Kekeliruan Menjadikan Indikator Ekonomi Sebagai Tuhan
Fluktuasi nilai mata uang dan lonjakan harga barang sering kali menjadi pemicu utama munculnya kepanikan yang berlebihan di tengah masyarakat. Sahabat MQ yang memiliki kejernihan iman akan memandang fenomena ekonomi ini dengan kacamata yang sangat berbeda. Menjadi sebuah kekeliruan fatal ketika tingkat ketenangan hidup seseorang diukur berdasarkan stabil atau tidaknya harga-harga di pasar.
Ketika rasa cemas menguasai dada secara berlebihan, hal itu menandakan bahwa sandaran hati telah bergeser kepada materi duniawi. Seolah-olah kelangsungan hidup dan keterjaminan masa depan ditentukan oleh angka-angka inflasi, bukan oleh kasih sayang Sang Pencipta. Mari kita luruskan kembali kiblat keyakinan agar tidak terjebak dalam lingkaran ketakutan yang melemahkan sendi-sendi tauhid.
Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengingatkan hamba-Nya untuk hanya bergantung dan berserah diri kepada Zat yang Maha Hidup:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ
Artinya: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya.” (QS. At-Talaq: 3).
Menyadari Bahwa Pemilik Rezeki Tidak Pernah Mengalami Inflasi
Satu hakikat yang harus tertanam kuat di dalam benak adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatur porsi rezeki setiap makhluk dengan sangat presisi. Sahabat MQ, harga barang boleh saja berubah secara dinamis, namun khazanah kekayaan Allah tidak akan pernah berkurang sedikit pun. Zat yang memberi rezeki saat harga murah adalah Zat yang sama yang akan mencukupi kebutuhan saat harga melambung tinggi.
Ketakutan yang sesungguhnya bukanlah terletak pada berkurangnya materi duniawi, melainkan pada hilangnya rasa syukur dan kesabaran di dalam dada. Semua keperluan hidup, mulai dari biaya pendidikan anak hingga cicilan yang belum lunas, berada dalam pengetahuan dan genggaman Allah. Berburuk sangka kepada pengaturan-Nya hanya akan menjauhkan kita dari keberkahan hidup yang hakiki.
Keyakinan total terhadap jaminan rezeki ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
Artinya: “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Az-Zariyat: 22).
Rahasia Magnet Syukur yang Menggandakan Nikmat
Alih-alih menyibukkan diri dengan mengeluhkan keadaan, mengoptimalkan rasa syukur atas nikmat yang ada adalah langkah yang jauh lebih cerdas. Sahabat MQ yang pandai bersyukur akan mendapati bahwa nikmat yang sedikit terasa mencukupi, sedangkan yang belum ada akan didatangkan dengan cara yang tak terduga. Bersyukur bertindak sebagai magnet kuat yang menarik datangnya tambahan karunia dan kemudahan dari langit.
Sejarah hidup kita telah membuktikan betapa tak terhitungnya fasilitas gratis yang telah Allah sediakan, seperti air bersih dan udara segar sepanjang hayat. Mengapa kita harus meragukan masa depan jika masa lalu dan masa kini selalu dipenuhi dengan kebaikan-Nya? Mari kita fokus memperbaiki kualitas penerimaan hati terhadap takdir agar kedamaian sejati dapat senantiasa bersemayam di dalam dada.
Janji Allah mengenai pelipatgandaan nikmat melalui jalan bersyukur tertulis indah dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada-mu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat’.” (QS. Ibrahim: 7).