Lisanku Pertanggungjawabanku
Berbicara adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Dengan lisan, manusia bisa saling berkomunikasi, menyampaikan gagasan, menebar kebaikan, bahkan menenangkan hati orang lain. Namun, di sisi lain, lisan juga bisa menjadi sumber petaka bila tidak dijaga. Tidak sedikit orang yang celaka bukan karena perbuatannya semata, tetapi hanya karena kata-kata yang diucapkan tanpa di pertimbangan.
Oleh sebab itu, berbicara dengan baik menjadi perkara yang sulit, tetapi sangat mulia untuk diusahakan. Seorang Muslim sejatinya diarahkan untuk selalu menahan diri. Jika tidak bisa berkata baik, maka yang lebih utama itu diam. Lisan yang terjaga seharusnya dipenuhi dengan dzikrullah, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan doa yang menenangkan jiwa.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT pada Surat Qaf ayat 18 :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap ucapan sekecil apa pun tidak pernah luput dari pengawasan malaikat. Tidak ada satu huruf pun yang keluar dari lisan kecuali akan ditulis dengan teliti, lalu dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak.
Demikian pula dalam Surat Al-Mulk ayat 13, Allah SWT berfirman :
وَاَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ اَوِ اجْهَرُوْا بِهٖۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ
“Rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
Ayat ini menunjukkan bahwa baik ucapan yang disembunyikan maupun yang dinyatakan terang-terangan, semuanya berada dalam ilmu Allah SWT. Bahkan isi hati yang belum terucap pun telah diketahui-Nya.
Nabi Muhammad SAW telah menegaskan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim :
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam menjaga lisan. Beliau tidak pernah mengucapkan sesuatu kecuali penuh makna, penuh hikmah, dan bermanfaat.
Kita perlu menjaga lisan setiap saat. Tidak ada waktu di mana lisan bebas tanpa pertanggungjawaban. Baik saat berbincang dengan keluarga, ketika berada di tengah masyarakat, bahkan saat kita menulis di media sosial. Semua itu adalah bagian dari “ucapan” yang akan dipertanggungjawabkan. Karena kualitas keislaman seseorang salah satunya dinilai dari lisannya. Seorang Muslim yang baik adalah ia yang meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. Bahkan banyak ulama mengatakan, menjaga lisan lebih berat daripada menjaga anggota tubuh lain, sebab lisan lebih mudah tergelincir.
Adapun cara agar kita bisa menjaga lisan dengan baik salah satu kuncinya adalah dengan memperbanyak diam. Di balik diam terdapat banyak keutamaan, di antaranya :
- Mendatangkan ketenangan hati, karena tidak semua hal harus direspons dengan kata-kata.
- Melahirkan kebijaksanaan, sebab orang yang diam biasanya lebih banyak merenung dan mempertimbangkan.
- Menambah ilmu pengetahuan, karena orang yang banyak diam memiliki kesempatan lebih besar untuk mendengar dan belajar.
- Memuliakan akhlak, karena lisan yang terjaga mencerminkan hati yang bersih.
Sahabat MQ, menjaga lisan adalah pekerjaan seumur hidup. Tidak ada kata lain selain terus berlatih. Mulailah dari hal sederhana: biasakan berkata yang baik, jauhi perkataan sia-sia, hindari ghibah, fitnah, dan kata-kata yang menyakitkan. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita agar lisan ini menjadi sarana kebaikan, bukan jalan kebinasaan.
Program : MQ Pagi
Narasumber : KH. Abdullah Gymnastiar
Pernyiar : Irfan Nurfalah