Menyadari Samudra Karunia yang Selalu Mengalir Penuh
Banyak orang yang merasa hidupnya selalu serba kekurangan meski secara kasat mata fasilitas yang dimiliki sudah lebih dari cukup. Rasa tidak puas ini sering kali muncul karena fokus pikiran selalu tertuju pada hal-hal yang belum berhasil digenggam. Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain membuat tumpukan nikmat yang ada di depan mata menjadi tidak terlihat.
Jika mau merenung sejenak, setiap embusan napas, detak jantung, hingga kemampuan mata untuk berkedip adalah aset tak ternilai harganya. Sahabat MQ sebetulnya sedang berenang di dalam samudra karunia Allah yang sangat luas dan tidak ada putusnya. Menyadari kebaikan-kebaikan kecil yang bernilai besar ini adalah langkah awal yang sangat krusial untuk membuka pintu kebahagiaan hidup.
Ketidakmampuan manusia untuk menghitung seluruh kebaikan yang telah Allah berikan ditegaskan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 18:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Bahaya Tersembunyi dari Sifat Suka Mengeluh
Mengeluh dan merasa kurang merupakan penyakit hati yang bisa berakibat fatal bagi ketenteraman batin serta kelancaran rezeki seseorang. Orang yang hari-harinya dihiasi dengan komplain akan selalu merasa tersiksa, seberapa banyak pun harta yang berhasil dikumpulkan. Sifat kufur nikmat ini secara perlahan akan menutup mata hati dari keindahan-keindahan hidup yang telah disediakan.
Sahabat MQ perlu berhati-hati karena setiap keluhan yang terucap merupakan bentuk protes tidak langsung terhadap pengaturan dari Allah. Dampak nyata dari hilangnya rasa syukur adalah dicabutnya rasa nikmat dari setiap karunia yang sedang dinikmati di dunia. Makanan yang lezat, rumah yang teduh, hingga keluarga yang utuh bisa terasa hambar jika hati dipenuhi dengan kekufuran.
Sebaliknya, janji Allah sangat jelas bagi siapa saja yang mau membuka hatinya untuk menghargai setiap pemberian sekecil apa pun. Janji penambahan nikmat dan ancaman siksa yang pedih ini tertuang indah dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Langkah Nyata Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur
Mengubah kebiasaan mengeluh menjadi bersyukur membutuhkan latihan mental yang serius melalui tiga tahapan utama. Tahapan tersebut dimulai dari keyakinan hati yang kuat, pengakuan jujur lewat lisan, hingga pemanfaatan nikmat untuk ketaatan. Mengucapkan kalimat hamdalah dengan penuh penghayatan setiap kali mendapatkan kebaikan akan memberikan energi positif yang luar biasa bagi jiwa.
Sahabat MQ bisa melatih diri dengan melihat ke bawah untuk urusan duniawi agar hati lebih mudah merasa cukup dan berterima kasih. Setiap kali muncul keinginan untuk mengeluh, segera alihkan fokus pada ribuan fasilitas hidup lain yang masih berfungsi dengan sangat baik. Menggunakan harta, kesehatan, dan waktu luang untuk membantu sesama adalah perwujudan syukur yang paling tinggi nilainya.
Ketika rasa syukur ini telah mengakar kuat, maka konsep kecukupan hidup akan berubah menjadi sangat sederhana dan menenteramkan. Rezeki tidak lagi diukur dari angka-angka nominal yang tertera di rekening, melainkan dari keberkahan yang dirasakan. Jiwa yang kaya akan selalu merasa bahagia dan damai karena merasa dekat dengan Zat Yang Maha Pemberi Rezeki.