Air

Waspada Terhadap Konsumsi Informasi di Media Sosial

Di era yang serba cepat ini, kita Sahabat MQ sering kali terpapar oleh arus informasi yang tidak ada habisnya melalui genggaman tangan. Ustaz Firman Afifudin Saleh dalam program Inspirasi Qur’an, mengingatkan bahwa apa yang kita lihat dan dengar di media sosial memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi keimanan kita. Jika kita tidak selektif dalam memilih tontonan atau bacaan, dikhawatirkan hati kita akan mudah terjangkit penyakit wahn, yaitu terlalu cinta dunia dan takut akan kematian.

Kita Sahabat MQ diajak untuk lebih bijak dalam mengatur waktu layar agar tidak mengganggu waktu-waktu utama bersama Allah. Terlalu sering melihat gaya hidup orang lain yang serba mewah terkadang bisa memicu rasa kurang syukur atau iri hati dalam diri kita. Oleh karena itu, penting bagi kita Sahabat MQ untuk selalu menyaring setiap konten yang masuk dan memastikan bahwa teknologi yang kita gunakan justru mendekatkan kita kepada kebaikan, bukan sebaliknya.

Allah Swt. telah memberikan peringatan agar kita tidak mengikuti sesuatu yang tidak kita ketahui hakikatnya, karena setiap indra kita akan dimintai pertanggungjawaban. Kita Sahabat MQ harus menyadari bahwa mata dan telinga adalah pintu masuk bagi cahaya atau kegelapan ke dalam hati kita masing-masing.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36).

Menghindari Penyakit Flexing dan Sifat Pamer

Fenomena pamer atau yang sering kita kenal dengan istilah flexing menjadi tantangan moral yang nyata bagi kita Sahabat MQ saat ini. Ustaz Firman Afifudin Saleh menekankan bahwa setiap nikmat yang kita terima seharusnya disikapi dengan rasa syukur yang rendah hati, bukan untuk dibanggakan di depan orang lain. Sifat ingin dipuji atau riya dapat menghapus pahala amal saleh yang sudah susah payah kita bangun selama bulan Ramadan yang lalu.

Kita Sahabat MQ perlu melatih diri untuk merahasiakan sebagian amal ibadah dan kebaikan kita agar kemurnian niat tetap terjaga. Kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya jumlah “suka” atau komentar di dunia maya, melainkan pada ketenangan saat kita hanya berdua dengan Allah dalam sujud malam. Dengan menjaga privasi syukur kita, kita Sahabat MQ sedang melindungi hati dari racun kesombongan yang bisa merusak hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Rasulullah saw. sangat mengkhawatirkan umatnya terjebak dalam syirik kecil, yaitu riya atau pamer dalam beribadah maupun dalam menunjukkan kenikmatan. Kita Sahabat MQ diharapkan selalu waspada terhadap bisikan halus yang ingin membuat kita merasa lebih hebat atau lebih mulia daripada orang lain di sekitar kita.

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: ‘Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Riya’ (pamer)’.” (HR. Ahmad).

Berpegang Teguh pada Al-Qur’an Sebagai Kompas Hidup

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kita Sahabat MQ membutuhkan pegangan yang tidak akan pernah berubah nilainya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Ustaz Firman Afifudin Saleh mengajak kita semua untuk menjadikan ayat-ayat Allah sebagai rujukan utama dalam mengambil setiap keputusan penting. Tanpa panduan wahyu, kita Sahabat MQ akan mudah terombang-ambing oleh tren atau opini publik yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai agama.

Membaca Al-Qur’an dengan tadabur akan memberikan kita kacamata iman dalam melihat setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini. Kita Sahabat MQ akan lebih tenang menghadapi ketidakpastian masa depan karena kita tahu bahwa segala sesuatu berjalan atas kehendak-Nya yang Maha Bijaksana. Mari kita jadikan interaksi dengan Al-Qur’an sebagai kebutuhan pokok harian kita, agar jiwa kita tetap sehat dan bercahaya di mana pun kita berada.

Allah Swt. menjanjikan petunjuk bagi siapa saja yang mau menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidupnya dengan sungguh sungguh. Kita Sahabat MQ harus yakin bahwa tidak ada kesesatan bagi mereka yang tetap teguh memegang tali agama Allah hingga akhir perjalanan hidup di dunia ini.

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin.” (QS. Al-Isra: 9).