Bahaya Laten Sifat Riya dalam Beribadah
Melakukan amal kebaikan seperti bersedekah, membantu orang tua, dan mendirikan salat adalah perbuatan yang sangat terpuji. Namun, kebaikan-kebaikan yang tampak megah secara lahiriah tersebut belum tentu memiliki nilai apa pun di sisi Allah jika tidak dijaga kesucian niatnya. Ada sebuah penyakit halus yang sering kali menyusup ke dalam hati manusia tanpa disadari, yaitu keinginan untuk dipuji, diakui, dan dihargai oleh sesama makhluk.
Ketika orientasi amal bergeser dari mencari rida Ilahi menjadi mencari tepuk tangan manusia, maka hancurlah seluruh nilai spiritual dari ibadah tersebut. Sahabat MQ perlu memahami bahwa makhluk adalah sekumpulan pribadi yang lemah, yang tidak memiliki kuasa untuk memberikan pahala maupun menjamin keselamatan di akhirat kelak. Mengharapkan sanjungan dari mereka hanyalah sebuah kesia-siaan yang berujung pada kerugian yang teramat besar di hari perhitungan nanti.
Keikhlasan adalah syarat mutlak agar sebuah amal dapat diterima dan mendatangkan rida dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.”
Membebaskan Diri dari Belenggu Pujian Makhluk
Sifat haus akan pengakuan sering kali membuat seseorang merasa gatal untuk memamerkan setiap jasa dan kebaikan yang telah dilakukannya. Godaan untuk menceritakan sumbangan yang telah diberikan atau pengorbanan yang telah dilewati sangatlah kuat merongrong keteguhan jiwa. Padahal, semakin gigih usaha manusia untuk menonjolkan jasanya di hadapan orang lain, semakin menipis pula kadar keikhlasan yang tersimpan di dalam lubuk hatinya.
Mencapai derajat ikhlas memerlukan latihan yang berkesinambungan dan kesediaan untuk menyembunyikan amal kebaikan rapat-rapat, sebagaimana seseorang menyembunyikan aib-aibnya. Ketika sahabat MQ telah sampai pada tingkat di mana pujian dan cercaan manusia terasa sama saja, maka itulah tanda bahwa hati telah merdeka. Fokus utama kehidupan hanyalah memastikan bahwa setiap aktivitas yang dilakukan tercatat sebagai amal saleh yang tulus di buku catatan malaikat.
Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam sangat mengkhawatirkan syirik kecil atau riya ini menimpa umatnya karena sifatnya yang sangat samar. Beliau bersabda dalam sebuah hadis:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya, ‘Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu riya’.” (HR. Ahmad).
Menjaga Konsistensi Niat di Tengah Badai Dunia
Memulai sebuah amal dengan niat yang ikhlas mungkin terasa mudah, namun mempertahankan keikhlasan tersebut hingga akhir hayat adalah perjuangan yang tiada henti. Setan akan terus membisikkan rasa bangga diri (ujub) setelah seseorang berhasil melakukan sebuah ketaatan yang besar. Jika rasa bangga tersebut dibiarkan tumbuh subur, ia akan merusak keindahan amal dan mengubahnya menjadi tumpukan abu yang beterbangan ditiup angin kencang.
Oleh karena itu, setiap selesai melakukan kebaikan, sangat dianjurkan untuk segera beristigfar dan memohon ampunan kepada Allah atas segala kekurangan yang ada. Menyadari bahwa kemampuan untuk berbuat baik pun merupakan taufik dan pertolongan dari Allah akan mengikis kesombongan dalam diri sahabat MQ. Dengan mengembalikan segala pujian hanya kepada-Nya, hati akan tetap terjaga dalam kebersihan dan terhindar dari kehancuran pahala yang sia-sia.
Kerugian bagi orang-orang yang salah dalam menetapkan niat amalnya di dunia digambarkan dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 103-104:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًاۗ الَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?’ (Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”