Booming Pekerja Informal di Indonesia, Apa Efeknya?
MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Sahabat MQ, Kita pahami bersama bahwa di tengah perubahan ekonomi global dan tekanan struktural yang terus membayangi, Indonesia kini menghadapi paradoks serius di pasar tenaga kerja. Sektor formal belum mampu menyerap seluruh angkatan kerja baru, sementara sektor informal justru tumbuh pesat, namun dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Dampaknya cukup signifikan. Ketidakseimbangan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja tidak berjalan beriringan. Sektor formal yang seharusnya menjadi tulang punggung ketenagakerjaan justru stagnan, sementara sektor informal menanggung beban besar penyediaan pekerjaan tanpa perlindungan sosial memadai.
Fenomena ini ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia. Bank Dunia dalam analisis terbarunya terhadap kawasan Asia Timur dan Pasifik menyoroti lonjakan pekerja informal sebagai tanda menurunnya kualitas pekerjaan nasional, sekaligus potensi munculnya kemiskinan baru di negara-negara berkembang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, proporsi pekerja informal di Indonesia telah mencapai 59,40% atau sekitar 86,58 juta orang dari total angkatan kerja nasional. Sementara itu, sektor formal justru menurun menjadi 40,60%.
Kenaikan proporsi pekerja informal ini salah satunya dipengaruhi oleh meningkatnya partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi informal seperti womanpreneur, usaha kecil dan menengah (UMKM), perdagangan, serta berbagai sektor non-formal lainnya.
Ekonom Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa tren peningkatan pekerja informal ini sebenarnya telah berlangsung lebih dari lima tahun terakhir. Menurutnya, ada dua faktor penyebab utama diantaranya :
- Aadanya mismatch antara keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan kompetensi yang diperoleh dari pendidikan.
- Adanya persoalan struktural, seperti melemahnya sektor-sektor yang memiliki kemampuan besar dalam menyerap tenaga kerja.
Meski demikian, tidak semua usaha informal rentan. Sebagian mampu bertahan bahkan menjadi penopang ekonomi di masa sulit, seperti saat pandemi Covid-19. Namun, secara jangka panjang, sektor informal tidak bisa dijadikan sandaran utama karena sebagian besar pekerjanya tidak memiliki jaminan sosial maupun kesehatan.
Banyak pekerja masuk ke sektor informal bukan karena pilihan, melainkan karena keterbatasan akses ke sektor formal. Mereka ingin bekerja secara resmi, tetapi tidak terserap, sehingga beralih ke sektor informal demi memperoleh penghasilan. Pemerintah sebenarnya telah memberikan sejumlah dukungan, seperti program Kartu Prakerja yang bertujuan meningkatkan keterampilan pencari kerja. Namun, tantangan masih muncul ketika pelatihan telah selesai, tetapi penyerapan tenaga kerja tetap rendah. Akibatnya, banyak lulusan pelatihan kembali mencari cara sendiri untuk memperoleh penghasilan.
Ke depan, diharapkan pemerintah tetap fokus pada upaya penciptaan lapangan kerja yang lebih layak dan berkelanjutan, terutama melalui penguatan sektor industri manufaktur. Provinsi Jawa Barat, misalnya, memiliki kapasitas fiskal daerah yang cukup besar dan relatif fleksibel untuk mengeluarkan kebijakan yang mendukung perluasan kesempatan kerja berkualitas.
Program : Sudut Pandang – Inspirasi Pagi
Narasumber : Yusuf Rendy Manilet
Penyiar : Muhammad Huda – Syifa Khoirun Nisa