Logika “Hanya Menjalankan Tugas” yang Mematikan Nurani
Sering kali, seseorang terjerumus dalam kesalahan besar bukan karena rencana jahat yang matang, melainkan karena kepatuhan buta. Sahabat MQ, saat kita merasa hanya sebagai “sekrup” kecil dalam sebuah mesin besar, ada kecenderungan untuk melepaskan tanggung jawab moral pribadi. Kita merasa bahwa selama kita menjalankan perintah atasan atau mengikuti aturan kelompok, maka kesalahan yang terjadi bukan tanggung jawab kita.
Padahal, dalam Islam, setiap individu adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia kerjakan. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada Khalik. Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam sebuah hadis:
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad).
Sahabat MQ harus berani bertanya pada hati nurani sebelum melangkah. Jika sebuah tugas atau ajakan bertentangan dengan prinsip kebenaran, maka menolaknya adalah sebuah kewajiban iman. Jangan sampai kita menjadi pelaku kejahatan hanya karena alasan “profesionalitas” atau “setia kawan” yang salah tempat.
Mengapa Empati Mulai Hilang di Era Digital?
Di zaman sekarang, kedangkalan dalam memandang penderitaan orang lain semakin nyata akibat sekat layar digital. Sahabat MQ mungkin sering melihat komentar jahat atau penyebaran aib yang dianggap biasa karena tidak melihat langsung wajah korbannya. Hilangnya empati inilah yang menjadi pintu masuk bagi banality of evil, di mana menyakiti orang lain dianggap sebagai konten atau hiburan belaka.
Islam sangat menekankan pentingnya merasakan penderitaan sesama mukmin layaknya satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka bagian lainnya pun ikut merasakan pedihnya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damai kanlah antara kedua saudaramu.”
Sahabat MQ, mari kita gunakan teknologi untuk menyebar kasih sayang, bukan kebencian. Dengan mengasah empati, kita tidak akan mudah tergerak untuk melakukan tindakan keji meskipun lingkungan sekitar menganggapnya lumrah. Menjaga perasaan orang lain adalah cerminan dari kesempurnaan iman seorang muslim.
Menghidupkan Kembali Rasa Takut kepada Allah dalam Setiap Langkah
Obat paling mujarab untuk menghindari kejahatan yang tidak disadari adalah dengan menghadirkan perasaan muraqabah atau merasa diawasi oleh Allah. Sahabat MQ, jika kita sadar bahwa setiap getaran hati dan gerakan jari di media sosial dicatat oleh malaikat, kita akan lebih berhati-hati. Rasa takut kepada Allah inilah yang akan menarik rem darurat saat kita mulai terbawa arus normalisasi dosa.
Tanpa rasa takut kepada Allah, manusia akan kehilangan kompas moralnya dan mudah dimanipulasi oleh kepentingan duniawi. Ingatlah bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan yang singkat, dan setiap perbuatan akan ditimbang dengan seadil-adilnya. Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7-8:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ . وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ
Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”
Sahabat MQ, mari kita jadikan akhirat sebagai orientasi utama. Dengan begitu, kita tidak akan mudah tertipu oleh bungkus-bungkus kejahatan yang terlihat “biasa” namun berakibat fatal di hadapan-Nya. Mari konsisten menjaga hati agar tetap bening dan penuh cahaya iman.