Menghitung Sisa Usia dengan Kacamata Akhirat
Dalam sebuah kajian yang mendalam, Ustadz Sapria Muhammad mengingatkan bahwa pergantian tahun seharusnya memicu kesadaran tentang semakin dekatnya kita dengan liang kubur. Waktu adalah modal utama manusia yang bersifat terbatas dan tidak dapat diputar kembali walau sedetik pun. Sahabat MQ, melihat usia dengan kacamata akhirat akan membuat kita lebih bijaksana dalam memanfaatkan setiap jatah waktu yang tersisa. Hindari menyia-nyiakan waktu untuk urusan duniawi yang tidak membawa manfaat jangka panjang.
Kerugian manusia yang melalaikan waktu telah diabadikan dengan sangat indah dalam surat pendek Al-‘Asr:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr: 1-2).
Hanya mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran yang akan selamat dari kerugian masif ini. Bulan Muharam adalah momen yang tepat untuk menghitung ulang berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk Al-Qur’an dibandingkan dengan layar gawai kita. Keputusan untuk berubah ada di tangan kita hari ini, sebelum penyesalan tiada lagi berguna.
Menilai Kualitas Ketakwaan di Tengah Kesendirian
Ujian keimanan yang sesungguhnya bukan terjadi saat kita berada di tengah keramaian atau di dalam masjid, melainkan saat kita sedang sendirian tanpa ada satu pun manusia yang melihat. Di era digital saat ini, akses menuju kemaksiatan sangat mudah dijangkau hanya dengan sentuhan jari. Sahabat MQ, evaluasilah bagaimana sikap kita ketika sedang bersendirian dengan gawai kita di malam hari. Apakah rasa takut kepada Allah SWT tetap terjaga, atau justru runtuh seketika saat pandangan manusia hilang?
Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan tentang kaum yang amalannya hapus akibat maksiat dalam kesendirian:
لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةِ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا … إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَوكُهَا
“Sungguh aku mengetahui kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya debu yang beterbangan… yaitu jika mereka bersendirian dengan larangan-larangan Allah, mereka melanggarnya.” (HR. Ibnu Majah).
Pesan kuat dari Ustadz Sapria Muhammad ini menjadi tamparan keras sekaligus obat bagi jiwa yang sering lalai. Mari bangun rasa muraqabah, yaitu kesadaran penuh bahwa Allah Maha Melihat segala gerak-gerik kita, baik di tempat sunyi maupun ramai. Ketakwaan yang hakiki akan melahirkan ketenangan batin yang sejati.
Mengukur Tingkat Kepedulian terhadap Urusan Umat
Seorang Muslim yang ideal tidak hanya sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga memiliki empati yang tinggi terhadap kondisi umat di sekitarnya. Sudahkah kita mengulurkan tangan membantu tetangga yang kelaparan, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk mendukung dakwah Islam? Sahabat MQ, bulan Muharam adalah waktu yang sangat tepat untuk memperluas skala kepedulian sosial kita sebagai bukti nyata dari keimanan yang aktif. Jangan biarkan sifat egois mengeraskan hati kita dari penderitaan orang lain.
Sifat saling menyayangi antar-sesama Muslim digambarkan bagai satu tubuh yang kokoh oleh Rasulullah SAW:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan menyantuni sesama mereka adalah bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh ikut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim).
Melalui momentum Muharam, mari tingkatkan kontribusi nyata kita untuk kebaikan umat, baik melalui harta, tenaga, maupun pikiran. Evaluasi akhir tahun ini harus melahirkan pribadi yang lebih bermanfaat bagi lingkungannya. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesama.