelelahan. Menghadiri majelis ilmu yang membahas akidah dan fikih dasar secara rutin juga akan memberikan asupan nutrisi spiritual yang stabil. Dengan demikian, proses hijrah akan terasa indah dan membawa kedamaian di dalam hati.
Amalan yang paling dicintai oleh Allah bukanlah yang sekali dikerjakan dalam jumlah besar, melainkan yang dilakukan secara terus-menerus. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyampaikan kabar gembira ini melalui sabdanya:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus (konsisten) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari). Semoga sahabat MQ bisa menerapkan prinsip konsistensi ini dalam kehidupan sehari-hari.