MQFMNETWORK.COM | Penggunaan gadget di kalangan generasi muda di Jawa Barat terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, dibalik tingginya penetrasi teknologi tersebut, muncul persoalan baru, rendahnya kemampuan komputer yang justru menjadi keterampilan penting di era digital.
Sebagian besar anak muda kini lebih akrab dengan smartphone dibandingkan komputer atau laptop. Aktivitas digital mereka pun didominasi oleh hiburan seperti media sosial, game, dan streaming, bukan kegiatan produktif seperti pengolahan data, desain, atau pemrograman.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran bahwa literasi komputer generasi muda mulai terabaikan. Padahal, kemampuan tersebut menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan daya saing di dunia pendidikan dan kerja.
Gadget Mendominasi, Komputer Terpinggirkan
Kemudahan akses smartphone membuat perangkat ini menjadi pilihan utama bagi generasi muda. Hampir semua aktivitas digital dapat dilakukan melalui ponsel, mulai dari komunikasi hingga konsumsi konten.
Namun, keterbatasan fungsi smartphone dibandingkan komputer membuat kemampuan teknis tidak berkembang secara optimal. Banyak pelajar yang tidak terbiasa menggunakan aplikasi perkantoran, pengolahan data, atau perangkat lunak lainnya.
Pengamat teknologi informasi, Onno W. Purbo, menilai bahwa fenomena ini menciptakan generasi yang “melek digital secara konsumtif”, tetapi belum produktif. Menurutnya, penggunaan komputer tetap penting untuk membangun keterampilan teknis yang lebih mendalam.
Pola Konsumtif Jadi Masalah Utama
Dominasi penggunaan gadget untuk hiburan menjadi salah satu faktor utama rendahnya literasi komputer. Generasi muda lebih banyak menghabiskan waktu untuk aktivitas yang bersifat konsumtif.
Ainun Sabila Hamdillah Ismail selaku Lead Psychology Research dari Drone Emprit, dalam Bincang Sudut Pandang Radio MQFM Bandung, Kamis (09/04), menjelaskan bahwa pola ini terbentuk dari kebiasaan digital yang berkembang tanpa pendampingan yang memadai. Dalam perbincangan yang dibahas, ia menekankan bahwa teknologi yang tidak diarahkan akan cenderung digunakan untuk hiburan.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya pada akses teknologi, tetapi pada bagaimana teknologi tersebut digunakan. Perubahan perilaku menjadi kunci dalam meningkatkan literasi digital.
Akses Komputer Masih Terbatas
Selain faktor kebiasaan, keterbatasan akses terhadap komputer juga menjadi penyebab rendahnya kemampuan teknis. Tidak semua pelajar memiliki perangkat komputer atau laptop di rumah.
Akibatnya, mereka tidak memiliki kesempatan untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan komputer secara konsisten. Ketergantungan pada smartphone semakin memperkuat kesenjangan ini.
Pengamat pendidikan, Dedi Supriadi, menilai bahwa pemerataan akses perangkat harus menjadi prioritas. Ia menekankan bahwa tanpa fasilitas yang memadai, peningkatan literasi digital akan sulit tercapai.
Peran Pendidikan Belum Maksimal
Sekolah seharusnya menjadi tempat utama dalam mengembangkan literasi komputer. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran komputer masih belum optimal dan cenderung bersifat teoritis.
Banyak siswa yang tidak mendapatkan pengalaman langsung dalam menggunakan teknologi untuk kegiatan produktif. Hal ini membuat kemampuan mereka tidak berkembang secara signifikan.
Pengamat kebijakan pendidikan dari Universitas Padjadjaran, Cecep Darmawan, menilai bahwa kurikulum perlu diperkuat dengan pendekatan berbasis praktik. Ia menekankan pentingnya pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Dampak pada Produktivitas Generasi Muda
Rendahnya literasi komputer berdampak langsung pada produktivitas generasi muda. Dalam dunia yang semakin digital, kemampuan komputer menjadi salah satu keterampilan dasar yang wajib dimiliki.
Ekonom dari Center of Reform on Economics, Piter Abdullah Redjalam, menilai bahwa rendahnya keterampilan digital dapat menghambat daya saing tenaga kerja. Ia mengingatkan bahwa tanpa peningkatan kemampuan, generasi muda akan sulit bersaing di pasar kerja.
Selain itu, kesenjangan kemampuan digital juga dapat memperlebar jurang sosial, di mana hanya sebagian kelompok yang mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.
Perlu Perubahan Pola dan Pendekatan
Mengatasi masalah ini tidak cukup hanya dengan menyediakan akses teknologi. Perlu ada perubahan pola penggunaan gadget dari yang bersifat konsumtif menjadi produktif.
Pendampingan dari keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi penting untuk membentuk kebiasaan digital yang lebih sehat. Generasi muda perlu didorong untuk menggunakan teknologi sebagai alat untuk belajar dan berkarya.
Para pengamat sepakat bahwa literasi komputer harus menjadi bagian dari budaya digital, bukan sekadar keterampilan tambahan. Dengan pendekatan yang tepat, generasi muda Jawa Barat memiliki potensi besar untuk berkembang di era digital.
Namun tanpa perubahan yang signifikan, dominasi gadget untuk hiburan berisiko terus menghambat perkembangan kemampuan komputer yang justru sangat dibutuhkan di masa depan.