Perbedaan Tipis Antara Malas dan Meremehkan (Istighfaf)

Seringkali kita menganggap remeh urusan shalat, namun tahukah Anda bahwa ada garis tipis yang memisahkan antara status “Muslim pendosa” dengan “Keluar dari Islam” (Murtad)? Dalam kajian Inspirasi Malam, Ustadz Sapria Muhammad memberikan peringatan keras mengenai cara kita memandang kewajiban ibadah ini. Ternyata, bukan hanya meninggalkan shalat yang berbahaya, tapi sikap batin kita terhadap syariat shalat itulah yang bisa menjadi penentu.

Ustadz Sapria menjelaskan bahwa ada dua jenis orang yang tidak shalat. Jenis pertama adalah mereka yang meninggalkan shalat karena malas atau lalai, namun hatinya masih mengakui bahwa shalat itu wajib dan mereka merasa berdosa. Ini adalah dosa besar, namun belum mengeluarkan mereka dari Islam.

Allah SWT memperingatkan bahwa meremehkan ayat-ayat Allah dan syariat-Nya adalah jalan menuju kesesatan:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Artinya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66)

Namun, jenis kedua adalah mereka yang meninggalkan shalat disertai dengan sikap Istighfaf (meremehkan/menghina). Misalnya, merasa tidak perlu shalat karena menganggap “yang penting hati baik” atau “shalat tidak membuat orang kaya”. Sikap menganggap remeh syariat inilah yang bisa menyebabkan seseorang murtad secara I’tiqadi (keyakinan) dan wajib melakukan syahadat ulang.

Bahaya Lisan: “Buat Apa Shalat?”

Senjata syaitan bukan hanya membuat kita sibuk, tapi juga meracuni logika kita. Syaitan sering membisikkan bahwa ibadah lahiriah (seperti gerakan shalat) tidak lebih penting daripada ibadah sosial. Ustadz menegaskan, jika seseorang mulai berani berucap atau meyakini bahwa syariat shalat adalah sia-sia, maka ia telah menantang ketetapan Allah yang mutlak. Shalat adalah rukun Islam yang paling utama setelah syahadat, dan memuliakan syariat ini adalah bagian dari menjaga keimanan kita agar tetap utuh.

Rasulullah SAW juga menekankan bahwa shalat adalah pembeda yang sangat nyata antara seorang Mukmin dengan kekafiran:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

Artinya: “Pembatas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Solusi: Memuliakan Syariat untuk Keselamatan Akhirat

Agar terhindar dari bahaya murtad tanpa sadar, kita harus menanamkan rasa hormat yang tinggi terhadap syariat Allah. Jangan pernah membandingkan hasil duniawi dengan kewajiban ukhrawi. Shalat bukan tentang apakah kita sukses di dunia, tapi tentang ketaatan hamba kepada Penciptanya. Dengan memuliakan shalat, kita sedang memagari iman kita dari gangguan syaitan yang ingin menyeret kita keluar dari cahaya Islam.