indonesia

MQFMNETWORK.COM | Di tengah mengerasnya peta geopolitik dunia, Indonesia tidak berada di ruang hampa. Setiap ketegangan global, terutama yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika, China, dan Rusia, selalu membawa konsekuensi bagi negara-negara berkembang.

Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika dan Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Dra. Suzie S. Sudarman, MA, menilai bahwa tantangan Indonesia saat ini bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari kondisi internal bangsa sendiri.

Posisi Indonesia yang Rentan

Dalam dinamika global yang sarat kepentingan, Indonesia berada pada posisi yang tidak sederhana. Indonesia bukan kekuatan besar, tetapi memiliki sumber daya alam, jumlah penduduk, dan posisi strategis yang membuatnya selalu diperhitungkan.

Suzie mengingatkan bahwa Indonesia termasuk dalam negara-negara yang rawan terhadap pengaruh kekuatan besar, terutama dalam konteks persaingan China dan Amerika.

Kerentanan ini muncul karena ketergantungan ekonomi yang masih tinggi, kesenjangan antara kepentingan elite dan kebutuhan rakyat, lemahnya fondasi ketahanan nasional berbasis sumber daya manusia, serta Fear of Influence dan Ancaman Terselubung.

Menurut Suzie, Indonesia masuk dalam kategori fear of influence, terutama dalam relasi dengan China. Bukan karena ancaman militer langsung, melainkan pengaruh ekonomi, teknologi, dan kebijakan yang perlahan namun dalam.

Pengaruh ini sering kali tidak terasa sebagai ancaman, datang melalui kerja sama ekonomi dan membentuk ketergantungan jangka panjang. Tanpa kesiapan strategi nasional, ketergantungan ini berpotensi menggerus kedaulatan dalam pengambilan keputusan.

Persoalan Elite dan Rakyat yang Kian Jauh

Salah satu catatan kritis yang disampaikan Suzie adalah semakin jauhnya jarak antara elite dan rakyat. Kondisi ini membuat masyarakat mudah terpecah, rentan dimanipulasi isu, sulit bersatu menghadapi tekanan eksternal. Suzie menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun dari kekuatan militer atau ekonomi, tetapi dari persatuan sosial yang kokoh. Ketika rakyat dan elite tidak berada dalam satu visi kebangsaan, bangsa ini menjadi rapuh dari dalam.

Pendidikan sebagai Kelemahan Mendasar

Dalam wawancara di Radio MQFM Bandung, Senin, 19/01/2026, Suzie secara tegas menyebut bahwa salah satu kelemahan utama Indonesia adalah belum menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama negara. Pendidikan bukan sekedar urusan sekolah, tetapi fondasi untuk Membentuk cara berpikir kritis, Membangun kesadaran kebangsaan, Menyiapkan generasi yang mampu membaca dan menghadapi dinamika global. Tanpa pendidikan yang kuat, Indonesia akan terus tertinggal dalam kompetisi global yang semakin kompleks.

Sumber Daya Alam dan Paradoks Kebangsaan

Indonesia kaya akan sumber daya alam strategis seperti mineral tanah jarang dan bahan tambang penting lainnya. Namun ironisnya, kekayaan ini belum sepenuhnya menjadi kekuatan bangsa. Suzie menyoroti bahwa rakyat sering kali didorong untuk mengejar keuntungan pribadi atau kelompok, sementara kepentingan jangka panjang bangsa justru terabaikan.

Pertanyaan yang perlu terus diajukan adalah Apakah pengelolaan sumber daya benar-benar untuk rakyat? Apakah kebijakan elite menjaga kepentingan nasional? Atau justru membuka celah bagi kekuatan asing.

Menenun Kembali Persatuan Bangsa

Di tengah dunia yang semakin terbelah, Suzie menekankan pentingnya menenun kembali persatuan masyarakat Indonesia yang kini cenderung terkotak-kotak. Persatuan tidak lahir dari slogan, tetapi dari Kebijakan yang berpihak pada rakyat, Pendidikan yang mencerdaskan, Kepemimpinan yang jujur dan berintegritas. Tanpa persatuan, Indonesia akan terus keteteran menghadapi tekanan global yang tidak pernah berhenti.

Saatnya Melindungi Diri Sendiri sebagai Bangsa

Indonesia tidak bisa lagi hanya bergantung pada dinamika global yang berubah cepat. Dunia bergerak menuju persaingan yang semakin keras, dan setiap negara dituntut melindungi dirinya sendiri. Namun perlindungan sejati bukan dengan menutup diri, melainkan dengan memperkuat fondasi internal bangsa. 

Bersatu, mencerdaskan rakyat, dan memastikan kebijakan berpihak pada kepentingan nasional adalah langkah awal agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi tetap berdiri tegak dan berdaulat di tengah pusaran global.