dt peduli

MQFMNETWORK.COM | SUKABUMI – Musibah kebakaran hebat melanda Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu (25/7/2026). Dalam waktu singkat, kobaran api menghanguskan puluhan rumah adat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat turun-temurun. Di tengah duka yang menyelimuti para penyintas, DT Peduli bergerak cepat melakukan asesmen, berkoordinasi dengan berbagai pihak, serta menyalurkan bantuan darurat untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga terdampak.

Bencana tersebut tidak hanya menyebabkan hilangnya tempat tinggal, tetapi juga mengancam keberlangsungan kehidupan masyarakat adat yang selama ini menggantungkan hidup pada hasil pertanian dan lumbung pangan tradisional. Hingga Ahad (26/7/2026), proses penanganan darurat masih terus dilakukan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, serta tokoh adat setempat.

Puluhan Rumah Adat Hangus Terbakar, Ratusan Warga Kehilangan Tempat Tinggal

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari lokasi kejadian, kebakaran diduga bermula dari korsleting listrik di area MCK umum yang berada di dekat Rumah Gede (Imah Gede), salah satu bangunan penting di kawasan Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya.

Api pertama kali diketahui oleh sejumlah anak yang sedang berada di sekitar lokasi. Dalam hitungan menit, kobaran api membesar dan sulit dikendalikan. Material bangunan yang didominasi kayu serta atap ijuk, ditambah embusan angin yang cukup kencang dan posisi rumah yang berdempetan, membuat api dengan cepat merambat ke bangunan lain.

Data sementara dari BPBD Kabupaten Sukabumi mencatat sedikitnya 51 rumah mengalami rusak berat akibat kebakaran tersebut. Sebanyak 70 kepala keluarga atau sekitar 210 jiwa terdampak dalam peristiwa ini.

Tidak hanya rumah warga, kebakaran juga menghanguskan 49 lumbung padi yang selama ini menjadi tempat penyimpanan cadangan pangan masyarakat adat. Kehilangan lumbung tersebut menjadi tantangan tersendiri karena menyangkut ketahanan pangan warga dalam beberapa bulan ke depan.

Kini, sebagian besar kawasan Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya berubah menjadi puing-puing. Sementara menunggu proses pendataan lanjutan dan penanganan dari pemerintah, sebagian besar penyintas memilih mengungsi secara mandiri ke rumah sanak saudara maupun kerabat terdekat.

BPBD Kabupaten Sukabumi bersama pemerintah daerah masih melakukan verifikasi data kerusakan serta menghitung besaran kerugian sebagai dasar penyusunan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi.

Penyintas Hanya Selamat dengan Pakaian yang Melekat di Badan

Di balik besarnya kerugian material, tersimpan kisah pilu yang dialami para penyintas. Kobaran api yang begitu cepat membuat banyak warga tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan barang-barang berharga mereka.

Sebagian besar hanya sempat menyelamatkan diri bersama anggota keluarga. Bahkan, pakaian yang dikenakan saat berlari meninggalkan rumah menjadi satu-satunya yang mereka miliki setelah kebakaran.

Salah seorang ibu penyintas menceritakan bahwa dirinya tidak sempat membawa apa pun ketika api mulai membesar.

“Baju yang dipakai pun hanya baju lusuh. Biasanya kalau ke sawah membawa baju ganti. Ah, karena malam Minggu ke sawahnya tidak membawa baju ganti, cuma itu-itunya saja yang ada. Sandal pun sandal yang paling jelek yang dipakai berjalan,” tuturnya dalam bahasa Sunda.

Kesaksian tersebut menggambarkan besarnya kehilangan yang dirasakan warga. Dalam sekejap, rumah, pakaian, peralatan rumah tangga, hingga hasil jerih payah yang dikumpulkan selama bertahun-tahun habis dilalap api.

DT Peduli Salurkan Bantuan Darurat dan Dampingi Proses Penanganan Penyintas

Merespons musibah tersebut, Tim Kemanusiaan DT Peduli yang terdiri atas Gin Gin, Ardlyansah, dan Rizal langsung diterjunkan ke lokasi sejak hari pertama kejadian.

Setibanya di lokasi, tim segera melakukan asesmen kebutuhan penyintas, berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sukabumi, serta bergabung bersama relawan lintas organisasi untuk mempercepat penanganan darurat.

Pada tahap awal respons bencana, DT Peduli menyalurkan 200 paket makanan siap santap serta lima dus air mineral bagi warga terdampak. Bantuan tersebut menjadi kebutuhan mendesak mengingat sebagian besar penyintas kehilangan akses terhadap bahan makanan dan fasilitas memasak.

Selain mendistribusikan bantuan logistik, relawan DT Peduli juga terlibat dalam proses evakuasi padi dari lumbung yang masih dapat diselamatkan. Bersama warga, mereka memindahkan hasil panen ke lokasi yang lebih aman agar tidak ikut terbakar.

Aksi kemanusiaan dilanjutkan dengan kegiatan pembersihan area terdampak untuk membantu warga memulai proses pemulihan lingkungan pascakebakaran.

Akses Sulit dan Kebutuhan Penyintas Masih Sangat Besar

Meski bantuan mulai berdatangan, proses penanganan di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan.

Lokasi Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya yang berada di kawasan pegunungan dengan akses jalan sempit membuat distribusi logistik tidak dapat dilakukan secara optimal. Kendaraan pengangkut bantuan harus menyesuaikan kondisi medan agar bantuan dapat sampai kepada warga.

Di sisi lain, sejumlah lumbung padi masih menyisakan bara api sehingga relawan bersama masyarakat terus melakukan proses pendinginan guna mencegah munculnya titik api baru.

Persoalan lain yang turut dihadapi adalah terbatasnya akses air bersih. Jalur pipa yang mengalirkan air dari mata air pegunungan mengalami kerusakan akibat kebakaran sehingga kebutuhan air bersih bagi penyintas menjadi perhatian utama dalam penanganan darurat.

Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, para penyintas masih membutuhkan berbagai bantuan, di antaranya makanan siap santap, air minum, pakaian layak pakai, pakaian dalam, selimut atau sarung, perlengkapan kebersihan, perlengkapan ibadah, masker, alat pelindung diri untuk kegiatan pembersihan, serta peralatan seperti sekop, cangkul, pengki, dan karung sampah untuk mendukung proses pemulihan lingkungan.

DT Peduli Terus Berkoordinasi untuk Percepat Pemulihan Kampung Adat

DT Peduli memastikan akan terus mendampingi masyarakat Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya selama proses tanggap darurat hingga tahap pemulihan.

Koordinasi dilakukan bersama BPBD Kabupaten Sukabumi, pemerintah daerah, relawan, serta para sesepuh adat Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi agar proses pendataan penyintas maupun penyaluran bantuan berikutnya dapat berjalan tepat sasaran sesuai kebutuhan masyarakat.

Tim Kemanusiaan DT Peduli berharap proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat sehingga warga dapat kembali membangun tempat tinggal dan melanjutkan aktivitas kehidupan mereka.

Gin Gin, salah seorang relawan DT Peduli, turut mengajak masyarakat untuk mendoakan kelancaran proses bantuan bagi para penyintas.

“Mohon doanya, mudah-mudahan nanti akan ada kegiatan bantuan yang akan kami salurkan kepada mereka yang terdampak di Kampung Adat Sirnaresmi dan Kampung Adat Ciptamulya, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Mohon doa dari rekan-rekan dan para donatur sekalian agar kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Musibah yang menimpa Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya menjadi pengingat bahwa bencana dapat datang tanpa diduga. Di balik kehilangan yang dialami para penyintas, hadirnya kepedulian dari masyarakat, para donatur, relawan, dan berbagai lembaga menjadi sumber harapan untuk bangkit kembali.

Melalui kolaborasi kemanusiaan yang terus diperkuat, DT Peduli berkomitmen untuk terus menghadirkan pendampingan bagi para penyintas, memastikan bantuan tersalurkan dengan tepat, serta mendukung proses pemulihan agar masyarakat Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

(Agus ID)