amerika

MQFMNETWORK.COM | Perubahan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan satu kecenderungan kuat. Keamanan nasional ditempatkan sebagai prioritas utama, bahkan di atas kepentingan global bersama.

Dalam konteks ini, dunia menyaksikan munculnya satu pola baru yang oleh para pengamat disebut sebagai nasionalisme keamanan, sebuah pendekatan yang menjadikan kepentingan domestik Amerika sebagai pusat dari seluruh kebijakan luar negerinya.

Munculnya National Security State Amerika

Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika dan Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Dra. Suzie S. Sudarman, MA, menjelaskan bahwa Amerika saat ini bergerak menuju apa yang disebut sebagai national security state.

Dalam pola ini, Keamanan nasional menjadi landasan utama pengambilan kebijakan, Kepentingan Amerika ditempatkan sebagai nomor satu, Kerja sama internasional dinilai dari seberapa besar manfaat langsung bagi Amerika, Pendekatan ini membuat kebijakan luar negeri Amerika semakin pragmatis, tegas, dan dalam banyak kasus, konfrontatif.

Sumber Daya Alam sebagai Fokus Strategis

Salah satu ciri utama dari nasionalisme keamanan Amerika adalah fokus besar pada penguasaan dan pengamanan sumber daya alam strategis. Suzie menegaskan bahwa Amerika tidak lagi sekedar berbicara soal demokrasi atau nilai-nilai universal, tetapi secara nyata mengejar akses terhadap Energi, Mineral strategis, Sumber daya langka yang dibutuhkan industri dan pertahanan. Negara-negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam, terutama di kawasan berkembang, otomatis menjadi bagian dari perhitungan strategis tersebut.

Nasionalisme yang Berbeda Wajah

Menariknya, nasionalisme yang berkembang di Amerika saat ini tidak selalu tampil dalam bentuk retorika keras atau emosional. Suzie menilai nasionalisme ini justru tenang dan sistematis, dijalankan melalui kebijakan ekonomi, keamanan, dan teknologi, dan dibalut dengan bahasa kepentingan nasional yang rasional. Namun dibalik tampilannya yang terukur, dampaknya terhadap negara lain bisa sangat besar dan bersifat jangka panjang.

Imbas Global dari Kebijakan Sepihak

Ketika negara sekuat Amerika mengedepankan kepentingannya sendiri, efeknya tidak pernah berhenti di dalam negeri mereka. Beberapa dampak global yang mulai terasa antara lain, melemahnya mekanisme multilateral, meningkatnya ketegangan diplomatik lintas kawasan, ketidakpastian dalam perdagangan dan investasi global. Negara-negara lain dipaksa menyesuaikan diri, bahkan ketika kebijakan tersebut berpotensi merugikan stabilitas kawasan masing-masing.

Tantangan bagi Negara Berkembang

Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, nasionalisme keamanan Amerika menghadirkan dilema tersendiri. Di satu sisi, Amerika tetap menjadi mitra ekonomi dan politik penting. Di sisi lain, kebijakan yang terlalu berorientasi pada kepentingan sepihak dapat mempersempit ruang gerak negara-negara mitra.

Suzie mengingatkan bahwa tanpa strategi yang matang, negara berkembang berisiko hanya menjadi pemasok sumber daya atau pasar, tanpa mendapatkan manfaat jangka panjang yang seimbang.

Membaca Arah Dunia dengan Lebih Jernih

Menurut Suzie, yang mengudara di Radio MQFM Bandung pada Senin, 19/01/2026, dunia sedang bergerak menuju tatanan global yang lebih keras dan kompetitif. Dalam situasi ini, setiap negara perlu membaca arah perubahan dengan jernih, bukan sekadar bereaksi terhadap tekanan yang muncul.

Indonesia, sebagai negara besar dengan posisi strategis, tidak bisa bersikap naif terhadap perubahan ini. Pemahaman yang utuh terhadap nasionalisme keamanan Amerika menjadi kunci agar Indonesia tidak salah langkah dalam menentukan sikap diplomasi.

Menjaga Kepentingan Nasional di Tengah Dunia yang Mengeras

Nasionalisme keamanan Amerika adalah sinyal bahwa dunia sedang memasuki fase baru. Kerja sama global tetap ada, tetapi semakin dipenuhi perhitungan kepentingan.

Bagi Indonesia, tantangannya adalah menjaga kepentingan nasional tanpa terjebak dalam konflik kepentingan kekuatan besar. Ketegasan, kecermatan, dan kemandirian menjadi bekal utama agar Indonesia tetap berdiri tegak di tengah dunia yang semakin keras dan kompetitif.