Sakit sebagai Ujian dan Kesabaran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Sakit adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seseorang sakit, seharusnya ia selalu bersabar dan yakin bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis Bukhari:
“كُلُّ دَاءٍ لَهُ دَوَاءٌ”
(Setiap penyakit ada obatnya).
Penyembuhan terjadi ketika obat yang tepat bertemu dengan penyakit tersebut, dan hal ini hanya bisa terjadi dengan izin dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, saat sakit, yang pertama kali harus diingat dan disebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hanya Dia yang Maha Menyembuhkan. Ada kisah seseorang yang sudah berobat ke berbagai tempat, bahkan ke luar negeri dengan biaya mahal, namun penyakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mencoba ruqyah syariah, ia disembuhkan oleh Allah pada hari yang sama. Ini menunjukkan bahwa kesembuhan adalah karunia Allah, tidak selalu bergantung pada mahalnya obat. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga mengajarkan agar ketika sakit, kita memohon pertolongan Allah dengan sabar dan shalat. Dalam tafsir Ibnu Katsir terhadap surah Al-Baqarah ayat 45, diceritakan bahwa Abu Hurairah radhiallahu anhu yang sedang sakit perut diperintahkan Rasulullah untuk berwudu dan salat, lalu sakitnya sembuh dengan izin Allah. Ini menegaskan bahwa shalat adalah salah satu ikhtiar yang sangat dianjurkan untuk memohon kesembuhan. Selain itu, ada kisah lain tentang seseorang yang sembuh hanya dengan minum obat sederhana yang dibeli di warung, setelah membaca doa dan surat-surat pendek seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Ini menegaskan bahwa kesembuhan tidak harus mahal, karena ketika Allah berkehendak menyembuhkan, maka penyakit akan hilang dengan izin-Nya.
Yakinlah bahwa tidak ada penyakit yang abadi dan pasti ada obatnya. Allah menurunkan penyakit bersamaan dengan obat dan penangkalnya. Jika belum sembuh, itu berarti obat yang tepat belum ditemukan, sehingga kita harus terus berikhtiar dan berdoa kepada Allah. Allah sangat senang ketika hamba-Nya berdoa dan memohon kesembuhan.
Dalam hadits Arbain, disebutkan bahwa ketika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menjadi tangannya saat memegang, matanya saat melihat, dan akan mengabulkan doanya, termasuk doa kesembuhan.
Doa tidak hanya boleh dilakukan setelah shalat, tetapi kapan saja dan di mana saja, baik saat berdiri, duduk, maupun berbaring, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran: “Ingatlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191). Berdoa adalah tanda kebutuhan dan cinta kepada Allah, dan Allah sangat menyukai hamba yang selalu berdoa. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mencontohkan berdoa dalam setiap aktivitas, seperti sebelum tidur, bangun tidur, masuk dan keluar kamar mandi, sebelum dan sesudah makan, dan lain-lain. Ingat kepada Allah saat sedih akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan. Selain kesembuhan fisik, hati yang keras juga perlu diobati. Penyebab hati keras bisa karena kurang zikir, makan makanan yang syubhat atau haram, kesombongan, dan lain-lain.
Program: Inspirasi Malam – Kajian Tematik
Narasumber: Ustadz Jamaluddin
Penyiar: Ahmad Aliudin