Sahabat MQ, banyak orang menghabiskan seluruh energinya untuk mengejar pengakuan dari sesama manusia. Kita sering merasa bangga saat dipuji dan merasa hancur saat dikritik atau diremehkan, seolah-olah harga diri kita ditentukan oleh lisan makhluk yang juga lemah. Melalui Kajian Al-Hikam yang disampaikan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di Masjid Daarut Tauhiid Bandung, kita diingatkan bahwa kemuliaan yang hakiki tidak terletak pada atribut duniawi. Kemuliaan sejati justru hadir saat seseorang mampu memerdekakan hatinya dari ketergantungan kepada selain Allah dan hanya fokus mencari penilaian dari Sang Khalik.
Melepaskan Belenggu Penilaian Makhluk
Terlalu memikirkan apa kata orang hanya akan membuat hidup kita terasa sangat berat dan penuh kepura-puraan. Sahabat MQ, bayangkan betapa lelahnya jika setiap langkah yang kita ambil harus disesuaikan dengan selera orang lain agar tetap mendapatkan pujian. Aa Gym menekankan bahwa pujian manusia sebenarnya hanyalah “topeng” yang Allah pasangkan karena Dia masih menutupi aib-aib kita. Jika Allah membuka satu saja keburukan kita, maka semua pujian itu akan berubah menjadi hinaan dalam sekejap. Oleh karena itu, jangan pernah merasa besar karena pujian, dan jangan merasa kerdil karena cacian, karena keduanya tidak mengubah kedudukan kita di hadapan Allah.
Keinginan untuk selalu tampil sempurna di mata makhluk sering kali menjadi akar dari penyakit riya dan sombong yang merusak amal ibadah. Kita harus menyadari bahwa manusia tidak memiliki kuasa untuk memberikan manfaat atau mudarat sedikit pun tanpa izin-Nya. Fokus pada penilaian makhluk hanya akan melahirkan kekecewaan, karena hati manusia mudah sekali bolak-balik; hari ini mereka memuja, esok bisa jadi mereka mencela. Dengan melepaskan harapan pada pengakuan dunia, kita akan merasakan kemerdekaan jiwa yang luar biasa, di mana pujian tidak membuat kita terbang dan cacian tidak membuat kita tumbang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan hamba-Nya bahwa kemuliaan itu sepenuhnya milik-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah Fatir ayat 10:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.”
Membangun Harga Diri di Atas Ketaatan
Harga diri seorang mukmin tidak diukur dari seberapa mewah kendaraan yang dikemudikan atau seberapa tinggi jabatan yang disandang, melainkan dari seberapa kokoh integritas dan ketakwaannya. Sahabat MQ, ketaatan kepada Allah adalah pakaian kemuliaan yang tidak akan pernah luntur oleh zaman. Saat kita lebih takut melanggar perintah Allah daripada takut kehilangan jabatan, saat itulah kita telah mencapai derajat kemuliaan yang sesungguhnya. Ketaatan membuat seseorang memiliki wibawa yang tulus (haibah) yang terpancar dari ketenangan hatinya, bukan dari paksaan atau pencitraan di media sosial.
Sering kali kita merasa rendah diri saat tidak memiliki harta sebanyak orang lain, padahal rendah diri yang benar hanyalah di hadapan Allah saat kita bersujud. Aa Gym mengajak kita untuk membangun kualitas diri melalui amal-amal tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah, karena amal seperti inilah yang paling kuat menjaga keikhlasan. Keikhlasan akan melahirkan rasa cukup (qana’ah) yang membuat seseorang tetap merasa mulia meski hidup dalam kesederhanaan. Sebaliknya, tanpa ketaatan, meskipun seseorang bergelimang kemewahan, hatinya akan tetap merasa hina dan selalu merasa kekurangan karena tidak pernah puas dengan apa yang ada.
Sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ mengenai standar kemuliaan manusia yang sebenarnya di mata Sang Pencipta, Beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim).
Menjadi Hamba yang Dicintai Langit
Tujuan akhir dari setiap usaha kita seharusnya adalah menjadi hamba yang dikenal oleh penduduk langit, meskipun mungkin tidak dikenal luas oleh penduduk bumi. Sahabat MQ, orang yang hatinya sudah terpaut dengan Allah akan lebih peduli pada keberkahan daripada sekadar popularitas. Ketika Allah sudah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memerintahkan penduduk langit dan bumi untuk mencintainya pula tanpa perlu ia bersusah payah mencari muka di hadapan manusia. Kemuliaan yang didapat melalui jalur ketaatan akan membawa ketenangan abadi, sedangkan kemuliaan dari jalur maksiat atau pencitraan hanya akan membawa kegelisahan yang panjang.
Mari kita latih diri untuk selalu bertanya sebelum bertindak: “Apakah Allah rida dengan perbuatan ini?”, bukan “Apa kata orang nanti?”. Perubahan fokus ini akan mengubah seluruh orientasi hidup kita menjadi lebih bermakna dan penuh keberkahan. Jangan biarkan sisa umur kita habis hanya untuk memoles “bungkus” luar agar terlihat indah di mata manusia, sementara “isi” hati kita dibiarkan kotor dan jauh dari zikir. Menjadi mulia di sisi Allah adalah investasi masa depan yang paling nyata, karena kemuliaan itulah yang akan menemani kita saat semua atribut dunia dilepaskan di liang lahat nanti.
Keyakinan akan pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan haruslah menjadi pegangan utama dalam hidup. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Hadis Qudsi mengenai kedekatan-Nya dengan hamba yang dicintai-Nya:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
“Dan tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Bukhari).