Dua Sisi Medsos
Sahabat MQ, di era digital seperti sekarang media sosial bukan lagi hal yang asing bagi kita. Hampir setiap orang memiliki akun di berbagai platform seperti Instagram, Tiktok, Facebook hinga Twitter. Media sosial adalah alat komunikasi digital yang memungkinkan siapa pun berbagi informasi, ide, atau kreativitas tanpa batas ruang dan waktu. Dengan medsos, seseorang bisa menginspirasi, berdakwah, bahkan membangun bisnis.
Semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa terpapar pengaruh media sosial. Bagi anak muda, medsos sering jadi tempat mencari jati diri. Tapi jika tidak dibimbing, mereka bisa mudah terpengaruh oleh tren yang tidak sesuai nilai Islam. Bahkan, orang dewasa pun bisa tergelincir dalam perbandingan sosial, iri hati, atau pencitraan semu, yang membuat hati tidak tenang.
Dampaknya muncul ketika seseorang tidak mampu mengendalikan diri dalam menggunakan media sosial. Ketika waktu produktif habis hanya untuk scrolling tanpa tujuan, tidur terganggu, hubungan keluarga renggang, dan fokus ibadah menurun di situlah sisi gelap. Jiika, digunakan dengan niat baik dan waktu yang terukur, media sosial bisa menjadi jalan kebaikan dan sumber pahala.
Pengaruh media sosial terasa di seluruh aspek kehidupan di rumah, sekolah, tempat kerja, bahkan di ruang ibadah. Misalnya, seseorang bisa menyebarkan ilmu atau dakwah lewat konten digital dari rumahnya, tapi juga bisa terjebak dalam ujaran kebencian atau fitnah di ruang komentar yang sama. Setiap jari yang menulis dan membagikan sesuatu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bijak bermedsos berarti menjaga niat, waktu, dan isi konten agar tidak menimbulkan mudarat bagi diri sendiri maupun orang lain. Apalagi, para ahli memperkirakan 1,5 miliar pekerjaan akan terpengaruh oleh kemajuan kecerdasan buatan (AI) pada 2030, yang juga berkembang lewat dunia digital. Artinya, dunia maya semakin kuat pengaruhnya terhadap kehidupan nyata maka harus diimbangi dengan akhlak dan kesadaran spiritual.
Gunakan media sosial untuk hal yang bermanfaat, seperti belajar, berdakwah, atau berbagi inspirasi serta batasi waktu penggunaan, agar tidak mengganggu ibadah dan aktivitas sosial nyata.
Sahabat MQ, media sosial adalah alat, bukan tujuan. Ia bisa menjadi ladang pahala atau sumber masalah, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Dunia digital memang menawarkan peluang luar biasa, termasuk kemudahan dengan kecerdasan buatan (AI), tapi tetaplah ingat bahwa kebijaksanaan dan akhlak adalah benteng utama seorang muslim. Gunakan media sosial untuk menebar manfaat, bukan mudarat karena setiap postingan bisa menjadi jejak digital yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Program: Inspirasi Pagi – Manajemen Keluarga
Narasumber: Ustadz. Budi Prayitno
Penyiar: Muhammad Huda