Melatih Diri untuk Menyimak Secara Utuh Sebelum Merespons Perkataan
Komunikasi mendominasi hampir delapan puluh persen dari total seluruh aktivitas interaksi manusia dalam kehidupan bermasyarakat setiap harinya. Namun, hal yang paling sering luput dari perhatian kita adalah kebiasaan memotong pembicaraan orang lain secara terburu-buru. Sahabat MQ, ketidaksabaran dalam mendengarkan sering kali memicu salah paham, perdebatan yang kusir, hingga rusaknya jalinan silaturahmi.
Para ulama menempatkan kemampuan bersabar dalam menyimak perkataan orang lain sebagai salah satu cabang akhlak yang sangat mulia. Dengan mendengarkan secara utuh, kita menunjukkan rasa hormat dan mampu memahami substansi masalah secara jernih.
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204). Prinsip menyimak dengan saksama ini juga berlaku dalam menghargai pembicaraan sesama manusia agar tercipta kedamaian.
Strategi Memilih Rangkaian Kata Terbaik Demi Menjaga Perasaan Sesama
Saat emosi sedang memuncak atau suasana hati sedang tidak nyaman, lisan kita cenderung sangat mudah mengeluarkan kata-kata yang tajam. Sindiran, celaan, atau kalimat yang memojokkan sering kali meluncur begitu saja tanpa melewati proses penyaringan di dalam pikiran. Sahabat MQ, orang yang beruntung adalah mereka yang memiliki kendali penuh untuk menahan lisannya dari memilih diksi yang merusak.
Islam mengajarkan kita tingkat kehati-hatian yang tinggi dalam memproduksi ucapan, di mana kita dituntut untuk selalu memilih kata yang paling maslahat. Jika tidak mampu memberikan dampak positif, maka pilihan terbaik yang tersisa adalah mengambil sikap diam.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memberikan panduan praktis yang sangat lugas bagi kita semua dalam mengelola ucapan harian:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُنْ
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari). Menjaga lisan adalah investasi terbesar untuk keselamatan dunia dan akhirat kita.
Menghindari Dampak Buruk Perkataan Sia-sia Terhadap Ketenteraman Jiwa
Banyak di antara kita yang merasa bahwa mengobrol tanpa arah, bergosip, atau menyebarkan candaan yang berlebihan adalah hal yang lumrah untuk mencairkan suasana. Tanpa disadari, terlalu banyak memproduksi perkataan yang tidak memiliki nilai manfaat dapat mengeraskan hati dan menghilangkan wibawa diri. Sahabat MQ, jiwa yang tenang dan bahagia biasanya dimiliki oleh orang-orang yang irit dalam bicara namun kaya dalam karya nyata.
Aa Gym mengingatkan para santri dan jemaah sekalian bahwa kunci utama dari kesuksesan perbaikan akhlak dimulai dari ketatnya penjagaan terhadap lisan. Kurangi pembicaraan yang mubah namun tidak mendatangkan pahala agar fokus hidup kita tetap terjaga.
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ
Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS. An-Nisa: 114). Mari kita hiasi lisan ini hanya dengan zikir, ilmu, dan kalimat yang menyejukkan.