Ketika Nafsu Menumpuk Harta Menghilangkan Akal Sehat

Berita tentang penemuan timbunan kekayaan yang disembunyikan di dalam tembok sering kali membuat publik tercengang. Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana cinta dunia yang berlebihan dapat membutakan logika manusia. Harta dalam jumlah raksasa tersebut pada akhirnya hanya menjadi pajangan mati yang tidak bisa dinikmati.

Sahabat MQ, mengejar materi tanpa batas spiritual hanya akan melahirkan rasa haus yang tidak pernah ada ujungnya. Keinginan untuk selalu terlihat lebih unggul di mata manusia sering kali mengorbankan ketenteraman batin sendiri. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah bisa dibeli dengan tumpukan logam mulia yang disimpan di dalam peti besi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sindiran keras terkait tabiat ini dalam Surah At-Takasur ayat 1-2:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Pengingat Halus dari Setiap Peristiwa di Sekitar Kita

Setiap kejadian besar yang viral di media sosial sebenarnya adalah cara Allah memberikan pelajaran berharga. Jabatan tinggi dan kekuasaan yang tampak sangat kokoh bisa runtuh dalam sekejap mata jika Allah berkehendak. Menonton berita seharusnya tidak sekadar menjadi bahan obrolan kosong di waktu luang.

Mari kita ambil hikmah mendalam dari setiap drama kehidupan yang diperlihatkan di hadapan kita semua. Sahabat MQ, ambruknya kemegahan duniawi adalah bukti nyata bahwa tidak ada yang abadi selain kekuasaan Allah. Menjaga diri agar tidak silau oleh gemerlapnya harta adalah jalan keselamatan yang paling utama.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadis riwayat Al-Bukhari mengenai kekayaan sejati:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya: “Kekayaan itu bukanlah diukur dari banyaknya durian (harta benda), tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa.”

Menyalurkan Rezeki Menjadi Investasi Akhirat yang Kekal

Harta yang sesungguhnya dimiliki oleh manusia adalah apa yang telah habis dimakan dan apa yang telah diinfakkan di jalan Allah. Menyimpan kekayaan secara egois hanya akan meninggalkan beban hisab yang sangat berat di akhirat kelak. Mengubah harta menjadi fasilitas kebaikan bagi sesama adalah cara cerdas untuk mengekalkannya.

Sahabat MQ, mari kita gunakan setiap kelebihan rezeki yang dititipkan untuk membangun jembatan amal jariah. Menjadi jalan terwujudnya fasilitas ibadah adalah sebuah kemuliaan yang mendatangkan pahala mengalir. Dengan berbagi, harta tidak akan berkurang, melainkan tumbuh berkah dan membersihkan jiwa kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan balasan berlipat ganda dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ

Artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkah hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”