Kurma

Pahala Melimpah dari Amal yang Ringan

Salah satu amalan yang sangat ditekankan dan memiliki keutamaan luar biasa di bulan Ramadan adalah memberi makan orang yang berbuka puasa, atau dikenal dengan istilah ith’amuth tho’am. K.H. Fahrudin menjelaskan dalam kajiannya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peluang pahala yang sangat besar kepada siapa pun yang memfasilitasi hidangan berbuka bagi saudaranya yang seiman. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang memberikan kesempatan kepada setiap hamba-Nya untuk mendulang pahala berlipat ganda tanpa harus menambah beban ibadah fisik yang berat.

Pintu kebaikan ini terbuka lebar bagi siapa saja, sekalipun orang tersebut memiliki kemampuan finansial yang sangat terbatas. Konsep ini mengajarkan bahwa agama Islam tidak membatasi kemuliaan hanya untuk mereka yang kaya raya, melainkan menghargai setiap niat tulus yang mewujud dalam sebuah pemberian, sekecil apa pun itu. Semangat berbagi ini menjadi simbol persaudaraan yang kuat di antara umat muslim, di mana rasa lapar yang dirasakan bersama selama seharian penuh diakhiri dengan kenikmatan berbuka yang juga dibagi bersama-sama.

Di berbagai tempat, termasuk tradisi yang diceritakan di Masjidil Haram, jemaah berlomba-lomba menjamu orang lain karena mereka meyakini bahwa setiap suapan yang dimakan oleh orang yang berpuasa akan mendatangkan rida Ilahi. Memberi buka puasa bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir dan egois. Dengan membiasakan diri berbagi hidangan berbuka, seorang mukmin sedang melatih kepekaan sosialnya agar senantiasa peduli terhadap beban sesama, selaras dengan semangat Ramadan yang penuh rahmat.

Keutamaan ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang sangat populer, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At-Tirmidzi)

Rahasia di Balik Setetes Air dan Sebutir Kurma

Dalam kajian video tersebut, para sahabat sempat bertanya kepada Rasulullah SAW karena merasa tidak semua di antara mereka memiliki kecukupan harta untuk menjamu orang lain dengan hidangan yang lengkap. Rasulullah SAW dengan bijak menjelaskan bahwa pahala besar tersebut tetap diberikan oleh Allah meskipun seseorang hanya mampu menyumbangkan sebutir kurma atau setetes air minum. Hal ini menunjukkan bahwa fokus utama dari ibadah ini adalah nilai pengorbanan dan kepedulian, bukan pada kemewahan menu yang disajikan.

Allah adalah Dzat yang Maha Menghargai kebaikan sekecil apa pun, selama dilakukan dengan penuh keikhlasan. Pemberian yang tampak kecil di mata manusia, jika diberikan di saat yang tepat kepada orang yang sangat membutuhkan, bisa memiliki nilai yang sangat agung di hadapan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk merasa malu atau enggan berbagi hanya karena merasa apa yang dimilikinya tidak seberapa.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Az-Zalzalah ayat 7:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

Jaminan Ampunan dan Pembebasan dari Api Neraka

Menjamu orang yang berbuka puasa bukan hanya sekadar menambah tabungan pahala, tetapi juga berfungsi sebagai penghapus dosa-dosa masa lalu. K.H. Fahrudin menyebutkan bahwa amalan ini menjadi jalan bagi seorang hamba untuk mendapatkan ampunan dari Allah dan perlindungan dari siksa api neraka. Keberkahan doa dari orang yang berbuka puasa melalui hidangan yang kita berikan adalah salah satu doa yang mustajab dan sangat kita perlukan untuk keselamatan di akhirat kelak.

Setiap butir makanan yang dikonsumsi oleh orang yang berpuasa atas pemberian kita akan bersaksi di hari kiamat sebagai bukti kedermawanan dan kasih sayang. Inilah alasan mengapa para ulama dan orang-orang saleh terdahulu sangat antusias dalam mencari orang-orang untuk diajak berbuka bersama. Mereka memburu jaminan Allah yang menjanjikan ketenangan dan kesejukan di hari penghisaban bagi siapa saja yang senang memberi makan orang lain karena Allah.

Kedermawanan ini sejalan dengan pujian Allah bagi orang-orang yang memberi makan dalam Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 8:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disu kainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan (dengan rasa tulus).”