Sahabat MQ, pernahkah merasa heran melihat seseorang yang ibadahnya berantakan namun hartanya terus melimpah dan urusannya selalu lancar? Fenomena ini sering kali membuat hati kita bertanya-tanya tentang keadilan takdir. Melalui Kajian Al-Hikam bersama K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), kita diingatkan untuk tidak silau dengan kemewahan lahiriah semata. Bisa jadi, kemudahan yang datang bertubi-tubi tanpa dibarengi ketaatan adalah sebuah jebakan halus yang disebut istidraj sebuah kondisi di mana Allah membiarkan hamba-Nya larut dalam kesenangan dunia agar semakin jauh dari kasih sayang-Nya.
Mengenal Jebakan Istidraj dalam Kenikmatan
Dunia ini hanyalah panggung ujian, dan tidak semua pemberian Allah adalah tanda cinta-Nya. Sahabat MQ perlu waspada jika merasa segala urusan duniawi terasa sangat mudah, namun di saat yang sama hati terasa hampa, keras, dan malas melakukan zikir. Aa Gym menjelaskan bahwa kenikmatan dunia yang diberikan kepada pelaku maksiat adalah bentuk hukuman yang terselubung. Ketika seseorang merasa “aman” meski terus berbuat dosa, saat itulah ia sedang ditarik perlahan menuju kehancuran yang sangat menyakitkan karena ia kehilangan rasa butuh kepada Allah Sang Pemilik Segalanya.
Jebakan ini sering kali tidak disadari karena mata manusia cenderung hanya melihat angka di saldo bank atau kemegahan fisik bangunan. Padahal, karunia yang sejati adalah karunia yang membuat kita makin mengenal Allah dan makin takut akan murka-Nya. Jika kesuksesan bisnis atau jabatan yang tinggi justru membuat kita merasa sombong dan merasa semua itu murni hasil kerja keras sendiri, maka itulah awal mula titik kritis iman kita. Kita harus sering melakukan audit terhadap niat dan cara kita mendapatkan setiap nikmat, agar kita tidak menjadi hamba yang tertipu oleh bayang-bayang kesenangan semu yang fana.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan keras dalam Al-Qur’an mengenai kaum yang melupakan peringatan-Nya namun justru dibukakan pintu-pintu kesenangan dunia. Allah berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 44:
فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوٓا۟ أَخَذْنَٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
Tanda-Tanda Hati yang Mulai Terjebak Dunia
Ada indikasi kuat yang bisa kita rasakan jika mulai terjebak dalam arus istidraj, salah satunya adalah rasa pelit yang semakin tumbuh meskipun harta bertambah secara nominal. Sahabat MQ, cobalah hitung kembali, jika dulu saat penghasilan kecil kita mampu bersedekah sepuluh persen, mengapa sekarang saat penghasilan besar kita hanya menyisihkan satu persen? Aa Gym menekankan bahwa bertambahnya angka sedekah belum tentu menunjukkan kedermawanan jika persentasenya terhadap harta yang Allah titipkan justru menurun drastis. Sifat takut miskin yang berlebihan di tengah kelimpahan harta adalah sinyal kuat bahwa hati kita mulai terjangkit penyakit cinta dunia.
Selain masalah harta, indikator lainnya adalah menurunnya kualitas salat dan hilangnya semangat untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Jika kita merasa tidak ada yang salah saat melewatkan salat berjamaah di masjid atau merasa biasa saja saat tidak membaca Al-Qur’an selama berhari-hari, maka itulah musibah yang nyata. Kenikmatan dunia yang kita dapatkan tidak sebanding dengan hilangnya kelezatan dalam bermunajat kepada Allah. Orang yang terkena istidraj biasanya akan sulit melihat aib dan dosanya sendiri; ia selalu merasa benar karena merasa “diberkati” dengan segala kesuksesan materi yang ia miliki saat ini.
Rasulullah ﷺ memberikan panduan yang sangat jelas bagi kita untuk mengenali kondisi ini agar tidak terlena dalam kelalaian. Beliau bersabda dalam sebuah hadis:
إِذَا رأَيْتَ اللَّه تَعالى يُعْطِي العَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّما هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
“Apabila engkau melihat Allah Ta’ala memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba yang ia sukai padahal ia terus bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu hanyalah istidraj (jebakan).” (HR. Ahmad).
Kembali ke Jalur Syukur dan Tobat yang Hakiki
Satu-satunya jalan keluar agar terhindar dari bahaya istidraj adalah dengan memperbanyak istigfar dan senantiasa menangisi dosa-dosa yang telah diperbuat. Sahabat MQ, ciri utama orang yang dicintai oleh Allah adalah orang yang dimudahkan untuk bertobat dan menyadari kekurangannya. Jangan sampai kita memiliki segalanya di dunia, namun di mata Allah kita adalah hamba yang bangkrut karena kehilangan hidayah. Menangis karena merasa jauh dari Allah jauh lebih mulia daripada tertawa di atas tumpukan harta yang didapat dengan cara yang melalaikan ibadah serta mengabaikan hak-hak sesama.
Mari kita jadikan setiap tambahan nikmat sebagai pemacu untuk lebih rajin bersujud, lebih dermawan, dan lebih rendah hati. Jika bisnis lancar, pastikan zikir kita pun makin lancar; jika jabatan naik, pastikan kedermawanan kita pun ikut naik. Ingatlah bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan diukur dari seberapa panjang gelar akademisnya atau seberapa megah rumahnya, melainkan dari seberapa besar rasa takutnya kepada Allah dalam setiap gerak-geriknya. Rida Allah adalah tujuan utama, sementara dunia hanyalah alat yang harus kita gunakan untuk mencapai kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak.
Ketahuilah bahwa setiap ketaatan yang konsisten, meskipun sedikit, jauh lebih dicintai oleh Allah daripada amal besar yang dilakukan hanya sesekali tanpa keikhlasan. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus (konsisten) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).