Kembalinya Kebiasaan Buruk Setelah Lebaran

Salah satu indikator yang patut diwaspadai oleh Sahabat MQ adalah ketika perilaku maksiat yang sempat berhenti di bulan puasa, justru kembali dilakukan dengan intensitas yang sama atau bahkan lebih parah. Ramadhan seharusnya menjadi momentum penghancur tabiat buruk, bukan sekadar jeda waktu istirahat dari dosa. Jika lisan kembali tajam dan hati kembali dengki, itu adalah sinyal peringatan bagi kualitas alumni kita.

Perubahan perilaku merupakan cermin dari diterimanya sebuah amal saleh di sisi Allah SWT. Para ulama menyebutkan bahwa balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Maka, jika Sahabat MQ merasa jauh lebih mudah melakukan ketaatan di bulan Syawal, itu adalah kabar gembira yang patut disyukuri sebagai tanda keberkahan.

Allah SWT mengingatkan pentingnya konsistensi dalam ketaatan melalui Surah An-Nahl ayat 92:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًا

Artinya: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali.” Ayat ini menjadi tamparan bagi Sahabat MQ agar tidak merusak bangunan ibadah yang telah disusun rapi selama Ramadhan.

Merasa Puas dengan Amal yang Sedikit

Bahaya laten lainnya adalah munculnya rasa puas diri atau ujub atas pencapaian ibadah selama satu bulan penuh. Sahabat MQ mungkin merasa sudah cukup beramal sehingga merasa aman dari siksa neraka, padahal tidak ada jaminan pasti amal tersebut sempurna di mata-Nya. Rasa takut jika amal ditolak seharusnya lebih besar daripada rasa bangga karena telah khatam Al-Qur’an.

Hati yang sehat akan selalu merasa haus akan amalan tambahan dan selalu merasa kurang dalam pengabdian. Sebaliknya, alumni yang “gagal” akan cenderung meremehkan dosa-dosa kecil setelah Ramadhan berakhir. Sahabat MQ perlu menjaga keseimbangan antara rasa harap (raja’) dan rasa takut (khauf) agar tetap terjaga dalam jalur hidayah.

Nabi SAW sering berdoa agar hati tidak melenceng setelah diberi petunjuk:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya: “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR. Tirmidzi). Doa ini sangat relevan bagi Sahabat MQ untuk menangkal rasa puas diri yang menghancurkan pahala.

Hilangnya Rasa Manis dalam Beribadah

Pernahkah Sahabat MQ merasakan shalat yang terburu-buru atau bacaan Al-Qur’an yang terasa hambar setelah Idulfitri? Hilangnya kenikmatan dalam berkomunikasi dengan Allah adalah salah satu tanda bahwa hati mulai tertutup oleh kesibukan duniawi lagi. Alumni Ramadhan yang sukses akan selalu merindukan momen-momen syahdu saat bersujud di tengah malam.

Kehilangan rasa manis iman biasanya disebabkan oleh kurangnya penjagaan pandangan dan hati dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Sahabat MQ diharapkan tetap melatih kepekaan batin agar getaran iman tetap terasa meski suasana Ramadhan telah berganti. Kualitas shalat yang terjaga menunjukkan bahwa didikan “Madrasah Ramadhan” benar-benar meresap.

Dalam Surah Al-Anfal ayat 2, Allah menggambarkan karakteristik orang beriman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.” Inilah standar yang harus terus dikejar oleh Sahabat MQ sebagai alumni sejati.