MQFMNETWORK.COM | Bandung – Penghentian sementara program distribusi buku oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) akibat penyesuaian anggaran menjadi tantangan bagi keberlanjutan gerakan literasi di Indonesia. Selama ini, distribusi buku menjadi salah satu program strategis untuk memperluas akses bahan bacaan, khususnya bagi sekolah, perpustakaan daerah, taman bacaan masyarakat, hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Meski demikian, berbagai kalangan menilai bahwa gerakan literasi nasional tidak boleh berhenti hanya karena adanya keterbatasan anggaran. Justru kondisi ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta, komunitas, dan masyarakat agar budaya membaca tetap tumbuh di seluruh Indonesia.
Lalu, langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk memastikan gerakan literasi tetap berjalan di tengah keterbatasan fiskal?
Literasi Adalah Tanggung Jawab Bersama
Membangun budaya membaca tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Sekolah, keluarga, perguruan tinggi, perpustakaan, komunitas literasi, dunia usaha, media massa, hingga masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan ekosistem literasi.
Selama ini, distribusi buku Perpusnas memang menjadi salah satu penggerak utama pemerataan akses bacaan.
Namun, keberhasilan literasi sesungguhnya ditentukan oleh keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam membangun kebiasaan membaca.
Literasi Dibangun Melalui Ekosistem, Bukan Sekadar Program
Dalam perbincangan Sudut Pandang MQFM, Doni Koesoema A., M.Ed, Pemerhati Pendidikan sekaligus Founder Pendidikan Karakter Education Consulting, menjelaskan bahwa literasi tidak dapat dibangun hanya melalui satu program pemerintah.
Menurutnya, budaya membaca lahir dari ekosistem yang sehat, yaitu ketika keluarga membiasakan anak membaca sejak dini, sekolah menjadikan membaca sebagai bagian dari proses belajar, perpustakaan menyediakan bahan bacaan yang berkualitas, dan masyarakat menciptakan ruang untuk berdiskusi serta berbagi pengetahuan.
Ia menilai bahwa keberadaan buku memang sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memiliki budaya untuk memanfaatkan buku tersebut sebagai sarana belajar sepanjang hayat.
Karena itu, tantangan saat ini bukan hanya menjaga distribusi buku, tetapi juga menjaga semangat literasi di tengah masyarakat.
Pemerintah Daerah Dapat Memperkuat Peran
Ketika anggaran pemerintah pusat mengalami penyesuaian, pemerintah daerah memiliki ruang untuk memperkuat program literasi sesuai kebutuhan wilayah masing-masing.
Pengadaan koleksi perpustakaan melalui APBD, pengembangan perpustakaan desa, revitalisasi taman bacaan masyarakat, hingga penyelenggaraan festival literasi dapat menjadi alternatif untuk menjaga akses masyarakat terhadap bahan bacaan.
Pendekatan tersebut juga memungkinkan program literasi lebih sesuai dengan karakteristik daerah.
Dunia Usaha Memiliki Ruang Berkontribusi
Sektor swasta juga dapat mengambil peran melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Dukungan dapat diberikan dalam bentuk donasi buku, pembangunan perpustakaan, penyediaan fasilitas membaca, maupun pendampingan kegiatan literasi di sekolah dan masyarakat.
Kolaborasi seperti ini telah banyak dilakukan di berbagai daerah dan terbukti mampu memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan berkualitas.
Dengan melibatkan dunia usaha, gerakan literasi tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah.
Memanfaatkan Teknologi untuk Memperluas Akses
Perkembangan teknologi membuka peluang baru dalam penguatan literasi.
Perpustakaan digital, buku elektronik (e-book), serta platform pembelajaran daring dapat menjadi pelengkap dalam memperluas akses terhadap pengetahuan.
Meski demikian, Doni Koesoema mengingatkan bahwa digitalisasi tidak sepenuhnya dapat menggantikan buku fisik.
Masih banyak daerah yang menghadapi keterbatasan jaringan internet maupun perangkat digital.
Karena itu, pengembangan perpustakaan digital perlu berjalan berdampingan dengan penyediaan buku cetak agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.
Peran Keluarga Menjadi Semakin Penting
Budaya membaca pertama kali dibentuk di lingkungan keluarga.
Orang tua memiliki peran besar dalam mengenalkan buku kepada anak sejak usia dini.
Kebiasaan sederhana seperti membacakan cerita, menyediakan waktu membaca bersama, atau mengunjungi perpustakaan dapat membangun minat baca yang berkelanjutan.
Menurut Doni Koesoema, pendidikan karakter dimulai dari rumah. Ketika keluarga berhasil menumbuhkan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap membaca, anak akan memiliki kebiasaan belajar yang terus berkembang hingga dewasa.
Komunitas Literasi Perlu Terus Diperkuat
Di berbagai daerah, komunitas literasi telah menjadi mitra penting dalam meningkatkan budaya membaca.
Melalui taman bacaan masyarakat, perpustakaan keliling, kelas membaca, diskusi buku, hingga kegiatan mendongeng untuk anak-anak, komunitas berhasil menghadirkan ruang belajar yang dekat dengan masyarakat.
Keberadaan komunitas tersebut menjadi bukti bahwa gerakan literasi dapat terus hidup melalui semangat gotong royong.
Menjaga Literasi Berarti Menjaga Masa Depan Bangsa
Penghentian sementara distribusi buku Perpusnas akibat penyesuaian anggaran memang menjadi tantangan bagi gerakan literasi nasional. Namun, tantangan tersebut tidak harus menghentikan upaya membangun budaya membaca di Indonesia.
Pandangan Doni Koesoema A., M.Ed menegaskan bahwa literasi merupakan hasil dari ekosistem yang melibatkan banyak pihak, bukan hanya pemerintah. Buku menjadi salah satu sarana penting, tetapi keberhasilan literasi sangat bergantung pada kebiasaan belajar yang dibangun di rumah, sekolah, dan masyarakat.
Karena itu, solusi menjaga gerakan literasi tidak cukup hanya menunggu pulihnya anggaran negara. Pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, media, dan keluarga perlu memperkuat kolaborasi agar akses terhadap pengetahuan tetap terbuka bagi seluruh masyarakat.
Pada akhirnya, literasi bukan sekadar tentang membaca buku, tetapi tentang membangun manusia yang mampu berpikir kritis, berkarakter, kreatif, dan siap menghadapi perubahan zaman. Menjaga gerakan literasi hari ini berarti menyiapkan fondasi bagi lahirnya generasi unggul yang akan membawa Indonesia menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.