MQFMNETWORK.COM | Kabupaten Bandung Barat kembali dilanda bencana longsor yang menimpa Desa Pasirlangu. Peristiwa ini memperpanjang daftar kejadian serupa yang berulang dalam beberapa tahun terakhir. Intensitas hujan yang tinggi, ditambah kondisi geografis perbukitan, menjadikan wilayah ini rawan terhadap pergerakan tanah.
Pengamat kebencanaan Dr. Ir. Sri Hidayati, M.T. menilai bahwa pola longsor yang terus berulang menunjukkan adanya tekanan serius terhadap daya dukung lingkungan. Menurutnya, keseimbangan antara kondisi alam dan aktivitas manusia di wilayah perbukitan semakin terganggu.
Sri Hidayati menegaskan bahwa bencana yang berulang menandakan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan lingkungan dan kebijakan pembangunan di kawasan rawan.
Daya Dukung Lingkungan yang Terus Menurun
Daya dukung lingkungan di Bandung Barat dinilai semakin terbebani oleh alih fungsi lahan dan aktivitas pembangunan yang tidak terkendali. Lereng-lereng curam yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan lindung justru dimanfaatkan untuk permukiman dan pertanian intensif.
Pengamat lingkungan Dr. Ahmad Safrudin menyebut bahwa menurunnya daya dukung lingkungan berkontribusi besar terhadap meningkatnya risiko longsor. Menurutnya, vegetasi alami yang berfungsi menahan air dan tanah semakin berkurang akibat tekanan ekonomi dan pembangunan.
Ahmad menekankan bahwa tanpa upaya rehabilitasi dan pengendalian tata ruang, daya dukung lingkungan akan terus menurun dan memperbesar potensi bencana di masa depan.
Evaluasi Penanganan Longsor oleh Pemerintah
Penanganan longsor di Bandung Barat selama ini dinilai cukup responsif dalam tahap darurat, namun masih menghadapi tantangan pada tahap pencegahan. Pemerintah daerah bersama BPBD kerap bergerak cepat saat bencana terjadi, tetapi upaya mitigasi jangka panjang belum sepenuhnya optimal.
Pengamat kebijakan publik Dr. Trubus Rahadiansyah menilai bahwa evaluasi penanganan bencana perlu difokuskan pada tahap pra-bencana. Menurutnya, kebijakan yang hanya menitikberatkan pada respons darurat tidak akan mampu memutus rantai bencana berulang.
Trubus menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh harus mencakup perencanaan tata ruang, pengawasan pembangunan, dan penguatan kapasitas daerah.
Peran Masyarakat dalam Menjaga Lingkungan
Masyarakat lokal memiliki peran penting dalam menjaga daya dukung lingkungan di wilayah rawan longsor. Pola pemanfaatan lahan dan perilaku sehari-hari warga turut memengaruhi stabilitas lingkungan perbukitan.
Pengamat sosial lingkungan Dr. Nia Kurniasari menilai bahwa keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan perlu diperkuat. Menurutnya, pendekatan partisipatif akan mendorong kesadaran kolektif untuk menjaga kawasan rawan dari aktivitas yang berisiko.
Nia menambahkan bahwa edukasi lingkungan yang berkelanjutan dapat menjadi kunci dalam membangun budaya sadar bencana di tingkat lokal.
Menata Pembangunan Berbasis Daya Dukung
Bencana longsor yang berulang di Bandung Barat menjadi peringatan penting bagi arah pembangunan daerah. Penataan pembangunan berbasis daya dukung lingkungan dinilai sebagai langkah mendesak untuk mengurangi risiko bencana.
Para pengamat sepakat bahwa tanpa perubahan pendekatan pembangunan dan pengelolaan lingkungan yang lebih bijak, bencana longsor akan terus menghantui wilayah perbukitan Bandung Barat dan mengancam keselamatan masyarakat.