Nikmat yang Kita Hirup, tapi Tidak Pernah Kita Sadari
Seberapa sering kita memikirkan nafas kita sendiri? Mungkin tidak pernah. Kita bangun tidur, menarik napas pertama pagi itu, lalu menjalani hari seolah-olah hidup bergerak otomatis. Padahal dalam satu hari, kita bernapas sekitar 23.000 kali. Dan setiap tarikan nafas itu adalah nikmat. Setiap oksigen yang masuk adalah rezeki. Setiap detik jantung berdetak sekitar 100.000 kali sehari adalah bukti bahwa Allah tidak pernah berhenti menjaga kita.
Dalam kajian Inspirasi Qur’an MQFM Bandung, Ustadz Firman Afifuddin Sholeh mengajak para pendengar berhenti sejenak untuk merenungi semua ini. “Coba hitung nikmat Allah satu saja: napas,” katanya. Tiba-tiba suasana studio hening. Semua orang mulai sadar bahwa mereka sudah diberi terlalu banyak tanpa pernah meminta.
Allah berfirman:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini bukan hanya informasi. Ia adalah tamparan lembut yang mengingatkan manusia bahwa hidup ini lebih banyak diberi daripada diminta. Kita tidak pernah membayar jantung untuk tetap bekerja. Kita tidak pernah mengirim tagihan kepada paru-paru agar tetap membuka setiap pagi. Semua berjalan karena rahmat Allah yang begitu lembut, begitu dekat, tapi sering tidak disadari.
Nikmat Fisik, Tubuh Manusia Nilainya Tak Terbayangkan
Ustadz Firman kemudian mengangkat satu kisah yang membuat semua pendengar terdiam. Kisah dari Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar yang sangat dikenal karena kezuhudannya. Suatu hari ada seorang lelaki datang kepadanya dan berkata, “Wahai imam, aku orang miskin.” Hasan Al-Basri menatap lelaki itu lalu bertanya:
“Jika ada orang menawarkan 20 miliar rupiah untuk kedua matamu, apakah engkau akan menjualnya?”
Lelaki itu terkejut dan menjawab, “Tidak, tentu tidak.”
Kemudian Hasan Al-Basri bertanya lagi,
“Kalau untuk tanganmu? Untuk kakimu? Untuk pendengaranmu? Untuk akalmu?”
Lelaki itu kembali menjawab, “Tidak.”
Hasan Al-Basri lalu berkata,
“Berarti engkau memiliki nikmat yang nilainya lebih dari triliunan. Lalu engkau masih berkata engkau miskin?”
Pada saat itu, lelaki itu menangis. Dan dalam kajian MQFM, banyak pendengar pun merasakan hal yang sama. Ternyata selama ini manusia sering merasa kekurangan, padahal tubuhnya saja sudah terlalu mahal untuk dihitung. Mata yang bisa melihat warna biru langit, tangan yang bisa menggenggam anak, kaki yang bisa berjalan ke masjid semuanya adalah nikmat yang nilainya tak dapat dibayar.
Manusia sering mengeluh, padahal jika Allah menahan satu organ dalam tubuh hanya satu jam saja, hidup akan berubah menjadi derita. Betapa murah hati Allah, tetapi betapa pelitnya manusia dalam bersyukur.
Nikmat Spiritual, Nikmat Paling Mulia yang Tidak Dilihat Mata
Namun Ustadz Firman kemudian menjelaskan hal yang lebih menggetarkan, nikmat terbesar manusia bukan yang terlihat, tetapi yang tidak kasat mata. Inilah nikmat yang Allah berikan hanya kepada hamba pilihan. Nikmat itu meliputi:
- Nikmat Bisa Bangun Tahajud
Tidak semua orang bisa bangun malam. Bahkan tidak semua orang diberi keinginan untuk bangun malam. Ada yang tidur nyenyak karena lelah, ada yang bahkan tidak terlintas sedikitpun keinginan untuk berdiri di hadapan Allah pada keheningan malam. Maka ketika seseorang bisa bangun tahajud even hanya untuk 2 rakaat itu adalah nikmat maknawi yang hanya diberikan kepada hati yang Allah lembutkan.
- Nikmat Bisa Membaca Al-Qur’an
Ada orang yang sangat ingin membaca Qur’an tetapi tidak punya kemampuan. Ada juga yang bisa membaca, tetapi hatinya tidak digerakkan untuk membuka mushaf. Jika hari ini kita bisa membaca Qur’an walau satu ayat saja, itu bukan karena hebatnya diri kita, tetapi karena Allah memberi izin.
- Nikmat Bisa Bertaubat
Tidak semua orang diberi kemampuan untuk menangis di hadapan Allah. Tidak semua orang diberi kemampuan untuk merasa bersalah saat berbuat dosa. Banyak orang berdosa tapi hatinya keras. Mereka tidak merasa ada yang salah. Maka ketika Allah memberi rasa sesal, itu adalah tanda bahwa Allah masih menjaga hatimu.
- Nikmat Bisa Menahan Maksiat
Di zaman ini, godaan maksiat ada di mana-mana: di ponsel, di jalan, di media sosial. Jika Allah menolongmu menahannya meski berat itu adalah nikmat yang jauh lebih besar daripada nikmat fisik.
Ustadz Firman menyebut nikmat-nikmat ini sebagai “nikmat mulia”, karena nikmat spiritual tidak diberikan kepada semua manusia. Nikmat ini adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa Allah kehendaki kebaikan, Allah jadikan ia memahami agama.”
(HR. Bukhari)
Hidayah adalah nikmat yang tidak dijual dan tidak diwariskan, tetapi diberikan langsung dari Allah.
Nikmat yang Tidak Terlihat Justru Menyelamatkan Kita
Siaran MQFM mengingatkan bahwa nikmat fisik membuat hidup nyaman, tetapi nikmat spiritual membuat hidup selamat. Nikmat fisik bisa hilang kapan saja: kesehatan, harta, pekerjaan, wajah, tubuh semua bisa berubah atau pergi. Namun nikmat iman membuat manusia kuat meskipun hidupnya penuh ujian.
Ada orang miskin tetapi bahagia. Ada orang berkecukupan tetapi gelisah. Ada yang punya segalanya tetapi tidak tenang. Ini karena nikmat fisik tidak menjamin ketentraman hati.
Nikmat seperti:
- hati yang lembut,
- iman yang terus hidup,
- hidayah yang dijaga,
- kemampuan istiqamah,
adalah nikmat yang menentukan masa depan seseorang di dunia dan di akhirat. Nikmat ini membuat manusia tetap tegak meski ujian datang bertubi-tubi. Ustadz Firman menutup kajian dengan kalimat yang membuat banyak pendengar terharu: “Jika Allah mengambil sebagian nikmat dunia darimu, tetapi masih menyisakan iman di hatimu, maka sebenarnya Allah tidak mengambil apa-apa.”
Nikmat Terbesar Ada dalam Hati, Bukan di Mata
Kita sering lupa bahwa nikmat yang terlihat bukanlah nikmat yang paling penting. Nikmat terbesar justru yang tak terlihat: nikmat iman, nikmat taat, nikmat dekat dengan Allah. Inilah nikmat yang menjaga manusia saat dunia menggoyangkan hidupnya. Siaran MQFM Bandung hari itu mengingatkan bahwa manusia sering melihat nikmat yang diberikan kepada orang lain, tetapi lupa melihat nikmat terbesar yang sudah ada di dirinya. Dan semakin seseorang mengenal nikmat-nikmat ini, ia semakin malu untuk mengeluh dan semakin ringan untuk bersyukur. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang melihat nikmat dengan hati, bukan hanya dengan mata.