Pentingnya Menyelesaikan Urusan Antar Sesama
Sahabat MQ, penderitaan di neraka bisa dipicu bukan hanya karena hubungan kita dengan Allah, tapi juga kezaliman terhadap manusia. Jika kita memiliki kesalahan kepada orang lain, segeralah minta maaf di dunia. Jangan sampai pahala amal saleh kita habis “dirampok” oleh orang-orang yang kita zalimi saat di padang mahsyar nanti.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bertanya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab orang yang tidak punya uang. Beliau menjelaskan: “Orang yang bangkrut adalah yang datang membawa pahala salat dan puasa, namun ia pernah mencaci dan menzalimi orang lain, sehingga pahalanya diberikan kepada orang tersebut.” (HR. Muslim).
Belajar dari Kerinduan Ukasyah bin Mihshan
Ada sebuah kisah menyentuh tentang Sahabat Ukasyah yang ingin membalas perbuatan Rasulullah yang tidak sengaja mengenai punggungnya. Sahabat MQ, di balik permintaannya yang tampak berani, ternyata tersimpan cinta yang mendalam. Ia hanya ingin kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit suci Rasulullah agar terhindar dari api neraka.
Ukasyah bin Mihshan adalah orang yang didoakan Rasulullah:
“Ya Allah, jadikanlah dia termasuk di antara mereka (70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab).” (HR. Bukhari).
Menanam Bekas Sujud dalam Akhlak Mulia
Sahabat MQ seringkali mengartikan “bekas sujud” hanya sebagai tanda fisik di dahi. Padahal, bekas sujud yang sesungguhnya adalah terpancarnya cahaya iman melalui akhlak yang ramah, sikap kasih sayang sesama muslim, dan ketegasan dalam kebenaran. Inilah tanda yang akan menyelamatkan kita di hadapan Allah kelak.
Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Fath ayat 29:
سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِۗ
Artinya: “Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.” Semoga kita semua, Sahabat MQ, termasuk dalam golongan yang wajahnya bersinar karena sujud dan ketaatan.