Keluar Dari Lingkungan Toxictivity Dalam Ruang Lingkup Keluarga Besar
Sahabat MQ, pernahkah Anda mengalami suasana keluarga yang terasa toxic? Dalam Al-Qur’an memang tidak ditemukan istilah toxic, namun istilah ini dapat kita gunakan selama tidak bertentangan dengan nilai Islam. Secara bahasa, toxic berarti racun yang merusak. Dalam konteks perilaku, toxic diartikan sebagai sikap yang merugikan diri sendiri sekaligus merusak lingkungan sekitarnya.
Sesungguhnya, setiap orang yang berbuat maksiat atau melakukan keburukan, kerugiannya bukan untuk orang lain, melainkan kembali pada dirinya sendiri. Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya, QS. Al-Furqan ayat 20:
وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةًۗ اَتَصْبِرُوْنَۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًاࣖ ٢٠
“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti menyantap makanan dan berjalan di pasar. Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Tuhanmu Maha Melihat.”
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap orang adalah ujian bagi orang lain. Demikian pula orang-orang toxic di sekitar kita, mereka hadir sebagai bagian dari ujian kehidupan. Tantangannya ada pada bagaimana cara kita menyikapi. Ciri khas orang toxic biasanya manipulatif dan suka mempengaruhi orang lain. Namun sejatinya, kerusakan itu bersumber dari penyakit hati yang ada dalam dirinya. Karena itu, cara terbaik menghadapi orang toxic adalah :
1.Memaafkan, demi menjaga kesehatan jiwa.
2.Membatasi interaksi yang tidak perlu, agar tidak larut dalam energi negatif.
3.Menguatkan hubungan dengan Allah, melalui salat malam, doa, dan ibadah lainnya.
Dengan pendekatan ini, kita terhindar dari siklus negatif dan tetap menjaga ketenangan batin. Suasana keluarga yang sehat adalah fondasi penting untuk menumbuhkan kepercayaan, keharmonisan, dan kebahagiaan. Sebaliknya, keluarga yang toxic dapat melemahkan kepercayaan diri serta meretakkan hubungan.
Selain itu, perbedaan pola asuh dan campur tangan keluarga besar sering kali menjadi pemicu konflik. Solusi yang bijak adalah dengan membangun komunikasi terbuka, menetapkan batasan yang jelas, serta memilih waktu dan tempat yang tepat untuk berkumpul. Dengan begitu, kita dapat menjaga kehormatan dan ketenteraman keluarga.
Program : Inspirasi Keluarga – Keluarga Bahagia
Narasumber : Teh Sasa Esa Agustiana|
Penyiar : Syifa – Alvi (MQFM YOGYAKARTA)